Kesadaran Budaya Mahasiswa Indonesia Menolak RUU Omnibus Law

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Kesadaran para mahasiswa menyadari bahwa masalah perburuhan atau ketenagakerjaan di Indonesia pada hari akan sangat menentukan hari esok mereka juga,”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Kesadaran mahasiswa terhadap masalah perburuhan sebagai bagian dari masalah mereka juga merupakan kemajuan dari lompatan kesadaran budaya yang sangat menggembirakan. Karena bagaimana pun kelak, masalah ketenagakerjaan di Indonesia akan jadi penghalang atau penghadang bagi mereka juga untuk mengembangkan diri menjadi pekerja profesi agar dapat memiliki nilai tawar dan reputasi guna meningkatkan prestasi dalam membangun karier demi dan untuk masa depan yang lebih baik dan lebih beradab.

Kesadaran para mahasiswa menyadari bahwa masalah perburuhan atau ketenagakerjaan di Indonesia pada hari akan sangat menentukan hari esok mereka juga, bisa diharap dapat membangun kesadaran pula bagi para pelajar untuk lebih cerdas ikut memahami masalah perburuhan atau ketenagajerjaan di negeri kita ini harus terus menerus diperbaiki dan disempurnakan, supaya tingkat kesejateraan yang berkeadilan dan manusiawi bisa menpercepat peningkatan kualitas manusia, baik untuk kaum buruh sendiri maupun untuk keluarganya.

Sebab pada akhirnya mahasiswa yang sudah menyelesaikan studinya –termasuk para pelajar yang akan memasuki dunia kerja– pasti akan berhadapan dengan segenap peraturan maupun perundang-undangan yang berlaku hari ini di Indonesia.

Seperti RUU Omnibus Law misalnya yang ditanggapi serius oleh kalangan mahasiswa dengan melakukan aksi penolakan secara masif ke DPR RI pada hari Kamis, 16 Juli 2020 sungguh menggembirakan tidak hanya dari perspektif buruh, tapi juga dalam perspektif budaya.

Sebab mahasiswa telah mampu berpikir lebih jauh ke depan untuk menjaga serta merasa perlu untuk mempersiapkan masa depan mereka agar tidak terhambat atau terganjal oleh peraturan dan perundang-undangan perburuhan atau ketenagakerjaan yang tidak berpihak pada buruh atau pekerja, RUU Omnibus Law jelas sekali lebih memberi kemudahan pada pihak pengusaha atau investor asing.

Sebagai aktivis buruh yang sudah kelelahan membangun kesadaran buruh agar aktif berorganisasi dan mampu membuat perserikatan yang kuat, pada hari ini, Kamis 17 Juli 2020, sungguh saya merasa gembira dan bangga menyaksikan sikap militan mahasiswa Indonesia –tak hanya di Jakarta, tapi juga di Silawesi Selatan, Sumatra Utara dan Yogyakarta– bereaksi mendukung organisa buruh yang tampak sudah lelah juga mendesak DPR dan Pemerintah untuk segera memperbaiki atau menyempurnakan RUU Omnibus Law supaya tidak lebih memanjakan investor atau pengusaha dengan mengabaikan hak-hak kaum buruh Indonesia.

Dan hak-hak kaum buruh Indonesia ini pun seperti hendak diberikan juga sepenuhnya kepada buruh asing. Dimana mereka bisa dipekerjakan pada satu perusahaan tanpa berbagi porsi dengan tenaga kerja dari negeri kita sendiri.

Kegundahan para mahasiswa Indonesia hari ini yang menjadi motor aksi menolak RUU Omnibus Law, bisa dipaham lantaran takut dan khawatir ketika kelak harus masuk ke lapangan pekerjaan sudah semakin sulit dan rumit. Sehingga masa depan yang kelam segera bisa dibayangkan, pasti akan lebih kelam, sangat mengerikan dibanding kondisi dari perbutuhan di Indonedia hari ini.

Status pekerja yang tak jelas dan rentan di PHK tanpa pesangon yang memadai, bahkan kerja lembur bisa lebih berat dari sistem kerja rodi. Begitu juga dengan jaminan kesejahteraan dan kesehatan hingga jaminan hari tua yang tak jelas. Semua bisa jadi memperburuk kondisi bahkan sutuasi kerja yang tidak manusiawi.

Edt: Redaksi (AN)