LAPAN Respons Potensi Bahaya Roket China yang Jatuh di RI

Foto: Google

“Bahaya radiasi hanya pada sebagian kecil misi antariksa yg menggunakan teknologi nuklir, tetapi saat ini sudah dilarang,”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengungkapkan bahaya yang bisa mengancam saat benda-benda misi antariksa seperti roket jatuh ke bumi.

Pernyataan Thomas itu sekaligus merespons roket milik Lembaga Antariksa China (CNSA) yang jatuh di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng). Menurut Thomas jika roket tersebut menggunakan teknologi nuklir, maka radiasinya bisa mengancam bumi.

“Bahaya radiasi hanya pada sebagian kecil misi antariksa yg menggunakan teknologi nuklir, tetapi saat ini sudah dilarang,” kata Thomas dilansir dari CNNIndonesia.com, Kamis (7/1).

Namun demikian, LAPAN sudah memastikan bahwa roket China yang jatuh di wilayah Indonesia itu tidak menggunakan teknologi nuklir.

“Jadi tabung roket yang jatuh di Kalteng tidak ada potensi bahaya racun atau radiasi,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, saat ini misi antariksa sudah tidak diperbolehkan lagi untuk menggunakan energi nuklir, jadi kemungkinan terpapar radioaktif dari sampah antariksa itu minim.

Di samping itu Thomas juga menjelaskan bahwa potensi berbahaya dari sampah antariksa adalah jika suatu objek mengorbit dengan ketinggian rendah dan jatuh ke Bumi. Namun potensi jatuhnya sampah ke wilayah berpenghuni hanya kecil kemungkinan.

Sebelumnya LAPAN menyatakan benda mirip potongan badan pesawat terbang yang jatuh di Teluk Kramat, Kalteng Selasa (5/1), merupakan bagian dari roket Chang Zheng (Long March) milik China.

Dalam keterangan resmi, LAPAN menerangkan benda berukuran sekitar 3 x 4 meter itu jatuh pada Senin (4/1), dan telah diperiksa oleh aparat setempat.

LAPAN membeberkan sempat mendeteksi objek yang melintas rendah di atas wilayah Indonesia pada tanggal 4 Januari 2021. Sekitar pukul 14.01 WIB, LAPAN mendeteksi empat objek yang melintas di atas wilayah Indonesia dengan ketinggian rendah.

Model peluruhan orbit yang diadopsi, lanjut LAPAN, memperkirakan bahwa bekas roket tersebut akan mengalami re-entry pada bulan Maret 2021. Dengan input yang sedikit berbeda, model peluruhan sempat memberikan prediksi re-entry pada tanggal 4 Januari 2021.

Namun, LAPAN mengklaim ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan. Benda yang mengalami re-entry akan mengalami gesekan dengan atmosfer hingga memanas dan terbakar. Sebagian besar benda akan terbakar atau setidaknya akan tampak hangus ketika mencapai permukaan Bumi.

LAPAN berkata adanya benda dengan material ekstra kuat yang dapat bertahan dan menyisakan bagian yang mencapai permukaan Bumi. Proses re-entry juga dapat disertai ledakan yang akan mencerai-beraikan roket. Selubung luar roket juga dapat terkoyak tak beraturan.

“Pemikiran ini membuat kesimpulan bahwa benda yang jatuh di Kotawaringan Barat merupakan bekas roket CZ-3B menjadi tidak sepenuhnya meyakinkan,” kata LAPAN. (KR)

Edt: Redaksi (AN)