Konser BPIP Tandai Miskinnya Ide dan Gagasan Yang Tidak Merakyat

Foto: Ist

“Penyebab dari pembangkangan sosial yang dilskukan oleh penyelenggara negara itu semakin membuat rakyat kecewa”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Pembangkangan sosial itu lebih gawat dari pembangkangan hukum bahkan pembangan cara politik seperti yang sudah lazim terjadi dan dilakukan oleh para politisi dan pelaksana hukum di negeri ini.

Penyebab dari pembangkangan sosial yang dilskukan oleh penyelenggara negara itu semakin membuat rakyat kecewa, bingung atau bahkan prustrasi karena merasa telah dipermainkan oleh petualang-petualang liar yang ambisi mengambil keuntungan entah dalan bentuk apa saja hanya untuk keperluan dan kepentingan sendiri. Jadi tak ada solidaritas dan kebersamaan dalam penderitaan yang tengah dialami orang banyak.

Karena itu konser musik yang dilaksanakan BPIP (Badan Pembina Ideologi Pancasila) ditengah pendemi corona yang menakutkan jadi sulit dicerna akal sehat. Sementara rakyat
diminta untuk membatasi kegiatan diluar rumah, tidak membuat kerumunan, tapi konser musik yang tak menarik itu seakan jadi unggulan serta kebanggan dari lembaga yang dibentuk oleh pemerintah dengan biaya dan ongkos operasional yang mahal.

Alih-alih lembaga yang sudah dilihat miring itu oleh banyak pihak, sangat terkesan hanya bagi-bagi jatah kekuasaan, toh nyatanya sampai hari ini tidak juga jelas apa yang hendak dan apa yang telah dilajukannya, kecuali menerima gaji buta yang tak alang kepalang besarnya.

Konser musik yang dilakukan BPIP itu jelas msnunjukkan betapa miskinnya ide dan gagasan untuk berperan mengatasi masalah bangsa dan negara yang sedang kalut digasak virus corona, sehingga semua kegiatan dan bentuk usaha jadi macet dan mengancam kehidupan untuk kembali normal.

Korban yang memalukan pun dari konser itu sudah ditunjukan dengan gamblang oleh Nuh, seorang buruh di Jambi yang mencerminkan dari kegagapan banyak orang dalam pengetahuan teknologi digital, termasuk panitia penyelenggara konser yang memalukan itu.

Jadi permintaan maaf Ketua MPR RI yang berlagak jentelmen itu pun jadi naif. Sebab kesalahan yang layak dimaaafkan karena dilakukan tanpa sadar. Lha, konser ditengah Pandemi corona itu toh sudah dirancang sedemikian rupa tanpa menimbang suana kebathinan rakyat yang sedang menghadapi beragam masalah tetusan dari ancaman corona itu sendiri seperti tidak meratanya pembagian sembako yang dijanjikan pemerintah daerah khususnya DKI Jakarta dan Pusat.

Alih-alih mau menyumbang buat rakyat yang tengah susah karena tak kerja, ter-PHK, tak bisa mudik dan tak dapat pesangon serta tidak terima THR, mana hasil dana yang bisa dikumpulkan itu dapat dibagikan untuk rakyat?

Kalau pun Nuh yang dianggap memenangkan motor bodol yang dilelang dibayar juga, toh cuma bisa menutup biaya konser yang super mahal itu.

Atas dasar kebanggaan pelaksanaan konser yang Justru melukai hati rakyat ini, wajar bila semua pembiayaan untuk mengatasi dampak terusan dari corona seperti dalam bentuk paket sembako dan bantuan dana tunai yang menggunakan duit rakyat harus diaudit dan dievaluasi, sebab banyak orang yang harus menerima bantuan itu jadi menderita karena harus berdiam diri dirumah.

Jangankan warga dari luar DKI Jakarta yang tak bisa pulang ke kampung atau mudik, tetangga dan teman yang ada disebelah rumah yang sudan diminta surat dan foto copy KTP serta KK pun sampai menjelang Hari Raya 1441 H ini belum juga menerima paket maupun bantuan dana tunai yang dijanjikan itu.

Kondisi nyata ini sungguh mengkhawatirkan sebab bisa menjadi bom waktu yang lebih dakhsyat akibatnya yang harus kita tanggung bersama.

Edt: Redaksi (AN)