Kegelisahaan menggelayut Dan Selamat Datang Ramadhan

Foto: (Doc. Muslim Arbi)

“Berita pembunuhan dan kematian di atas membuat sangat miris dan prihatian atas nasib negeri ini”

Oleh: Muslim Arbi (Gerakan Perubahan)

Jakarta (Bintangtimur.net) – Saya betul-betul gelisah dan resah menyambut Ramadhan tahun ini. Betapa tidak: Pemilu 17 Apri lalu menciptakan onar dan ketegangan di masyarakat. Pembunuhan kiai, saksi-saksi di KPPS dan ratusan kpps mati juga ribuan yang masih tergeletak sakit di Rumah Sakit.

Yang mati katanya akibat kelelahan. Tapi di bantah oleh Dr Umar Zein dari Medan. Kelelahan bukan penyebab orang mati. Juga batahan dari Mer-C: “Kematian jarang karena penyebab kelelahan”.

Pembunuhan secara sadis atas seorang Kiai di Bogor Jawa Barat dan pelakunya di hakimi massa di ikat, dan pembunuhan dengan cara di bacok atas saudara Ade Samsul Hehanusa saksi PAS (Prabowo-Sandi) Kecamatan Amalatu, Ambon, Maluku, setelah lakukan tugas di PPK seperti yang tersebar di Medsos.

Juga 424 petugas KPPS yang mati seperti yang di beritakan oleh berbagai media. Tapi tanggapan Jokowi: “Korban Yang meninggal itu sudah takdir jangan di perpanjang lagi”. Tempo (4/4). Sebagai kepala negara, kepala pemerintahan rasanya tidak cukup dengan melemparkan ke taqdir atas kematian ratusan anggotan KPPS itu. Sejumlah kalangan mendesak di utus atas kematikan yang konon karena kelelahan itu.

Berita pembunuhan dan kematian di atas membuat sangat miris dan prihatian atas nasib negeri ini. Dimana pemimpin negaranya cenderung cuek atas nasib nyawa ratusan petugas pemilu yang meregang. Juga pembataian sadis seperti yang di alami oleh saudara Almarhum Ade Samsul Hehanusa di Ambon itu. (Semoga Sdr Ade Samsul Hehanusa menjadi Syuhada, aamiin).

Foto: (Alm. Ade Samsul Hehanusa)

Mereka-mereka itu adalah anak-anak bangsa yang berjuang untuk masa depan yang lebih baik atas negeri ini. Tapi kenapa harus saling bantai? Dan kepala negaranya hanya beralasan itu sudah taqdir?.

Melalui tulisan ini mendesak aparat kepolisian agar usut tuntas atas tragedi kematian seperti di sebutkan. Dan juga lakukan penyeledikan tuntas atas ratusan petugas KPPS yang mati akibat kelelahan yang sudah di bantah oleh para dokter.

Saya khawatir efek dari Pilpres ini berkelanjutan dengan saling bunuh dan saling curiga atas anggota masyarakat. Apalagi sejumlah kecurangan yang di rasakan oleh salah satu pasangan calon. Seperti yang di ungkap di Bawaslu dan KPU serta di sejumlah Forum Diskusi dan di media massa. Hal itu tidak boleh terjadi.

Dan terlebih lagi menurut mantan panglima TNI Jendral Gatot Nurmantio sinyalir senjata di gudang-gudang TNI di keluarkan untuk Polisi? Apakah itu dipersiapkan untuk hadapi kekuatan rakyat jika terjadi People Power?.

Keresahan soal keamanan dan ketenangan di bulan suci ini benar-benar terancam. Jika rezim ini memang sengaja membiarkan situasi ini makin mencekam.

Sejumlah aktivis malah sudah yakinkan para Jama’ah nya. Agar tidak perlu takut untuk berjihad jika kebenaran dan keadilan telah lenyap dan kezaliman yang menang.

Nah, apakah akan terjadi konflik horizontal yang sengaja di design dengan cara KPU menangkan paslon Petahana 01 meski kecurangan Pemilu itu sangat nyata dan tak terbantahkan?.

Atau memang design kekacauan itu sudah dipersiapkan karena rezim kalah dengan suara-suara rakyat yang inginkan perubahan #GantiPresiden 2019 saat Pilpres ini? Dan demi perpanjang kekuasaan maka suasana Chaostic akan di ciptakan untuk Situasi Darurat Sipil, demi langgeng kekuasaan Petahana? Hanya Istana dan Koalisinya yang mampu menjawab kegelisahan dan keresahan ini.

Edt: Redaksi (AN)