Kaum Buruh Harus Berserikat

Foto: (Ist)

“Dengan banyaknya organisasi buruh, kerentanan serikat buruh untuk dipecah belah semakin terbuka”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Mengapa kaum buruh harus berserikat? Karena dengan bersatu dan kebersamaan apa saja yang hendak diperjuangkan bisa dicapai dan diraih. Kelemahan kaum buruh di dunia (jadi tak hanya di Indonesia) karena kaum buruk tidak bersatu dalam serikat buruh.

Setidaknya masing-masing tokoh hendak tampil sendiri, enggan bergabung dalam kebersamaan dengan organisasi lain. Akibatnya pun jumlah organisai buruh semakin banyak jumlahnya karena enggan bergabung dengan organisasi buruh yang sudah ada sebelumnya.

Dengan banyaknya organisasi buruh, kerentanan serikat buruh untuk dipecah belah semakin terbuka. Kecuali itu pun  kecenderungan untuk bersaing sesama organisasi buruh semakin membuat keruh masalah buruh yang harus segera diatasi agar kaum buruh tidak menjadi korban.

Dalam organisasi buruh sangat disayangkan  juga masih ada keinginan untuk memaksakan kehendak secara sepihak, sehingga dominan menimbulkan perpecahan internal dalam organisasi buruh yang sudah ada.

Pada dasarnya pertumbuhan dari jumlah organisasi buruh yang ada, sangat dominan (jika tidak bisa dijatakan seluruhnya) lahir dari organisasi buruh yang sudah ada sebelumnya adalah akibat dari perpecahan organisasi kaum buruh yang ada.

Oleh karena itu, selama eksponen serikat buruh tidak mampu dan tidak mau menahan diri agar tidak sampai terjadi perselisihan serta perseteruan, maka masalah kaum buruh yang paling substansial sifatnya tidak mungkin mampu diatasi.

Masalah kaum buruh Indonesia adalah tidak kompak. Tidak sungguh-sungguh menyadari bahwa kebersamaan itu sebagai anak kunci dari cara terbaik membongkar kebobrokan atau bahkan penindasan terhadap buruh yang cuma dilihat sebagai bagian dari mesin atau akar produksi semata untuk melipat gandakan modal atau kekayaan para pengusaha.

Sementara penguasa selalu siap berada dibelakangnya sambil menadahkan tangan yang tidak mungkin dapat mereka peroleh dari kaum buruh. Sebab kaum buruh yang telah mengucurkan keringat dari sekujur tubuhnya di perusahaan belum bisa memenuhi kebutuhan dirinya sendiri apalagi bersama keluarga dengan upah yang masih ditikar dengan bilangan minimum itu.

Edt: Redaksi (AN)