Kematian Ayah Kepala Desa Jeke Diduga Karena Pembunuhan

Foto: Ist

“Pada waktu penemuan mayat, saya Linus Manao selaku anak kandung korban sedang berada di Pulau Tello”

Nias Selatan (Bintangtimur.net) – Pihak keluarga akhirnya angkat bicara atas kematian Jeduar Manao, ayah kandung dari Kepala Desa Jeke, Kecamatan Tanah Masa. Pria berusia 48 tahun tersebut diduga tewas akibat peristiwa pidana pembunuhan.

Berdasarkan press release yang di terima, dikabarkan Jeduar Manao ditemukan tewas pada hari Senin tanggal 27 Juli 2020 di sekitar perairan (laut), tak jauh dari pinggir pantai Bagugu Sialema, Kecamatan Hibala, Kabupaten Nias Selatan oleh masyarakat setempat. Pada saat ditemukan jenazah korban memperlihatkan tanda-tanda mencurigakan di antaranya terdapat beberapa luka/tusukan di tubuh korban, diduga akibat tindak kekerasan.

Sebelumnya korban dinyatakan hilang dan terakhir terlihat dalam kondisi hidup pada hari Selasa tanggal 7 Juli 2020 sekitar Pukul 16.00 Wib (Vide “Surat Kepala Desa Jeke Nomor 470/ 91 /31.2006/2020, tertanggal 8 Juli 2020 Tentang Keterangan Orang Hilang). Sebelum meninggalkan rumah ayah kandung Kepala Desa Jeke itu sempat berpamitan kepada istri berinisial TM. Kepada istri, korban mengaku hendak pergi memancing di sekitar perairan laut Desa Jeke.

Di hari yang sama, Selasa tanggal 7 Juli 2020 sekitar Pukul 17.30 WIB dua orang warga Desa Jeke masing-masing berinisial JH dan AH datang mengendarai perahu mesin yang umum dikenal dengan sebutan “robin”. Mereka mengaku baru pulang memancing dari Barogang. Di dalam robin tersebut terdapat jerigen milik korban yang dibawa korban ketika terakhir kali meninggalkan rumah.

Adanya jerigen milik korban di dalam robin pertama kali diketahui oleh keponakan kandung korban berinisial YD. JH dan AH mengaku kepada YD kalau jerigen tersebut mereka temukan di laut saat melintasi perairan hibala Desa Jeke, sejajar dengan kebun kelapa milik warga berinisial SB.

Hingga Pukul 20.00 WIB di hari yang sama, korban ternyata tidak kembali ke rumah sehingga pihak keluarga mengabarkan hal tersebut kepada masyarakat Desa Jeke lainnya. Bersama-sama dengan warga, pihak keluarga melakukan pencarian dengan berjalan kaki menyisir tepi pantai yang diprediksi sebagai lokasi korban terakhir kali memancing.

Meskipun lokasi pemancingan korban tidak diketahui dengan pasti, namun dapat diprediksi kalau korban memancing di sekitar sungai hibala. Prediksi ini didasarkan pada dua hal, pertama: Korban biasanya memancing di sekitar hibala, dan kedua: berdasarkan petunjuk dari lokasi penemuan jerigen oleh JH dan AH. Akan tetapi upaya pencarian gagal menumukan korban.

Pencarian yang berlangsung malam hari tersebut berhasil menemukan jala milik korban di atas pengasapan kelapa (kopra) yang oleh masyarkat setempat dikenal dengan sebutan “FANUNA” yang berjarak sekitar sepuluh meter dari pinggir pantai. Jala tersebut ditemukan oleh adik kandung korban berinisial RM dalam kondisi kering dan tidak mengeluarkan bau amis serta tidak menunjukkan tanda-tanda kalau jala tersebut telah digunakan untuk menangkap umpan seperti tidak adanya kerikil, rumput laut atau sampah laut yang tersangkut di jala.

Selain jala, pada waktu pencarian malam itu keponakan korban berinisial YM juga menemukan sebuah kacamata renang/selam berwarna dasar putih yang tidak diketahui siapa pemiliknya. Kaca mata tersebut ditemukan tergeletak di pinggir sungai Hibala. Setelah ditelusuri, kini pihak keluarga mengetahui siapa pemilik kaca mata tersebut.

Di hari kedua kehilangan yakni hari Rabu tanggal 8 Juli 2020 upaya pencarian kembali dilakukan oleh pihak keluarga dan warga Desa Jeke. Sejumlah masyarakat Desa tetangga dan wisatawan asing yang sedang berada di wilayah Barogang Desa Jeke turut bersolidaritas membantu pencarian, namun gagal menumukan korban. Pencarian di hari kedua tersebut hanya menemukan roll (gulungan) pancingan/string/senar pancing/tali pancing milik korban di dasar laut pada kedalaman kurang lebih 3-5 meter.

Bahwa proses pencarian terus dilakukan oleh pihak keluarga dan masyarakat setempat, baik di darat, di laut maupun di sungai. Tidak kurang dari lima puluh orang penyelam dengan alat bantu seadanya menyebar ke berbagai titik. Bahkan di hari keempat, kelima dan seterusnya area pencarian diperluas hingga perairan Ds. Makole, Ds. Reke, Ds. Sifahuruasi akan tetapi KORBAN tidak juga ditemukan, baik dalam kondisi masih hidup maupun mati.

Pada tanggal 27 Juli 2020, korban ditemukan oleh masyarakat Bagugu, Desa Sialema dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Korban ditemukan oleh seorang perempuan yang tidak bersedia disebutkan namanya. Ia menceritakan, saat itu ia melihat sesosok mayat dengan posisi terlentang terdampar di perairan Bagugu, Desa Sialema.

Posisi mayat sangat dekat dengan pantai pada kedalaman air diperkirakan berkisar satu meter. Ia memberitahukan hal tersebut kepada masyarakat setempat, kemudian beberapa warga lain datang untuk mengevakuasi dan memindahkan mayat ke teras Gereja BNKP Bagugu. Masyarakat Bagugu menceritakan bahwa pada saat evakuasi, masyarakat setempat menghindari kontak langsung dengan jasad korban, mayat terlebih-dahulu dibungkus/ditutup dengan kain berukuran panjang sebelum diangkat dan dipindahkan. Keesokan harinya jasad korban dibawa pulang ke Jeke oleh pihak keluarga.

Pihak Kepolisian Tidak Ada Yang Datang ke Lokasi Penemuan Mayat Untuk Olah TKP.

“Pada waktu penemuan mayat, saya Linus Manao selaku anak kandung korban sedang berada di Pulau Tello. Informasi tentang penemuan mayat awalnya saya ketahui dari pemberitaan di sosial media, dan beberapa saudara/keluarga juga mengabarkan kepada saya melaui pesan WhatsApp. Lalu saya mencoba mengidentifikasi foto jenazah yang beredar di media sosial yang mana baju dan celana korban dalam foto sama persis dengan pakaian yang dikenakan ayah saya sewaktu terakhir meninggalkan rumah dalam kondisi hidup,” katanya

Setelah memastikan mayat tersebut adalah jasad dari ayah kandungnya yang hilang selama dua puluh hari, pada sore sekitar Pukul 16.00 WIB, dirinya bersama keluarga langsung bergegas menuju Bagugu, Desa Sialema dan mereka tiba di sana pada malam hari. Di sana pihak keluarga mengamati kondisi jasad korban (tanpa kontak dengan korban) dan menemukan beberapa luka tidak wajar di tubuh korban.

“Hal tersebut semakin memperkuat dugaan kami bahwasanya hilangnya ayah saya selama dua puluh hari disebabkan oleh suatu peristiwa pidana kejahatan. Atau dengan kata lain ayah saya adalah korban pembunuhan. Sayangnya hingga keesokan harinya tidak ada dari pihak kepolisian yang datang ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara,” ucap Linus.

“Dapat saya jelaskan bahwa kami selaku pihak keluarga telah melaporkan kehilangan ayah saya kepada pemerintah Desa Jeke sehari setelah ayah saya dinyatakan hilang. Selain itu, sebelum ayah saya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di Bagugu-Sialema pihak Pemerintah Desa Jeke juga telah melaporkan perihal kehilangan ayah saya ke Polsek Pulau-Pulau Batu pada tanggal 17 Juli 2020, namun sampai ayah saya ditemukan tewas pihak Polsek Pulau-pulau Batu tidak mengeluarkan keterangan orang hilang,” lanjut Linus.

Setelah menunggu selama satu malam di Bagugu, Desa Sialeme, dan ternyata tidak ada pihak kepolisian yang datang ke TKP, pada hari Selasa tanggal 28 Juli 2020 pihak keluarga akhirnya memutuskan untuk membawa pulang korban ke Desa Jeke.

Setelah satu malam jenazah tiba di Jeke yakni Rabu tanggal 29 Juli 2020 Kapolsek Pulau-pulau Batu beserta rombongan tiba di Desa Jeke. Turut hadir Camat Tanah Masa, Kanit Reskrim Polsek Pulau-Pulau Batu dan dr. Jimmy Sarumaha dan tim.

Pada saat itu juga dilakukan pengecekan fisik korban dengan dipimpin oleh dr. Jimmy Sarumaha. Seusai pengecekan, pihak keluarga berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan meminta izin agar jenazah dapat dikebumikan terlebih dahulu. Pihak keluarga juga menyatakan kesiapannya bilamana dikemudian hari makam korban harus dibongkar untuk keperluan penyelidikan/penyidikan.

Pada kesempatan yang relatif singkat tersebut pihak korban meminta kepada Kapolsek Pulau- Pulau Batu dan Kanit Reskrim Polsek Pulau-pulau Batu agar kasus kematian tersebut dapat diungkap seterang-terangnya demi adanya kepastian hukum dan nilai keadilan.

Bahwa sejak pemeriksaan jenazah korban di Desa Jeke tanggal 29 Juli 2020 hingga kini belum ada tindakan apapun dari Polsek Pulau-Pulau Batu, termasuk olah TKP dan pemeriksaan saksi-saksi belum dilakukan.

“Olah TKP tidak dilakukan dan juga saksi saksi tidak diperiksa. Yang diperiksa cuma baru saya dan YD, itu pun terjadi karena inisiatif saya datang ke kantor Polsek, bukan atas panggilan dari penyidik,” tutur Linus.

Itu sebabnya pada tanggal 4 Agustus 2020 pihaknya secara inisiatif mendatangi Polsek Pulau-pulau Batu untuk menanyakan status laporan atas kematian ayah Linus.

“Saat itu kami bertemu dengan salah satu anggota reskrim, kepada beliau kami menanyakan sudah sejauh mana tindakan Polsek Pulau-Pulau Batu dalam kasus kematian ayah saya. Pertanyaan kami terarah pada laporan polisi karena sampai saat ini kami belum mendapatkan laporan Polisi Mode B sebagaimana yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Tidak-adanya kepastian LP tersebut membuat kami pihak keluarga kesulitan untuk memantau perkembangan kasus ini, terutama untuk mengajukan permohonan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP),” jelas Linus.

“Kami heran dengan sikap Polsek Pulau-pulau Batu yang sampai hari ini tidak memberikan Laporan Polisi (LP mode B) kepada kami dengan alasan pihak kepolisian sudah membuat LP mode A. Ini sama halnya polsek menolak laporan masyarakat dan berarti mengabaikan hak masyarakat yang sudah diatur Undang-Undang,” tegas Linus Manao.

Pihak keluarga menegaskan bahwa pihaknya sudah beberapa kali melapor baik secara lisan maupun tulisan namun pihak Polsek Pulau-Pulau Batu menolak untuk membuat laporan polisi (LP) atas laporan masyarakat.

Luka Dan Kondisi Jenazah Membuat Keluarga Curiga

Selain terdapat beberapa luka di tubuh, kondisi jenazah korban saat ditemukan terdampar di pantai Bagugu, Desa Sialema tidak hancur dan organ tubuhnya masih lengkap. Tidak hancur layaknya orang yang meninggal di laut pada umumnya padahal sudah meninggal selama 20 hari di laut.

Memperhatikan fakta tersebut, Linus Manao selaku anak kandung dari korban sekaligus selaku Kepala Desa Jeke meragukan penyebab kematian ayahnya.

“Saya berkeyakinan kuat bahwa kematian ayah saya disebabkan oleh satu peristiwa pidana pembunuhan atau “Kejahatan Terhadap Nyawa” sebagaimana diatur dalam ketentuan-ketentuan pada BAB XIX Kitab Undang-Undang Hukum Pidana,” katanya.

Anak korban, Linus Manao yang juga Kepala Desa Jeke menuturkan bahwa ada beberapa fakta dan barang bukti yang ditemukan dilapangan. Temuan-temuan itu sebenarnya dapat dijadikan dasar oleh pihak Kepolisian untuk menyelidiki dan mengungkap kasus ini, tapi sangat disayangkan hal itu belum berjalan hingga saat ini.

“Ada beberapa fakta dan barang bukti di lapangan yang menurut kami cukup memberi petunjuk bagi pihak kepolisian untuk menyelidiki dan mengungkap tabir kematian ayah saya, tapi sayangnya ini belum berjalan sama sekali,” kata Linus Manao.

Kepala Desa tersebut menjelaskan bahwa saat ini sudah melaporkan kasus kematian ayahnya tersebut ke Polsek Pulau-pulau Batu untuk dilakukan penyelidikan.

“Kami sudah melapor di Polsek Pulau-pulau Batu dan meminta kasus ini diungkap. Meskipun hingga saat ini penyelidikan kematian ayah saya belum memperlihatkan progres yang berarti, akan tetapi dengan wewenang yang melekat pada institusi Polri terutama reskrim kami yakin bahwa Polsek Pulau-Pulau Batu yang ada di bawah Kepolisian Resort Nias Selatan memiliki sumber daya dan kapabilitas yang mumpuni dalam mengungkap kasus kematian ayah saya seterang-terangnya,” lanjut Linus.

Linus menambahkan pihaknya tidak meragukan profesionalitas polri dalam kasus ini. Ia yakin Kepolisian Sektor Pulau-Pulau Batu mampu menjalankan tugas sebaik-baiknya berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah dasar Kepolisian Negara Indonesia yang disebut Tri Brata, Catur Prasetya.

Masyarakat Desa Jeke Jadi Cemas dan Dibayang-bayangi Rasa Takut

Kematian Jeduar Manao telah manjadi isu sensitif di tengah masyarakat, baik di Desa Jeke maupun di luar Desa Jeke. Banyak asumsi yang berkembang berpotensi melahirkankan konflik yang serius dan perpecahan bila tidak segera dituntaskan. Teka-teki kematian orang tua dari Kepala Desa tersebut juga telah menimbulkan kecemasan bagi masyarakat Desa Jeke.

Sebagian besar masyarakat sudah tidak merasa aman dalam menjalankan aktivitas sehari-hari karena dihantui rasa takut dan was-was, terlebih menyusulnya peristiwa kematian seorang warga berjenis kelamin laki-laki berinisial JEG yang ditemukan tewas mengenaskan di hutan dalam keadaan leher tergantung di pohon, sementara kaki mayat menyentuh tanah (setengah berlutut) dan wajah tertutup dengan topi.

Skenario kematian JEG memiliki kemiripan dengan kematian almarhum Jeduar Manao. Sebelumnya, JEG dikabarkan hilang pada tanggal 5 Agustus 2020 saat pergi ke hutan untuk memanen minyak salah satu jenis kayu yang oleh masyarakat setempat disebut “kayu laga”. Warga sempat mencari keberadaan JEG di sepanjang kawasan hutan Desa Jeke selama enam hari namun tidak ditemukan. Korban akhirnya ditemukan tewas dengan posisi tergantung pada tanggal 11 Agustus 2020 dan dimakamkan pada tanggal 13 Agustus 2020.

Kedua kasus kematian tersebut terjadi dalam waktu yang sangat dekat, kematian JEG terjadi dalam jarak waktu lima hari setelah pemakaman jenazah Jeduar Manao. Maka sangat wajar kalau lahir persepsi-persepsi baru di masyarakat yang memandang kedua peristiwa misterius itu saling berhubungan.

Apa yang terjadi di Desa Jeke akhir-akhir ini sangat berdampak pada kehidupan sosial masyarakat Desa Jeke, bahkan mempengaruhi psikologi masyarakat.

Saat ini banyak masyarakat sudah tidak berani berpergian (terutama untuk bekerja di luar rumah) sendirian tanpa teman karena menilai Desa Jeke sudah tidak aman, mereka khawatir potensi terjadinya kasus-kasus serupa di masa yang akan datang mengingat dua kasus kematian misterius yang sudah terjadi tidak mendapat perhatian serius dari penegak hukum. Alih-alih menjaga keselamatan jiwa saat saat ini sebagian warga / Kepala Keluarga (KK) sudah meninggalkan rumah/Desa Jeke, pergi ke Desa lain untuk mngungsi sementara waktu. Situasi seperti itu tentunya sangat mempengaruhi roda perekonomian dan mengancam kelangsungan hidup masyarakat.

Menggangu Roda Pemerintahan

Dengan situasi saat ini di Desa Jeke, penyelenggaraan urusan Pemerintahan di Desa Jeke juga ikut terganggu. Sementara Pemerintah Desa Jeke harus fokus untuk bekerja, melaksanakan sejumlah agenda pemerintah Desa dalam masa pandemi Covid-19 dan jelang pelaksanaan Pilkada serentak tahun 2020 di Kabupaten Nias Selatan.

Oleh sebab itu, Pemerintah Desa Jeke merasa berkewajiban untuk hadir menjawab keresahan masyarakat. Pasal 68 ayat (1) huruf e UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa mengatur bahwa “masyarakat Desa berhak mendapatkan pengayoman dan perlindungan dari gangguan ketentraman dan ketertiban di Desa”.

Ada satu pepatah mengatakan: “pemimpin yang besar bukanlah pemimpin tanpa kesalahan, melainkan pemimpin yang mengakui kesalahannya dan mau memperbaikinya”.

“Kami selaku pemerintah Desa Jeke menyadari bahwasanya sikap masyarakat dalam merespon situasi saat ini di Desa Jeke adalah suatu kritik cerdas atas kealpaan pemerintah dan penegak hukum dalam menciptakan situasi aman kepada masyarakat Desa Jeke,” katanya. (AF)

Edt: Redaksi (AN)