Kisah Neta S Pane Tentang Susi Pudjiastuti

Foto: Ist

“Saat masih hidup Bos Jaya Grup, Ciputra pernah penasaran dengan asal usul Susi Pudjiastuti,”

Jakarta (Bintangrimur.net) – Neta S Pane wartawan senior berkesempatan bertemu dengan bos maskapai penerbangan Susi Air, Susi Pudjiastuti.

Diajak jalan-jalan di Pangandaran, Neta bercerita mengenai sepenggal kehidupan Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI yang punya ciri khas ‘Tenggelamkan’ itu.

“Saat masih hidup Bos Jaya Grup, Ciputra pernah penasaran dengan asal usul Susi Pudjiastuti,” kata Neta S Pane yang sekarang sibuk mengurusi Indonesia Police Watch (IPW) sebagai Ketua Presidium seperti yang diceritakan melalui akun Instagramnya, Senin (22/2/2021).

Penasaran itu membuat Ciputra meminta anak buahnya menelusuri asal usul nenek moyang Susi dan meminta anak buahnya menuliskannya.

“Namun hingga Ciputra meninggal, perintah bos Jaya Grup itu tidak jelas nasibnya,” ucap Neta.

Tak hanya Ciputra, Neta juga penasaran dengan kisah hidup Susi, perempuan dengan pendidikan terbatas mampu membangun kerajaan bisnis dari kota kecil Pangandaran.

Di udara, Susi berbisnis dengan 52 pesawat dan dua helikopter.

Di laut Susi berbisnis dengan puluhan kapal ikan dan pabrik industri perikanan.

Di darat Susi berbisnis dengan puluhan bus, hotel, dan areal wisata lainnya.

Siapakah Susi?

Kakek moyang ibunya keturunan Majapahit.

Setelah usai Perang Bubat, kakek moyang ibunya yang tentara Majapahit tidak pulang ke Majapahit tapi kabur ke kawasan Pangandaran dan menetap disana.

Sedangkan kakek moyang bapaknya berasal dari Persia yang datang ke kawasan Banyumas.

Setelah lama menetap disana, sebagian keturunannya bergeser ke Pangandaran dan menetap disana, termasuk bapaknya.

Di Pangandaran bapaknya aktif mengembangkan Muhammadiyah sambil berprofesi sebagai kontraktor. Tapi usahanya selalu bangkrut.

Sejak kecil Susi selalu dibelikan bapaknya buku buku soal sosial, politik, ekonomi dll. Di masa Soeharto, Susi sempat ditangkap Laksus Jawa Barat karena mengkampanyekan golput.

Sebenarnya Bu Susi, tamat ngga sih SMP?

“Saya sempat bersekolah di SMA 1 Jogja. Tapi Gegara jatuh saat bermain dan saya sakit, saya tidak bisa masuk sekolah. Setelah sembuh saya malas bersekolah lagi. Bapak saya marah besar. Teman teman saya satu SMA banyak yang jadi pejabat sekarang ini,” kata Susi kepada Neta.

Mulai bisnis penerbangan kapan tu?

“Awalnya, setelah tidak bersekolah saya jualan ikan di Pangandaran. Usaha ini terus berkembang karena banyak permintaan dari dalam dan luar negeri. Saya lalu berpikir harus punya pesawat agar ikan ikan segar itu bisa cepat di antar,” sebut Susi.

Foto: Ist

Awalnya punya satu. Belinya kes. Lalu tambah satu lagi. Saat saya punya dua pesawat terjadi tsunami Aceh.

“Saat itu saya berpikir, saya harus kesana membawa bantuan. Saya menjadi orang pertama yang mendaratkan pesawat beberapa hari setelah tsunami Aceh,” lanjut Susi.

Susi pun mendarat di Meulaboh. Semua uangnya Rp450 juta dan berikut bantuan bawa ke Aceh untuk diberikan kepada warga. Lalu pesawat kedua juga tiba di Meulaboh.

“Saya tinggal di Aceh dua bulan lebih. Membantu korban tsunami,” katanya.

Pulang dari Aceh, Susi mendapat uang banyak karena dua pesawat saya disewa orang orang asing yang datang ke Aceh. Setelah membantu korban sunami, sisa uangnya masih banyak.

“Lalu saya membangun Mesjid Raya Pangandaran yang berada di depan rumah saya. Karena sisa uangnya masih banyak, saya ke Singapura membeli satu pesawat baru. Bayarnya kes dan pakai uang receh berkoper koper,” ucapnya.

Gimana ceritanya TW sampai datang ke rumah Ibu Susi di Pangandaran ini?

“Saat awal menjadi menteri, saya kan ingin menertibkan kapal kapal ikan agar semuanya beroperasi secara legal, agar program Tenggelamkan bisa berjalan. Kebetulan sebagian kapal kapal itu milik teman teman. Saya minta ke mereka agar segera, kapalnya naik dok dan tidak boleh beroperasi. Saya bilang ke mereka, kita sebagai teman harus saling menghargai dan saya sedang bekerja. Tolong kalau tetap nekat kapalnya saya Tenggelamkan. Semua ok,” kata Susi menceritakan.

Lanjutnya, tinggal TW yang belum saya hubungi. Meski dia teman saya tapi dia kan kelas berat. Saya lalu minta bantuan Pak Solihin GP agar menghubungi TW agar saya bisa menghadap untuk menjelaskan program saya. Tapi bukannya saya yang menghadap TW malah TW yang datang ke rumah saya. Sebagai teman akhirnya TW sepakat mendukung program saya.

“Waktu program tenggelamkan itu berjalan, semua keluarga saya, saya ungsikan keluar negeri. Saya khawatir ada apa-apa dengan mereka. Biar saya sendiri berperang. Dari program tenggelamkan ini saya berkeyakinan bahwa Indonesia bisa dibangun tanpa harus ngutang ke luar negeri. Mafia harus diberantas dulu agar Indonesia dibangun tanpa ngutang,” ungkapnya.

Susi … Susi Pujiastuti tepatnya … adalah perempuan unik dan sangat menarik untuk di dalami kehidupannya. Gaya bicaranya yang ceplas ceplos, hidupnya yang penuh mistis, keluarganya, bisnisnya yang meraksasa, dan tatonya, gaya merokoknya, ngewinenya … semua menarik dan menjadi dinamika serta enerji bagi yang mau mendalaminya.

Susi adalah satu-satunya menteri yang bertato dalam sejarah RI. Susi juga satu satunya menteri yang hanya lulusan SMP dalam sejarah RI. Susi juga satu-satunya menteri yang memiliki 52 pesawat terbang dalam sejarah RI. Susi juga satu-satunya menteri yang mempekerjakan banyak bule dalam sejarah RI. Susi menjadi satu-satunya menteri perempuan yang cuek merokok bebas dalam sejarah RI. Mungkin Susi menjadi satu-satunya menteri yang rumahnya berdiri di atas tanah 6 hektar..

Susi menikah di usia 19 tahun. Masih sangat muda.

“Saya waktu itu berpikiran, dengan menikah bisa bebas merdeka dari rumah,” ujarnya.

Susi menjalani pernikahan sebanyak tiga kali. Dari setiap pernikahannya memperoleh satu anak. Sehingga ketiga anaknya sulung semua. Anak pertamanya meninggal di Amerika. Anak ketiganya berusia 22 tahun. Tapi saat ini Susi memiliki tiga anak angkat yang berusia tiga tahun.

Anak-anak itu ditemukan di jalanan, dibuang orang tuanya saat masih bayi. Salah satunya malah ditemukan di dalam tas kresek di tempat sampah. Semua anak-anak itu begitu manja dengan Susi. Mereka memanggil Susi dengan sebutan “Uti”. Setiap Susi berenang di laut ketiga anak itu ikut mendampingi.

Terus gimana ceritanya sampai Ibu punya Tato?

“Di tahun 1980 an saya punya tiga teman akrab. Semuanya bule perempuan. Usianya 10 tahun di atas saya. Mereka saat itu tinggal di Pangandaran. Setiap Sabtu kami ke Jakarta dan baru pulang Senin pagi. Malamnya kami dugem. Kalo ngga ke Tanamor ya ke Pitstop. Tapi lebih sering ke Tanamor. Edannya, kalau sudah joget, kami bisa sampai naik naik ke atas meja. Pernah di Tanamor kami sampai berantam,” ujarnya bercerita.

Dia melanjutkan, soalnya, salah satu teman kami, pantatnya dipegal pengunjung pria. Setiap dugem kami sudah sepakat, salah satu harus kontrol dan membatasi minum sehingga bisa mengawasi situasi dan menjaga kami. Selain itu, hanya satu yang boleh beler sampai mabuk berat dan pulangnya harus digotong gotong ke hotel. Itulah persahabatan kami waktu muda dulu.

“Ketiga teman bule saya itu sudah punya Tato dan mereka meminta saya juga harus punya tato biar kompak, katanya. Akhirnya saya pun membuat tato di kaki kanan, dengan didampingi mereka. Saya ingat saat itu usia saya 26 tahun. Sakitnya minta ampun saat Tato itu dibuat. Sudah habis dua botol wiski saya minum tapi sakitnya tetap terasa dan tato gambar meraknya belum selesai. Akhirnya gegara ngga tahan saya minta berhenti. Jadi Tato ini belum selesai sebenarnya. Sakitnya saya ngga tahan,” katanya menceritakan sakit saat di tato.

Terus ketiga teman bule itu masih suka ketemu?

“Mereka sudah pulang ke negaranya masing masing. Yang satu sudah meninggal, yang satu hidup dengan keluarganya, dan yang satu lagi tinggal di rumah jompo,” tutup Susi Pudjiastuti. (NH)

Edt: Redaksi (AN)