Kok Sekarang Gatot Nurmantyo Terkesan Jadi Jubir Omnibus Law

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Gatot Nurmantyo toba-tiba memuji UU Cicptaker. Ya, Rizal Ramli pun wajar jadi kaget”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Kali ini Gatot Nurmantyo keliru membuat pernyataan. Hingga wajar tokoh senior DR. Rizal Ramli mengingatkannya, namun “nasi sudah terlanjur menjadi bubur”.

Ya, apa boleh buat Jendral pensiunan ini membuat blunder bagi dirinya sendiri dalam geopolitik yang baru hendak dia bangun. Artinya semakin jelas medan perang dalam pemahaman ilmu tentara beda dalam cara pandang warga. Setidaknya, mungkin perlu beberapa semester lagi ikut kuliah politik pada Rizal Ramli.

Gatot Nurmantyo toba-tiba memuji UU Cicptaker. Ya, Rizal Ramli pun wajar jadi kaget. Dan pasti bukan karena latah bila Rizal Ramli lantas ngomong spontan; Lha Kok Sudah jadi jubir? ( RMol, Jum’at, 16 Oktober 2020)

Pernyataan dari Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Gatot Nurmantyo itu tak hanya membuat tokoh senior DR. Rizal Ramli kaget. Saya saja sungguh tak percaya, apakah benar omongan ngelantur seperti itu keluar dari mulut orang yang baru saja membesuk kedua kawannya yang terbilang tokoh buruh itu. Lagian, pernyataan Gatot Nurmantyo pekan sebelumnya masih hangat terasa mendukung buruh menolak Omnibus Law.

Boleh jadi ini memang fenomena politik zaman now yang ikut berdesak-desak dalam budaya generasi milineal sekarang ini. Lantaran di tengah penangkapan tokoh KAMI, Gatot Nurmantyo justru memuji Omnibus Law UU Cipta Kerja. Ya, suaranya jadi seperti gledek di musim kemarau.

Dalam sebuah video di akun YouTube milik pakar hukum tata negara Refly Harun, Kamis (15/10), mantan panglima TNI itu jelas dan tegas menyebut tujuan UU Ciptaker mulia. Sejalan dengan apa yang disampaikan pemerintah.

Ia menyebut UU sapu jagat itu sangat yakin kelak akan mendatangkan investasi dan membuat roda ekonomi berputar mulus.

Ya, apa boleh buat. Setiap orang memang bebas benar berpendapat. Tapi dalam sikap hendaknya tidak mencla-mencle bisa membuat yang menyimak merasa jadi dipermainkan. Istilah kampung dulu yang acap saya dengar kok jadi kayak tempe. Kemarin kedele, sekarang kok tempe.

Rizal Ramli pun pantas kaget, lantaran apa yang disampaikan Gatot Nurmantyo berbeda dengan apa yang selama ini disampaikan sejumlah aktivis KAMI tentang UU Ciptaker.

Bahkan menurutnya, apa yang disampaikan Gatot Nurmantyo sudah mirip dengan kapasitas seorang juru bicara.

“Lha kok sudah jadi jubir?” kata Rizal Ramli lewat akun Twitternya, Jumat (16/10/20)

Seharusnya, kata Rizal Ramli, Gatot Nurmantyo fokus saja pada upaya membebasan para tokoh KAMI yang ditangkap. Syahganda Nainggolan dan Jumhur Hidayat, tokoh buruh. Mereka berdua pasti lebih pilu mendengar igauan Gatot Nurmantyo yang ngacau itu.

Sayangnya saya tak mendengar apa komentar Syahganda Nainggolan dan Jumhur Hidayat tentang komentar Gatot Nurmantyo. Sebab dia sendiri saat UU membesuk kedua sohibnya itu cuma bisa melongok dari balik pintu yang tertutup. Jadi memang tidak ketemu. Persis seperti cara berpikir saya yang dangkal untuk memahami kok sekarang Pak Gatot tiba-tiba bisa jadi jubir seperti kata Uda Rizal Ramli.

Edt: Redaksi (AN)