Kejadian Surabaya, Natalius Pigai: Jangan Coba-coba Masuki Garis Merah

Foto: (Ist)

“Pigai meminta Kapolri Jenderal Tito Karnavian memerintahkan Kapolda Jawa Timur agar mengawal dan memastikan proses hukum itu”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Pernyataan-pernyataan hinaan dan rasialis di depan asrama mahasiswa Papua di Surabaya hari Sabtu lalu (17/8) bentuk kekerasan verbal. Pelaku harus diproses secara hukum tanpa menunggu pengaduan korban.

Hal itu disampaikan  mantan anggota Komnas HAM Natalius Pigai, Senin (19/8).

Pigai meminta Kapolri Jenderal Tito Karnavian memerintahkan Kapolda Jawa Timur agar mengawal dan memastikan proses hukum itu.

Pigai menyayangkan, aparat penegak hukum tidak bertindak apa-apa terhadap kelompok massa yang melakukan kekerasan verbal pada mahasiswa asal Papua di depan asrama di Jalan Kalasan, Surabaya.

Ada kesan, justru aparat keamanan ikut memanas-manaskan suasana.

Kekerasan rasialisme adalah delik umum yang dilakukan di depan kepolisian,” ujar Natalius dalam perbincangan dengan redaksi.

Saya juga meminta Kapolri memerintahkan Kadiv Propam untuk memeriksa Kapolda dan Kepoltabes serta para anggota yang terlihat lalai membiarkan teror, intimidasi dan rasisme terhadap mahasiswa Papua. Bahkan membiarkan elemen sipil melakukan teror dan kekerasan verbal,” ujarnya.

Pigai juga meminta Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto untuk memeriksa kesatuan militer yang terlibat dalam tindakan rasisme.

Individu-individu berpakaian preman yang melakukan rasisme, kekerasan verbal dan teror terhadap mahasiswa Papua baik di Malang maupun Surabaya juga harus diproses secara hukum.

Sebagai pembela kemanusiaan, saya meminta soal suku jangan main-main. Soal harga diri dan martabat jangan coba-coba memasuki garis merah,” kata Pigai. 

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, juga diminta Pigai untuk memberikan sanksi tegas kepada Wakil Walikota Malang Sofyan Edi Jarwoko yang beberapa hari lalu memunculkan opsi memulangkan mahasiswa asal Papua ke Papua.

Edt: Redaksi (AN)