Kemanakah Ilmu Itu?

Foto: Doc. Anton. N

“Karena orang yang luar biasa bukanlah yang bergelimang harta. Tapi orang yang luar biasa adalah mereka yang menebarkan manfaat dalam hidupnya”

Oleh: Anton. N

Jakarta (Bintangtimur.net) – Saat sudah itu waktu sore hari. Matahari sudah berada diufuk barat dan sinar jingganya membakar bumi. Hamparan sawah yang hijau begitu indah saat sinar itu menerpanya.

Disana saya duduk sendiri disebuah saung yang berada tepat dipinggir sawah. Dengan ditemani secangkir kopi dan biskuit, pikiran saya jauh terbang melayang.

Seperti biasa, saya memikirkan tentang pahitnya hidup. Jujur, kadang saya merasa iri kepada mereka yang bisa berpendidikan tinggi diatas saya.

Tapi tak jarang juga kadang saya merasa miris terhadap generasi yang sebaya dengan saya pribadi. Mereka berpendidikan tinggi, tapi maaf, pemikiran mereka mungkin rendah. Sangat bertolakbelakang dengan pendidikannya.

Kenapa saya berpikir demikian? Apakah itu artinya saya merendahkan mereka? Jawabannya adalah tidak.

Saya sama sekali tidak merendahkan mereka. Tapi lebih tepatnya menyayangkan. Kenapa? Karena waktu yang digunakan untuk menuntut ilmu oleh mereka seolah tidak ada gunanya.

Benarkah? Benar. Mari kita lihat sesuai fakta. Tapi sebelum itu, disini saya hanya menyampaikan apa yang saya pikirkan dan memberikan sikap kritis.

Karena negara kita menganut sistem demokrasi, jadi saya berani menyampaikan pikiran saya yang terkadang liar ini.

Kita lihat fakta dalam kehidupan nyata, apakah sesuai dengan pemikiran saya atau tidak.

Setiap tahun, berapa banyak orang-orang yang lulus SMA dan jenjang pendidikan yang sederajat lainnya?

Setiap tahun, berapa banyak orang-orang yang lulus kuliah dari universitasnya masing-masing?

Apakah banyak? Sangat banyak. Lebih dari puluhan bahkan mungkin ratusan ribu dalam setiap tahunnya. Dan berapa banyak juga orang-orang yang lulus dari pesantren dan pendidikan agama lain setiap tahunnya?

Lalu, yang jadi masalahnya apa? Yang jadi masalah besar disini adalah kemana mereka semua? Apa hasilnya atas waktu yang mereka gunakan untuk menuntut ilmu selama ini? Kemanakah ilmu itu? Mau dibawa kemana ilmu itu?

Saya berani menjamin bahwa tidak lebih dari lima puluh persen dari orang-orang itu yang menggunakan ilmunya secara benar. Kebanyakan dari mereka tidak memanfaatkan ilmu yang dipelajarinya selama ini.

Jika semua orang-orang itu memanfaatkan ilmu mereka dengan benar, maka saya berani menjamin bahwa negara kita ini akan sangat maju dan melahirkan generasi-generasi muda yang sangat berbakat.

Jika mereka serius ketika menuntut ilmu, minimal mereka bakal menggunakan ilmu itu untuk diri sendiri dan orang-orang disekitarnya.

Jika orang-orang pesantren dan orang-orang lainnya yang lulus dari pendidikan agamanya masing-masing serius, maka saya yakin, banyak generasi-generasi muda yang berakhlak mulia. Ataupun minimal memiliki etika dan sopan santun yang tinggi.

Tapi faktanya apa? Harapan dan kenyataan memang tidak selalu sejalan. Khayalan saya dan kenyataan sungguh bertolakbelakang.

Siapa yang bisa disalahkan dalam hal ini? Apakah ilmunya? Apakah gurunya? Atau siapa?

Yang bersalahnya adalah mereka yang menuntut ilmu itu. Ilmunya tidak salah, tapi orangnya yang salah.

Kenapa saya katakan salah? Karena mereka tidak menggunakan ilmu itu secara benar tadi. Mereka tidak bisa memanfaatkan dan menerapkannua dalam kehidupan nyata.

Percuma menuntut ilmu bertahun-tahun jika tidak ada manfaat. Sadarlah kawan, kasihanilah orang tuamu yang sudah bertaruh nyawa demi dirimu.

Harapan mereka tidaklah banyak, hanya ingin dirimu bahagia dan mempunyai ilmu untuk bekal hidupmu. Lalu jika tidak ada hasil dari semua perjuangan itu, apa yang mereka rasakan? Kecewa kan?

Orang tuamu mungkin tidak bicara langsung. Tapi batinnya pasti kecewa atas apa yang sudah kau lakukan.

Maka dari itu, belajarlah mengingat kembali masa itu. Gunakanlah ilmumu untuk keberlangsungan hidupmu sendiri. Pakailau ilmu itu dengan benar dan tebarkan kepada orang banyak.

Karena orang yang luar biasa bukanlah yang bergelimang harta. Tapi orang yang luar biasa adalah mereka yang menebarkan manfaat dalam hidupnya.