Ketupat Dan Bintang

Foto: (Doc. Norman Arief)

“Silahkan muhasabah ramadhan tahun mana saja yang sangat berkesan dan membuat perubahan hidup menjadi bernilai. Dan sudah berapa kali ramadhan dilalui”

Oleh: Norman Arief

Depok (Bintangtimur.net) – Lebaran 1440 Hijriah masih terasa hangat. Narasi ketupat pun akhirnya tersirat.

Iya…
Entah sudah berapa kali ramadhan kita lalui. Begitu banyak nasihat kehidupan didalamnya yang bisa kita jadikan cambuk untuk arungi kehidupan ini.

Silahkan muhasabah ramadhan tahun mana saja yang sangat berkesan dan membuat perubahan hidup menjadi bernilai. Dan sudah berapa kali ramadhan dilalui.

Jikalau lalui ramadhan tanpa ada nilai ataupun bisa membuat hidup ini menjadi lebih baik, maaf lebih baik abaikan lebaran.

Iya…
Kita malu karena tidak mau belajar dari ketupat.
Bukankah proses ketupat itu simbol atau analogi warisan nenek moyang.

Skema ketupat cukup panjang. Dari lahan yang disebut sawah hingga proses menjadi beras. Dan terbalut kulit kelapa hingga berjam-jam direbus dalam air yang mendidih. Pada akhirnya butir-butir beras yang keras menyatu menjadi gumpalan yang siap dinikmati. Dilengkapi opor ayam dan saudara-saudaranya.

Iya…
Proses ketupat itulah yang menjadi simbolik perjalanan hari ke hari selama ramadhan. Jika kita lalui dengan kejujuran maka hati kita yang keras bagaikan butiran beras maka akan menjadi lembut seperti ketupat. Dan hati yang lembut akan mudah menerima cahaya Illahi.

Tapi setan selalu unggul dalam menyesatkan keturunan anak Adam. Akhirnya lebaran dipersiapkan tapi ramadhan ditinggalkan begitu saja.

Hmmm….
Malam selalu konsisten hadirkan kegelapan. Tapi sang Bintang selalu hadir berikan sinar dan hiasi kegelapan.

Iya…
Tidak salah kita sebagai manusia berusaha menjadi bintang untuk kehidupan orang lain.
Bukankah sebaik-baik manusia yang bermanfaat untuk manusia yang lainnya.

Narasi “ketupat dan bintang” ini semoga bisa sinkronisasikan alam fikir dan memaknai hakikat “kemenangan”.

Edt: Redaksi (AN)