Ketua Dewan Pers: Media Sepertinya Terbelah, Menjadi Dua Kutub Dalam Mengikuti Persaingan Dua Pasangan Capres-cawapres

Foto (Ist): “Pers perlu mengubah jurnalisme talking news dengan jurnalisme presisi”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Perhelatan Pemilu 2019 seharusnya media memberikan informasi terhadap masyarakat guna proses pendidikan politik yang sehat untuk seluruh pihak sehingga sangat diharapkan agar setiap insan jurnalis (wartawan) perlu menghindari ekspose pernyataan yang tidak diperlukan dari pihak yang bersengketa. 

Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo mengungkapkan para pendukung kedua kubu saat ini terus menggalang massa dan opini dan kita bisa melihat kedua kubu pasangan saling mengklaim kemenangan.

“Media sepertinya terbelah, menjadi dua kutub dalam mengikuti persaingan dua pasangan capres-cawapres,” ungkap Yosep, Jumat (26/04/2019).

“Celakanya, kita semua membiarkan meme beredar massal di medsos dengan cara merendahkan dan melecehkan para politikus dan calon-calon pemimpin kita,apa yang bisa dilakukan pers dalam situasi saat ini?,” lanjutnya.

Yosep pun kembali mengingatkan peran dan fungsi pers dalam menyebarkan informasi secara faktual, akurat, netral, adil dan seimbang.

“Pers perlu mengubah jurnalisme talking news dengan jurnalisme presisi, Pers harus melakukan cek dan ricek terhadap semua fakta juga data dan informasi yang disampaikan semua pihak,” tegasnya.

“Para wartawan harus selalu mengecek peraturan perundangan terkait pemilu yang berlaku, jangan segan bertanya kepada ahli yang berkompeten dan kredibel, bukan pengamat yang partisanship-nya tinggi,” pintanya.

Ketua Dewan pers inipun menambahkan, dalam pemilu 2019 Pers Indonesia harus bisa menjadi wasit dan inspektur pembimbing yang adil juga menjadi pengawas yang teliti dan seksama dan bukan “pemain” yang menyalahgunakan ketergantungan masyarakat pada media.

“Jadi kita semua perlu mendorong munculnya pemberitaan yang berorientasi pada problem silver terhadap masalah yang kita hadapi saat ini,” pungkasnya.

Edt: Redaksi (AN)