Kriminalisasi Cinta Vs Cinta Putih

Foto: (Doc. Norman Arief)

“Ragam pemicu percekcokkan tersebut merupakan bentuk “kriminalisasi cinta’”

Oleh: Norman Arief

Depok (Bintangtimur.net) – Narasi ini terurai lantaran aktualisasi peristiwa yang berepisode selalu terjadi. Setuju atau tidak setuju ‘pacaran’ hanyalah kedepankan nafsu belaka. Bahkan akan berakhir dengan menyakitkan bagi yang ditinggalkan. Pendapat sekuler menyatakan sah-sah saja berpacaran, toh karena ada rasa cinta. Bahkan mungkin saja sarana menuju pelaminan.

Lain halnya pendapat syar’i, bahwa pacaran tidak dibenarkan lantaran mendekati dan bisa berbuat zina. Prolog ini sebagai tesis belaka sebelum memasuki antitesis.

Sebaiknya siapkan secangkir kopi sebelum melanjutkan membaca narasi abstraksi cinta ini. Dan disini diingatkan kembali bahwa prolog bukan berarti membahas pacaran atau dalil syar’i.

Hmmm…
Sering kita mendengar percekcokkan antara kedua pasangan manusia baik yang masih pacaran maupun yang sudah berumah tangga. Pertanyaannya kenapa hal itu bisa terjadi? Dan bukankah keduanya terbalut rasa cinta. Seharusnya sisi romantisme dan rasa nyaman yang tercipta.

Iya…
Beraneka ragam jawab yang terlontar, bisa saja karena sudah tidak cinta, ada orang ketiga, orang tua yang tidak setuju, anggota keluarga salah satu pasangan yang tidak menyenangkan, faktor ekonomi, pasangan yang sudah tidak menarik lagi, sudah tidak sejalan, rasa bosan, perselingkuhan dan banyak lagi faktor-faktor pemicu percekcokkan lainnya.

Iya…
Ragam pemicu percekcokkan tersebut merupakan bentuk “kriminalisasi cinta’.

Fatalnya bagi yang sudah berumah tangga bisa berakibatkan perceraian. Anehnya ada peristiwa yang penulis saksikan pasangan yang sudah bercerai menjalin hubungan kembali. Bahkan meski keduanya sudah menikah kembali dengan pasangan yang berbeda. Juga ada yang sudah menikah jalin hubungan kembali dengan mantan pacarnya. Jadi ‘pacaran’ disini menyisakan cerita yang bisa berputar kembali.

Iya…
Berbicara rasa cinta merupakan bahasa hati yang terkadang sangat irasional namun menjadi faktual.

Misteri cinta yang sejak zaman Nabi Adam dan Siti Hawa terwariskan kepada anak dan turunannya. Dimana “tersingkirkan dari surga” lantaran “buah khuldi”. Hal tersebut sering dijadikan alasan kelemahan manusia bahwa memang sudah dari sananya terjadi kekhilafan.

Hmmm…
Ragam perjalanan percekcokkan maupun keharmonisan cinta hingga akhir waktu tidak ada yang bisa memberikan garansi keabadian cinta itu sendiri. Setidaknya cerita itu ada apabila kedua insan saling menyatu. Dan cerita itu akan hadir dengan format baru apabila keduanya terpisah, baik itu perpisahan hidup maupun diakhiri dengan kematian.

Iya…
Timbullah sintesis cinta yang dinamakan “cinta putih”. Cinta putih itu akan abadi apabila keduanya sanggup ‘bertahan dan mempertahankan’. Hal ini merupakan perjuangan dan konsistensi keduanya dalam menjaga kesucian cinta yang ada. Jika keduanya dapat menjaga kesucian cinta putih maka tidak akan terjadi kriminalisasi cinta.

Tidaklah mudah menghindari ragam kriminalisasi cinta, tapi setidaknya membangun nilai-nilai kejujuran dan ketulusan dari masing-masing pasangan akan menghasilkan cerita cinta putih yang indah.

Iya…
Teori sederhana namun sukar-sukar mudah dilakoninya yakni, saling membangun komunikasi yang harmonis dan menerima bahkan bersedia memperbaiki ataupun menutupi kekurangan masing-masing pasangannya. Jika hal ini dilakoni maka layaklah keduanya mendiami “istana cinta putih”.

Iya…
Jika hal ini disadari oleh keduanya maka tidak akan ada cerita perpisahan, pindah kelain hati, perceraian dan pengkhianatan atas cinta.

Melangkahlah dengan ‘kedua kaki’ dan genggam erat pasangan kita. Sebagai rasa syukur kepada sang pecinta. 

Sebagai penutup sintesis, selamat menuju istana cinta putih. Jangan lupa habiskan secangkir kopi.

Edt: Redaksi (AN)