Lex Aeterna

Foto: Ist

“Jadi jika “Lex aeterna” dipuja sebagai hukum abadi, nampaklah hal itu telah keliru jauh. Melainkan hukum abadi itu bukan yang bersumber dari rasionalitas. Tapi tetap Wahyu”

Oleh: Irawan Santoso Shiddiq

Jakarta (Bintangtimur.net) – Thomas Aquinas (1225-1274) memunculkan istilah ‘Lex Aeterna’. Tentang hukum abadi. Ini bahasa Latin. Aquinas hidup kala dogma Gereja Roma menggeliat. Jamak manusia modernitas mengutipnya. Aquinas memulai filsafat masuk ke ranah Eropa. Dia sempat belajar di Cordoba. Walau catatan sejarah seolah dia belajar di Paris. Masa itu, Islam tengah menggeliat mendunia. Eropa masih belum mengenal kopi. Tapi belantara Islam tengah dipenuhi aliran mu’tazilah. Ini filsafat yang menyeruak dalam belantara Islam. Masa mu’tazilah itulah Socrates, Plato, Aristoteles di-Islam-kan.

Kemudian filsafat menyeberang ke Eropa. Aquinas membawanya dari Cordoba. Di sanalah bergema rennaisance. Itulah fase Socrates, Plato, Aristoteles di-Kristen-kan. Aquinas mulai memfilsafatkan ajaran Nasrani.

Di belantara Islam, filsafat mulai terhenti. Mu’tazilah dianggap menyimpang secara aqidah. Muncullah ulama ahlul sunnah waljamaah. Ulama membentengi aqidah muslimin. Agar tak terjebak pada paham mu’tazilah. maka sejak itulah dikenal istilah ‘ahlul sunnah waljamaah’. Secara garis besar, ahlul sunnah waljamaah itu untuk membentengi umat dari bahaya filsafat.

Di Romawi, filsafat sejak abad 4 telah ditutup. Konstantinopel melarangnya. Karena hal itu dianggap ajaran berbahaya. Tapi masa Abbasiyya, Islam memungutnya. Muncullah sains Islam yang mendunia. Fase itu yang membuka belantara Eropa barat. Mereka mulai melirik filsafat, untuk melawan dogma Gereja Roma.

Abad pertengahan pun dimulai. Santo Agustinus mulai memperkenalkan teori. Ingat, filsafat adalah segala sesuatunya harus diteorikan lebih dulu. Dia menulis kitab, ‘Civita de Dei’ (Kerajaan Tuhan). Agustinus menegaskan tentang pentingnya Civitas Dei. Dia membagi dua jenis hukum: lex Divina dan Lex Terrena. Karena, menurut Agustinus, selain hukum Tuhan, hanya ada hukum setan. Itulah yang disebut lex Terrena (hukum setan). Agustinus menggunakan istilah ‘Lex terrena atau lex diabolis’ (kerajaan Iblis).

Baru 6 abad kemudian Eropa muncul Thomas Aquinas. Dia tak merujuk pada Augustinus. Melainkan belajar dari Ibnu Rusyd (Avveroes). Dia tersohor di belantara Andalusia. Ibnu Rusyd sangat mengagumi Aristoteles. Kerap merujuk pada Aristoteles.

Aristoteles menjabarkan tentang ‘akal bawaan’. Ini yang dianggap hukum kodrat. Manusia dibekali akal bawaan, yang datangnya dari Tuhan. Tugas manusia, menggali ‘being’ dengan akal. Dari situlah hijab akan terbuka. Dengan ‘berpikir.’ Jadi seolah dengan ‘berpikir’, manusia akan menemukan ‘kebenaran.’ Karena Tuhan telah membekali manusia akal. Rasionalitas. Dari situlah Aristoteles menyodorkan tentang ‘substansi’. Plato menyebutnya ‘idea’. Dari situ Aristoteles menyebut pemimpin suatu komunitas manusia, haruslah seorang filosof. Yang mampu berpikir. Karena dengan ‘berpikir’ akan menemukan ‘Kebenaran.’

Murid Aristoteles terakbar dalam fase mu’tazilah, dialah Al Farabi. Julukannya sebagai ‘guru kedua’, setelah Aristoteles. Dalam belantara mutazilah, Aristoteles sangat digemari. Bahkan kisah Khalifah Ma’mun al Rasyid, suatu malam bermimpi berjumpa dengan Aristoteles. Mimpinya itu menghebohkan. Lebih heboh ketimbang seseorang bermimpi berjumpa dengan Rasulullah Shallahuallaihiwassalam.

Al Farabi menelorkan teori ‘emanasi’, Makna ‘emanasi’ disini berbeda dengan dalam pengertian tassawuf. Al Farabi menganggap filosof juga bisa menemukan ‘kebenaran’, dengan akalnya. Maka disebut teori kebenaran ganda. Kebenaran ala Wahyu dan kebenaran ala rasio. Filosof dianggap setara dengan Nabi. Karena Nabi menemukan ‘Kebenaran’ dengan bimbingan Wahyu. Sementara filosof menggali ‘Kebenaran’ dengan rasionya. Filosof menganggap ‘kebenaran’ abadi itulah yang diraih oleh akal. Rasionalitas. Aristoteles menyebutnya logika. Asal katanya ‘logike’, bahasa Yunani.

Masa Aristoteles, dalil naqli tak poluper. Tapi masa Al Farabi –vis a vis mu’tazilah—dalil naqli mendominasi. Tapi mu’tazilah menganggap, aqli dan naqli itu setara. Itulah emanasi. Masa itulah filosof dianggap sosok ideal sebagai Khalifah. Ini seiring teori Plato dan Aristoteles. Dalam ‘republik’, Plato menggambarkan pemimpin ideal, tentu orang yang mampu mengungkap ‘kebenaran’ dengan akalnya. Idem dito kala Aristoteles menuliskannya dalam ‘Politeia’. Makanya sejumlah Khalifah tak lepas dari jerat mu’tazilah. Al Farabi menuliskan kitab kesohornya, ‘Madinatul al Fadhilah’. Negeri ideal haruslah dipimpin seorang filosof.

Dari Al Farabi terus berhembus sampai Ibnu Rusyd. Abad 13. Dialah yang membela filsafat dari serangan mutakallimun, ahlul sunnah waljamaah. Karena Imam Asy’ari, Imam Mathuridi sampai Imam Ghazali menghajar habis kesesatan filsafat. Imam Ghazali menerbitkan kitabnya kesohor, “Tahafut al Falasifah’. Dan seabad kemudian baru Ibnu Rusyd membuat bantahan, ‘Tahafut at Tahafut’. Perdebatan di belantara Islam itu membuat decak kagum kaum Eropa. Mereka terkesima dengan penerimaan ‘filsafat’ dalam Islam.

Aquinas pun terperanjak. Dia banyak mempelajari kitab Ibnu Rusyd. Termasuk bagaimana Ibnu Rusyd membedah tentang filsafat kekuasaan, yang bersumber dari Plato. Judul asli buku itu, “Al Dharuri fi al siyasah: Mukhtasar Kitab al Siyasah li Aflatun”. Isinya tentang syarah dari kitab Plato. Dari situ Ibnu Rusyd mengkaji bahwa manusia sejatinya makhluk ‘berpikir’. Sama seperti teori ‘zoon logicon’-nya Aristoteles.

Dalam ‘The Laws’, Plato menjabarkan perihal bagaimana hukum harus dibuat. Teori hukum. Disitulah dia bertanya, ‘Siapa yang berhak membuat hukum bagi manusia?” Plato menjabarkan, hukum haruslah yang bersumber dari dunia ‘idea’. Yang buah dari pengungkapan penyelidikan rasio, yang kemudian mewujud dalam ‘idea’. Dari sinilah dia memperkenalkan tentang ‘ide bawaan.’ Di kitab itu pula, Plato mengatakan kala Socrates membagi dua jenis hukum: hukum alam (natural law) dan hukum rasio (reason law).

Pijakan itulah yang dibawa Aquinas ke Eropa. Dia menuliskan kitabnya, “Tweez wardeen theorie”. Tentang dua belah pedang. Ini penjabaran lain dari teori ‘emanasi’. Kebenaran ganda. Kebenaran ala Wahyu dan kebenaran ala rasio. Disitu Aquinas menegaskan tentang kebenaran ala rasio, tak menyalagi kebenaran Wahyu. Masa Aquinas, dogma Gereja Roma sangat kuat. Tak bisa dibantah. Ini semacam aliran ‘jabbariyya’. Sementara Aquinas hendak membawa aliran ‘mutazilah ke Eropa.

Aquinas menggambar lagi tentang hukum. Ada dua buku lain ditulisnya. ‘De Regime Principum’ (Pemerintahan Raja-Raja). Ini yang acap dikutip masa kini. Tapi khalayak melupakan Aquinas menulkiskan tentang bukunya ‘Tweez Waarden Theorie” tadi. Padahal di buku itu jelas Aquinas hendak mendudukkan ‘kebenaran’ ala rasio tak bertentangan dengan kebenaran ala Gereja.

Di situ lah dia menteorikan tentang empat jenis hukum. Hukum yang abadi, disebutnya ‘Lex Aeterna’. Ini puncak dari segala hukum, karena sumbernya akal murni. Buah dari penyingkapan ‘akal bawaan’, seperti diteorikan Aristoteles tadi. Karena hukum ala rasio ini, dianggap filosof tak akan tergoyahkan. Kebenarannya mutlak. Dan dianggap sebagai bersumber dari Tuhan.

Lalu dia menuliskan lagi tentang lex naturalis. Hukum alam. Jadi setelah lex aeterna, manusia merujuk pada hukum tata aturan alam semesta. Hukum yang telah ada sebelumnya. Tentang bagaimana angin berputar, air mengalir, sampai bagaimana api membakar, ini yang dikategorikan Aquinas sebagai lex naturalis. Kemudian ada lagi hukum positif.

Ini muncul setelah manusia ‘beprikir’ dan memanfaatkan dari ‘lex naturalis’ tadi. Maka muncul hukum positif, yang buah kelanjutan dari ‘lex naturalis’. Dan Aquinas mendudukkan ‘lex Divina’ sebagai bagian akhir. Hukum Tuhan. Karena rasio manusia juga berisikan kekurangan, maka ‘lex Divina’ dianggap sebagai pelengkap. Dari segala kekurangan yang ada dalam rasionalitas, barulah manusia memerlukan hukum ala Wahyu. Disinilah posisi Aquinas mendudukkan hukum, yang berlandaskan teorinya.

Dari situ, tampaklah bagaimana Aquinas mendudukkan dengan paksa Lex Aeterna sebagai hukum abadi. Yang sumbernya rasionalitas semata. Dan Wahyu dianggap sebagai pelengkap semata.

Maka, jika merujuk pada Santo Agustinus, tentu banyak ambivabalensi pada teori Aquinas. Agustinus mendudukkan hukum pada dua jenis semata, sebagaimana juga Socrates. Lex Divina dan Lex aeterna. Diluar dari hukum Tuhan, hanya ada hukum setan. Agustinus lebih memahami. Sementara Aquinas menteorikan dengan alibinya sendiri. Tapi disitulah filsafat. Segala hal dengan teori. Dan teori itu dianggap hal yang pasti.

Ini yang telah diwanti Imam Ghazali. Beliau menentang teori ‘kausalitas’. Sebab akibat. Filosof menganggap ‘prima causa’ itu berada pada ‘perbuatan manusia.’ Hasil rasio manusia. Ketika kertas bisa terbakar, maka prima causanya terletak pada api. Dan manusia dengan akalnya, yang menghasilkan api. Sementara Imam Ghazali mewanti. Api membakar kertas, karena memang sifat api dan sifat kertas yang saling bertemu. Dan sifat api yang membakar, merupakan sifat yang telah diberikan Allah Subahanhuwataala.

Demikian pula sifat kertas. Kala keduanya bertemu, maka muncul ‘tragedi’, dan bukan hal baru. Jadi ‘prima causa’ tetap terletak pada ‘perbuatan Tuhan’. Karena Tuhan yang meletakkan ‘sifat api’ dan sifat kertas itu. Dan, adakalanya Tuhan bisa mengubah sifat api, tidak menjadi panas kala membakar. Melainkan menjadi dingin. Ini yang terjadi kala Ibrahim Allaihisalam hendak dibakar. Tuhan mengubah sifat api tersebut menjadi dingin. Bukan panas. Jadi, kebenaran ala rasio, patut dipertanyakan. Karena rasio sangat tak stabil.

Sementara filosof berfantasi bahwa metafisika itu bersifat mutlak. Kala api bertemu kertas, pasti terbakar. Ini yang ditentang Goethe, “Mustahil alam dipikirkan sebagai sebuah sistem, karena alam adalah kehidupan.” Goethe memahami hukum alam ini bukan bisa dirasionalisasi. Aquinas menganggap lex naturalis tadi adalah sebuah hukum pasti. Karena dianggap sebagai hal yang sudah tertera dengan pasti. Disinilah kekeliruan filosof.

John Locke juga memahami. Dia berkata, “Wahyu sangat diperlukan, karena terdapat manusia-manusia yang menyalahgunakan rasio-nya.” Ini sebuah peringatan, bahwa ‘Lex Divina’ bukanlah pelengkap penderita. Aquinas mendudukkannya sebagai alternatif, dari kekurangan atas “lex Aeterna”.

Modernitas memberi bukti. Tentang bagaimana banyaknya manusia menyimpangkan rasionya. Ingat, Plato menggambarkan tatanan rohani manusia ini pada tiga hierarki: akal sebagai teratas (kepala), kehendak (dada), dan nafsu (perut). Jadi filosof beranggapan rohani itulah akal. Jiwa itulah akal.

Pengajaran ini berbeda dengan yang tertera dalam agama. Karena Islam menggambarkan lebih komplet. Tentang anatomi rohani. Di sana ada qalbu, akal, nafsu. Qalbu itulah bagian terdalam dari rohani manusia. Shaykh Abdalqadir al Jilani menggambarkan struktur anatomi rohani dengan sangat komplet. Inilah yang terwarisi dalam pengajaran tassawuf. Sementara filsafat membaliknya. Hanya terdiri dari akal, kehendak, dan nafsu.

Apa yang dipaparkan John Locke terbukti. Sebagaimana juga dulu Imam Ghazali telah mengingatkan. Bahwa akal bisa saja salah, dan jangan mengambil hakekat ajaran agama darinya. Locke bisa memahami bahaya itu. Ibnu Khaldun juga telah mewanti, akan bahaya filsafat dalam mengambil pijakan ‘Kebenaran.’

Martin Heidegger memberi bukti. “Filsafat tidak bisa dijadikan ajang menggapai ‘Kebenaran’, karena filsafat bisa dibuat memadai dan tidak memadai,” katanya dalam ‘Being and Time.’ Dan Heidegger menegaskan, filsafat hanya mampu menyibak ‘kebenaran’ essensialis. Bukan ‘eksistensialis’. Disinilah kata kuncinya. Karena jaman modernitas ini, filsafat telah banyak menyesatkan manusia. Dari rasio, manusia menyalahinya dan cenderung merujuk pada nafsunya. Dari Plato dulu, filsafat dijadikan ajang untuk menemukan “kebenaran’ Tuhan.

Tapi modernitas, filsafat cenderung disalahkanartikan untuk memenuhi ‘fakultas nafsu’. Ini yang disebut Wlilliam Friedman, bahwa filsafat hukum kini hanya dipenuhi hasrat para praktisi hukum. Bukan lagi buah rasio para filosof. Ini menunjukkan kepentingan nafsu lebih didahulukan. Sebagaimana gambaran Plato tadi, nafsu itulah perut. Dan akal bertemu dengan nafsu, maka jadilah filsafat materialisme. Bahwa ‘segala sesuatunya adalah materi.’ Ini yang disebut Nietszche bahwa “Filsafat itulah berhala.”

Jadi jika “Lex aeterna” dipuja sebagai hukum abadi, nampaklah hal itu telah keliru jauh. Melainkan hukum abadi itu bukan yang bersumber dari rasionalitas. Tapi tetap Wahyu. Dan itulah Lex Divina. Dan antitesanya hanya satu: lex terrena. Hukum Setan.

Edt: Redaksi (AN)