Kucing Kurap, Kucing Buduk dan Kucing Kampung

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Sebab tokoh-tokoh yang gabung di KAMI, jelas punya kaliber dan jam terbang yang tak perlu diragukan”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Membaca cerita dibalik berita memang tak gampang. Sulitnya lebih dari menembak bola bilyar yang liar dengan teknis diatas ban-4.

Jadi kalau membaca tendangan sudut Gatot Nurmantyo secara sekilas, tak mungkin pengamat kelas kampung paham atau mampu memprediksi mau kemana bola itu diarahkan.

Apalagi untuk seorang penonton awam yang belum banyak mengenal lapangan mana saja yang becek dan enak untuk manuver dan model apa saja yang bagus dan ingin diperagakan.

Pengamat kelas kampung boleh saja numpang memperkenalkan diri dengan cara apa saja, asal tak merusak tata krama dan etika pergaulan yang sudah lama dibangun oleh warga kota sebelumya.

Jika ujuk-ujuk muncul seorang yang mengaku pengamat lalu culas dan songong menasehati pemain bola yang sudah menggantung sepatunya sejak beberapa tahun silam, jelas pengamat ini palsu. Lha wong namanya saja baru sekali itu muncul dan diketahui publik, jadi jelas cuma mau ajar kenal saja, sebab essensi yang gumamkannya pun tak jelas juntrungannya.

Jadi untuk seorang yang mengaku pengamat (pasti karbitan) ceriwis pada sikap Gatot Nurmantyo yang tiba-tiba merasa keberatan lalu menyayangkan karena Gatot Nurmantyo selaku deklatator KAMI membuat pernyataan dukungan untuk buruh yang tengah gigih menolak upaya paksa pengesahan RUU Omnibus Law, jelas cuma mau numpang bekend saja. Sebab tentang Omnibus Law yang gawat itu pun yang bersangkutan tak pernah bicara.

Gerakan KAMI yang dinakhodai Gatot Nurmantyo dan kawan-kawan jelas lebih jembar wawasan dan pengetahuannya, sehingga untuk sekedar mengenali kucing buduk, kucing kurap dan kucing kampung pun sudah pasti lebih mengerti dan paham. Sebab tokoh-tokoh yang gabung di KAMI, jelas punya kaliber dan jam terbang yang tak perlu diragukan. Jadi tak usah lagi digurui seperti nasehat guru sekolah kelas kampung yang tak pandai mengukur baju di badan.

Meski begitu, toh tetap patut diucapkan terima kasih. Karena dengan begitu perhatian banyak orang seperti yang diharap juga oleh Gatot Nurmantyo untuk memberi dukungan pada perjuangan kaum buruh bisa lebih banyak dan lebih mendapat perhatian. Bahwa RUU Omnibus Law itu memang sangat gawat mengancam masa depan kaum buruh Indonesia.

Edt: Redaksi (AN)