Kita Harus Bersama-sama Melawan Sergapan Covid-19

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Agaknya dalam konteks ini sila dari Pancasila yang menyatakan bahwa kemanusiaan yang adil dan beradab itu harus diimplementasikan dengan nyata,”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Ketika orang yang terpapar Covid-19 ada 1000 orang dan yang meninggal sebanyak 250 orang, maka itu artinya yang selamat 75 persen. Tapi jika pada periode berikut yang terpapar Covid-19 ada 4000 orang dan yang meninggal 400 orang, maka yang dapat diselematkan 90 persen.

Dalam rezim statistika dalam perbandingan dari kedua periode pendemi itu, tingkat kematian jelas dikatakan menurun, meski jumlah kematian akibat Covid-19 ganas itu jumlahnya bertambah banyak.

Begitulah kejamnya rezim statistika yang melihat kematian manusia dari angka-angka statistika. Padahal jumlah orang yang meninggal terus bertambah jumlahnya, tapi dalam persentase statistika dapat dikatakan tingkat kematian jadi menurun.

Itulah sebabnya bilangan terhadap nilai manusia tidak bisa disebut dengan angka-angka. Sama seperti keculasan membandingkan tingkat kematian ketika merebut kemerdekaan dengan jumlah korban yang tewas setelah mempertahankan kemerdekaan itu, jelas tidak bisa dibandingkan hanya untuk melihat jumlah korban dari masing-masing peristiwa itu.

Sebab untuk melihat atau memahami peristiwa yang sudah terjadi sebelumnya dan kejadian lain yang terjadi kemudian setelah peristiwa tersebut, tidak bisa dibanding dengan cara itu. Karena peristiwa yang satu memiliki keunikan tersendiri, yang tidak mungkin bisa dipersamakan.

Kecuali itu nasib dan kematian seseorang itu hanya Yang Maha Kuasa saja yang tahu. Manusia hanya berikhtiar dan menjalankan saja skenario yang sudah ada sebelumnya.

Begitu juga wabah Covid-19 yang bisa kita ketahui hanya sebatas usaha melakukan pencegagan dan berupaya agar tidak sampai tertular.

Oleh sebab itu, seberapa pun jumlah orang Indonesia yang terpapar dan meninggal dunia karena Covid-19, tetap harus menjadi perhatian dan patut mendapat penanganan yang maksimal, meski hanya untuk seorang pun tidak boleh diabaikan. Sebab masalahnya nyawa manusia.

Agaknya dalam konteks ini sila dari Pancasila yang menyatakan bahwa kemanusiaan yang adil dan beradab itu harus diimplementasikan dengan nyata, dan relevan untuk diamalkan dan direalisasikan dalam tatanan hidup berbangsa yang secara sadar perlu adanya negara dan pemerintah untuk mengurus dan berupaya menyelamatkan segenap warga bangsa tanpa kecuali.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan tampaknya melakukan PSBB jilid dua seperti disebut sejumlah pihak, patut didukung dan disambut dengan oleh setiap orang, meski tidak berkutat langsung di Jakarta atau bersinggungan dengan warga Jakarta. Sebab ancaman virus Corona ini bagi diri kita, jika tak menularkan mungkin saja bisa tertular. Maka itu semua pihak perlun waspada dan selalu menjaga diri sendiri maupun anggota keluarga kita yang lain.

Jadi logikanya, bisa saja diri kita sudah kebal, namun orang di sekitar kita sangat mungkin jadi tertular oleh virus Covid-19 yang ada pada diri kita. Itulah sebabnya upaya pencegahan atau perlawanan kita dari sergapan virus Corona harus dilakukan dan disadari bersama, betapa bahayanya pada kehidupsn kita.

Edt: Redaksi (AN)