Ketahanan Pangan Bukan Janji Politik, Diplomasi Pangan Perlu Sumber Agroindustri Besar

Foto: Doc. Toto Pray

“Indonesia sebagai negeri agraris subur sing tinandur, apapun yang ditanam subur jadi pangan penduduknya”

Oleh: Toto Pray (Saudagar Cinta Dakwah)

Jakarta (Bintangtimur.net) – Beberapa bulan lalu presiden mendorong Menhan Prabowo Subianto agar membuka lahan pertanian di Kalimantan. Sebagian kalangan mempertanyakan, apa relevansi Kemenhan mengelola pertanian?

Indonesia sebagai negeri agraris subur sing tinandur, apapun yang ditanam subur jadi pangan penduduknya.

Sejarah budaya, pertanian sudah terbangun sejak zaman Majapahit, terutama di tanah Jawa. Dilanjutkan zaman para Wali Songo dan Kesultanan. Hingga masuklah para penjajah Eropa paska kemenangan perang Salib membuka peluang ekspedisi para penjajah Eropa menguasai Nusantara.

Belanda membuka lahan seluas-luasnya di pulau paling subur Jawa dan Sumatera, dengan semangat (rakus) kapitalisme dan imperialisme satu paket menguasai Jawa dan Sumatera.

Dengan modal lahan pertanian pangan dan rempah di dua pulau subur tersebut, Belanda menjadi produser pangan terbesar sedunia. Pangan asli Nusantara maupun blasteran dari luar negeri, telah menjadi kekuatan politik, ekonomi dan pertahanan Belanda, Eropa menguasai dunia.

Ya, betapa sangat berartinya agroindustri, pertanian pangan maha luas. Ditunjang pula oleh sektor peternakan dan perikanan yg seluas laut dan kolam Nusantara, maka negri subur bernama Indonesia kini, harusnya, menjadi lumbung pangan dunia.

Tapi sebuah kisah nyata yang pahit, negeri ini salah kelola di sektor ketahanan pangan. Sehingga semua serba impor dari sumber manca negara mulai dari beras, gula, sayuran, ikan, daging, garam dst bahkan cangkul pun impor dari China. Ada apa dan mau sampai kapan?

Edt: Redaksi (AN)