Kembali Pada Kejayaan Bangsa Nusantara (1)

Foto: (Doc. Jacob Ereste)

“Pasir laut Indonesia dicuri Singapura untuk memperluas daratan mereka”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Gagasan untuk kembali pada kejayaan bangsa Nusantara yang kemudian pada tahun 1945 menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akibat adanya anggapan yang melihat keliru dari perkembangan bangsa dan negara Indonesia dalam arti luas.

Setidaknya, menurut mantan Kadispenal TNI Angkatan Laut, Laksamana Muda (Purn) TNI AL Untung Suropati sejak pasca runtuhnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1478, negeri yang ada di Nusantara telah menjadi negara bangsa yang lemah, sehingga berbagai intervensi asing masuk, menjajah secara fisik dan ideologi. Karena itu perlu gerakan moral berbasis budaya untuk mengembalikan keagungan dan kejayaan bangsa nusantara.

Gerakan Kembali Ke Nusantara (GKKN) menurut Untung Suropati merupakan gerakan moral berbasis budaya, bersifat terbuka, inklusif dan non partisan, (Rabu, (5 Juni 2019). Cara terbaik untuk mengembalikan kejayaan bangsa-bangsa Nusantara yang justru telah bersatu dalam NKRI ada sembilan jalan yang dapat ditempuh.

Pertama, kembali ke kesejatian, Pancasila sebagai weltanschauung dan philosophische grondslag yang dipahami, dihayati, dan dijalani sebagaimana seharusnya, dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusional yang dipedomani, sehingga arah dan
gerak pembangunan tidak melenceng dari cita-cita dan harapan para pendiri bangsa.

Kedua, kembali ke jati diri bangsa Nusantara sebagai generasi penerus bangsa yang memiliki kesadaran, dilandasi ketulusan ingin menghargai karya, menghormati pemikiran, meneladani ajaran, serta memiliki komitmen yang tinggi untuk menjaga kelestarian warisan budaya bangsa Nusantara yang adiluhung.

Ketiga, kembali ke Nusantara dalam arti karakter dan tradisi yang sesuai dengan kepribadian budaya bangsa Nusantara sebagai ‘trendsetter’ sekaligus ‘normsetter’ dunia, bukan membebek atau menjadi para pengikut bangsa-bangsa dari manca negara lain.

Keempat, kembali ke nusantara dalam pengertian kembali pada orisinalitas budaya bangsa Nusantara sebagai pusat gravitasi (center of gravity), bukan sekadar periferi (periphery) dunia.

Kelima, kembali kepada autentisitas mind-set atau paradigma berpikir bangsa Nusantara sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi dan pemikiran besar serta imajinasi melampaui batas.

Keenam, kembali ke nusantara dalam arti kembali ke kesejatian sifat dan karakter kita sebagai penerus dan pewaris DNA bangsa besar Sriwijaya dan Majapahit yang memiliki visi jauh ke depan.

Ketujuh, kembali ke nusantara adalah kembali ke kesejatian sifat dan karakter kita sebagai penerus dan pewaris DNA bangsa besar Sriwijaya dan Majapahit yang gagah berani dan gemar berpetualang mengarungi samudra.

Kedelapan, kembali ke nusantara artinya kembali ke orisinalitas kita sebagai bangsa maritim yang mempercayai laut adalah masa depan dan di laut tersimpan harapan.

Dan Kesembilan, kembali ke nusantara dalam pengertian kembali pada keagungan dan keunikan budaya Nusantara yang memiliki watak dan tradisi bangsa yang beretika dan bermoralitas tinggi.

Menurut Untung Suropati, gerakan Kembali Ke Nusantara dengan hasgtag #kembalikenusantara sudah mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak dan akan dideklarasikan dalam waktu dekat. Masalahnya memang tidak cuma sekedar dideklarasikan semata, tetapi dari mana harus memulai dan bagaimana cara memulainya.

Lalu bagaimana strategis dan teknis dari pelaksanaannya, dan siapa saja yang hendak diandalkan menjadi pelaku utama atau motor penggeraknya.

Yang cukup ideal agaknya secara kelembagaan adalah TNI Angkatan Laut. Bukan saja karena Untung Suropati sendiri berasal dari instansi tersebut, tetapi secara teknis dan strategis, TNI Angkatan Laut sendiri memang patut memperoleh peran yang luas dan besar untuk menjadi penguasa utama lautan kita agar kemudian sektor maritim kita bisa lebih maksimal potensinya guna kepentingan rakyat Indonesia.

Masyarakat pesisir dan nelayan Indonesia pada umumnya bisa digerakkan potensinya mulai bentuk usaha dan kegiatan mengolah hasil laut kita yang luas terbentang, sekaligus dapat dijadikan bagian dari garda penjaga untuk ikut mengamankan kekayaan serta batas wilatah di lautan Indobesia.

Tradisi dan budaya maritim hendaknya menjadi bagian dari tanggung jawab khusus TNI AL kita, sehingga semua fasilitas yang diperlukan untuk secara maksimal memperkuat TNI AL kita, khusunya Marinir dapat segera diwujudkan.

Karena sungguh nasib sejumlah negara besar di dunia yang memiliki laut cukup luas, justru memiliki pasukan Marinir yang tangguh dan sabgat disegani oleh negara lain.

Sementara negeri kita yang memiliki pantai dan lautan terbilang panjang dan terluas di dunia justru tidak mengandalkan Angkatan Laut. Padahal pada masa lalu, bangsa-bangsa Nusantara pernah memiliki Panglima Angkatan Laut yang tangguh dan membanggakan, seperti Malahayati. Lalu mengapa sekarang tidak?

Agaknya, logika seperti inilah yang dianggap salah dalam upaya membangun ketahanan dan pertahanan budaya kita dalam arti luas. Sehingga Menteri Kelautan dan Perikanan kita, Susi Pujiastuti jadi seperti kesurupan menenggelamkan semua kapal asing yang menjarah kekayaan laut kita.

Padahal, bisa jadi yang mereka keruk bukan cuma ikan, tetapi juga seperti pasir laut kita yang ada di sekitar Kepulauan Riau (Kepri) yang dilakukan Negara Singapura. Realitasnya sekarang jadi bertambah luas dua kali lipat lebih dari luas asli semula.

Pasir laut Indonesia dicuri Singapura untuk memperluas daratan mereka. Dampak terusannya tidak hanya mempersempit Selat Malaka, tetapi juga menggeser batas meridian laut dengan Indonesia.

Edt: Redaksi (AN)