Lompatan Besar Diperlukan Untuk Mengatasi Tantangan Dunia Ketenagakerjaan

Foto: (Doc. Jacob Ereste)

“Idealnya minimal pada setiap organisasi pekerja di provinsi telah memiliki media massa sendiri”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Selamat Milad ke 22 PPMI dan Rakornas. Semoga menghasilkan solusi nyata untuk menjawab tantangan jaman.

Rakornas dan Milad ke 22 PPMI, 6 – 7 Maret 2020 akan segera berlangsung di Palembang Sumatra Selatan mengusung tema untuk menjadikan organisasi Pekerja yang terarah dan modern dalam barisan perjuangan Pekerja yang beriman, bertaqwa kepada Allah SWT, profesional, dihargai harkat dan martabatnya serta memiliki daya tawar yang tinggi serta mandiri, maju dan sejahtera atas ridho Allah SWT .

Pengurus PPMI berharap dapat terjadi dialog dan diskusi bersama seluruh Peserta Rakornas dan Instansi terkait lainnya dalam menyikapi permasalahan ketenagakerjaan di Indonesia. Demikian ungkap panitia penyelenggara.

Hasil dialog diharap bisa memberi solusi positif bagi penyelesaian permasalahan ketenagakerjaan baik dalam dan luar negeri. Karena Pekerja Indonesia adalah Salah satu komponen Pendiri Bangsa/Negara Indonesia dan tulang punggung perekonomian Indonesia. Karenanya pemerintah jangan sampai salah menangani masalah ketenagakerjaan di Indonesia.

Demikian pesan Daeng Wahidin Presiden PPMI dalam realase panitia yang bertebaran di media massa untuk menyambut acara akbar organisasi pekerja yang bernafaskan Islam ini.

Sayangnya panitia tidak mnyebutkan secara rinci rangkaian agenda acara perhelatan besar ini .

Sebab diskursus tentang organisasi pekerja yang perlu melakukan evaluasi untuk memaksimalkan peranannya dalam melakukan penyadaran, pemberdayaan sehingga memiliki bargaining power organisasi pekerja yang tangguh dan layak diperhitungkan oleh berbagai pihak, utamanya dari pengusaha dan penguasa, perlu dilakukan kajian serius.

Misalnya keengganan pekerja untuk bergabung dalam organisasi pekerja masih menjadi masalah serius akibat lemahnya pelaksanaan pelatihan maupun pendidikan guna mencetak kader yang tangguh dan mumpuni untuk terus mengembangkan organisasi.

Wacana pemikiran untuk membangkitkan kesadaran kaum pekerja dan perlunya berorganisasi memang ideal dilakukan terobosan melalui penguasaan media massa; baik cetak maupun media online seperti yang tengah jadi idola kawula muda atau mereka yang sering disebut generasi milenial.

Lalu sejauh mana maksimalisasi peranan media massa telah dapat dijadikan ujung tombak penerobos dibanding dengan cara konvensional seperti yang sudah lazim dilskukan sebelumnya?

Agaknya, trend dari pendidikan dan pelatihan model lama pun tidak lagi bisa dijasikan andalan. Apalagi cenderung tidak ajeg dan berkesinambungan. MIsalnya untuk pendidikan dan pelatihan dasar tentang organisasi yang lebih bersifat spesifik seperti paralegal dan jurnalistik terpakai.

Andai saja organisasi pekerja dapat menguasai media komunikasi dan publikadi serta informasi, niscaya organisasi pekerja bisa lebih diperhitungkan, baik oleh pengusaha maupun oleh penguasa yang masih dominan menekan pihak pekerja.

Belum lagi kelak jika RUU Omnibus Law bisa digoalkan dengan mulus oleh pemerintah yang mau memberi kemudahan pada para investor asing masuk ke Indonesia. Kondisi dan situasi perburuhan di tanah air kita bisa semakin runyam.

Artinya jelas tantangan bagi kaum pekerja serta organisasi pekerja akan semakin sulit dan berat di masa mendatang. Lantaean dampak dari pasar bebas yang sudah merambah sampai kepada masalah tenaga kerja akan semakin gawat.

Belum lagi kemudian serbuan tenaga kerja asing yang makin bebas masuk dsn merebut posisi tenaga kerja pribumi, jelas menjadi pesaing tenaga kerja kita yang ada di negeri sendiri. Karena itu lompatan-lompatan besar oleh organisasi pekerja sudah saatnya dilakukan agar tidak sampai tergilas oleh roda jaman yang terus berputar dan berubah.

Saatnya sekarang organisasi pekerja memaksimalkan peran media massa dalam bentuk dan model apapun yang bisa dikelola sendiri agar dapat dijadikan salah satu kekuatan pendukung dari upaya organisasi dalam memperjuangkan kesejahteraan anggota.

Idealnya minimal pada setiap organisasi pekerja di provinsi telah memiliki media massa sendiri. Meski pada awalnya masih berupa onlin, bukan mustahil pada saatnya kelak dapat dikembangkan hingga memiliki juga nedia cetak arau bahkan media audiotipe serta media audiovisual.

Lompatan dan terobosan serupa ini sekedar untuk menjadi contoh. Sebab mungkin saja dari rakornas dan sarasehan yang dilakukan pada momentum milad PPMI ini menemukan rumusan yang kebih jitu untuk menjawan tantangan jaman.

Selamat Milad yang ke 22 untuk kawan-kawan PPMI dan semoga Rakornas dapat menghasikan solusi terbaik dalam menghadapi kegaduhan di habitat ketenagakerjaan yang tengah dikocok oleh Omnibus Law.

Edt: Redaksi (AN)