Ketika Ilmu di Persimpangan Jalan

Foto: Doc. Anton. N

“Tebarkanlah kebaikan, bukan keburukan. Ajarkan mereka yang tidak faham supaya menjadi faham”

Oleh: Anton. N

Jakarta (Bintangtimur.net) – Hidup ini tidak akan terlepas dari yang namanya ilmu. Karena … jika kita hidup tanpa ilmu, maka semuanya akan sia-sia. Pada hakikatnya ilmu itu mengangkat derajat manusia, mengapa? Karena dengan ilmu itulah orang bodoh bisa menjadi pintar. Tidak tahu menjadi tahu, dan dari kegelapan bisa menuju terang.

Apapun disiplin ilmu, baik itu ilmu seksiologi, ilmu sains, ilmu agama, ilmu politik, ilmu ekonomi dan lain sebagainya, tujuannya sangat bagus.

Contoh, ilmu seksiologi yang dianggap tabu pada awalnya, sebenarnya mengandung hakikat yang baik. Karena didalam itu, sebenarnya mengandung cara bagaimana menyenangkan pasangan, berhubungan yang benar, membuat hubungan rumah tangga awet dan lain sebagainya. Dengan catatan sudah sah.

Namun perjalanannya ilmu seksiologi terdapat sisi positif dan negatif. Dan salahsatu contoh positifnya seperti yang disebutkan diatas. Sedangkan sisi negatifnya, mengarah kepada seks bebas, dan lebih parahnya lagi bahkan menjadi industri (prostitisi, video porno) sekaligus lahan pekerjaan. Lantas, bagaimana disiplin ilmu agama?

Dalam islam, zina itu sangat dilarang. Jangankan melakukan, mendekatinya saja pun tidak diperbolehkan.

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا
wa lā taqrabuz-zinā innahụ kāna fāḥisyah, wa sā`a sabīlā

Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Quran Surat Al-Isra Ayat 32).

Lalu, bagaimana dengan ilmu sains? (Dalam hal ini matematika). Pada hakikatnya ini juga sangat bagus, karena bisa menghitung sebuah nilai. Tapi pada kenyataannya ilmu ini tak jarang dijadikan juga untuk menghitung berapa besar keuntungan dari korupsi, dan mungkin dijadikan juga alat menghitung untuk membunuh masal. ‘Mengukur’ jarak ledak nuklir, misalnya. Apakah benar? Tentu. Karena hal seperti itu membutuhkan perhitungan yang sangat tajam.

Lalu, kemana ilmu agama? Bukankah membunuh sesama manusia dikecam oleh Allah SWT dan oleh Rasulullah SAW? Berbeda halnya jika dalam keadaan perang yang merupakan sebuah keniscayaan.

Dalam sebuah riwayat Rasulullah juga bersabda:

مَنْ قَتَلَ قَتِيْلاً مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

“Barang siapa membunuh dzimmi (non-muslim) maka ia tidak akan mencium aroma surga.”

Ilmu politik. Ilmu ini pada hakikatnya juga bagus, bahkan Rosulullah SAW mengajarkan kita siyasah. Karena ilmu politik mengajarkan bagaimana berpolitik dalam hal kemaslahatan umat. Atau dengan kata lain menjunjung tinggi peradaban yang lebih baik.

Tapi sayangnya, ilmu politik pun ternoda. Seperti halnya politik dijadikan sebagai alat untuk merebut kekuasaan (penyalahgunaan virus corona), dan masih banyak contoh-contoh lainnya. Lagi-lagi, dimana peran ilmu agama? Bukankah agama menganjurkan kita untuk berprilaku jujur, adil dan peduli sesama umat?

Kita beralih kepada ilmu ekonomi. Ilmu ini sangat dibutuhkan dan sangat bermanfaat. Tapi, ilmu itu tak jarang dijadikan juga sebagai senjata untuk melemahkan kaum kecil yang tak bermodal, dan lain sebagainya.

Hahhh … sangat panjang jika membahas ilmu satu-persatu. Mungkin satu minggu menulis pun tidak akan mencapai separuh dari segala ilmu yang ada didunia ini.

Jika melihat contoh-contoh diatas, siapa yang harus kita salahkan? Apakah orangnya? Atau … ilmunya?

Tentu yang salah orangnya. Ilmunya tidak salah, semua ilmu yang ada didunia ini adalah ilmu yang bermanfaat. Tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat ataupun menyesatkan selama kita berlaku bijak.

Jelas, yang salah adalah manusianya. Dengan ilmu yang sudah dikuasai, manusia akan melakukan apapun yang dia inginkan. Lalu, atas dasar apa manusia menyalahgunakan ilmu?

Tentu atas dasar materi dan kepuasan. Ya … benar. Kepuasan. Tapi mereka tidak menyadari bahwa kepuasan yang dimaksud olehnya hanyalah kepuasan hampa yang barasal dari nafsu.

Manusia tidak akan puas jika menuruti nafsu dirinya. Karena nafsu akan selalu mendorong manusia untuk melakukan hal-hal yang lebih dan lebih lagi dari apa yang sebelumnya sudah dilakukan.

Karena itulah, pergunakan ilmu yang kau miliki supaya bermanfaat. Tebarkanlah kebaikan, bukan keburukan. Ajarkan mereka yang tidak faham supaya menjadi faham.

Tapi semua kembali kepada diri sendiri. Kau sudah mempunyai ilmunya. Gurumu sudah memberikan dan mempercayakan ilmunya padamu. Selebihnya ada pada dirimu.

Persimpangan jalan didepan mata. Kau tinggal pilih. Mau surga? Atau sebaliknya? Terserah, pilih saja sesukamu.

Sudahlah, jika dibiarkan maka pikiran ini akan semakin liar. Ini hanyalah sebuah narasi dari pemikiran yang mungkin kebanyakan cafein masuk.

Tidak bermaksud untuk dijadikan sebuah polemik. Tapi dengan ini, semoga bisa menebarkan manfaat. Menebarkan keharuman seperti halnya bunga ditaman.