Manusia Langit

Foto: (Doc. Norman Arief)

“Dua dimensi sisi manusia membawa raga dan ruh. Hal ini yang secara nalar banyak tidak dipahami dan sulit tersinkronisasi”

Oleh: Norman Arief

Depok (Bintangtimur.net) – Sejatinya tanah itu berada dibumi. Begitupun bani Adam yang berasal dari ‘tanah’. Lain hal nya manusia-manusia langit yang hilir mudik naik turun ke langit ketujuh.

Penjaga pantai saja berada dibumi, meski memantau laut diatas panggung tinggi. Namun semata untuk dapati sudut pandang yang luas.

Dua dimensi sisi manusia membawa raga dan ruh. Hal ini yang secara nalar banyak tidak dipahami dan sulit tersinkronisasi.

Iya…
Manusia bumi selalu menempatkan raga dalam menjalani kehidupan ini.

Iya…
Manusia langit teramat cerdik menempatkan raga dan ruh nya dalam menjalani skenario kehidupan.

Bukankah Tuhan telah dikatakan telah ‘mati’ oleh Friedrich Nietzsche. Namun hingga saat ini tidak satupun yang menemukan dimana Tuhan “dikubur”.

Seduhlah secangkir kopi sebelum lanjutkan membaca, karena narasi ini butuh nalar, bukan raga. Mungkin saja kopi bisa merangsang rasa pekatnya berfikir.

Sahabat sekaligus Guru yang pernah menempuh pendidikan di Yaman berkata: “nama Antum ga ada dilangit” ganti aja nama Antum mulai sekarang jadi Abdurahman. Lagi-lagi bahasa langit yang sulit diurai secara ragawi.

Daeng Rewa (pamanca) salah satu guru beladiri pun mengatakan: “Berlayarlah hingga ke langit, agar bumi selalu diterangi bintang meski malam selalu gelap”. Lagi-lagi bahasa langit.

Almarhum Kyai Rock n Roll pun berkata: “pindahlah ke langit, aturlah penghuni bumi”. Selalu bahasa langit ketika diri ini sedang melakukan pencarian hakekat.

Hmmm…
Jenuh rasanya atau mungkin anda sudahi membaca narasi ini.
Atau kebetulan penghuni langit yang kebetulan membaca sedang tersenyum karena paham narasi ini mengarah kemana.

Bebas sajalah siapa yang membaca narasi ini. Setidaknya “dzikir” manusia langit akan bertemu dan sruput kopi bersama dilangit.

Hendaknya manusia bumi, janganlah hinakan apalagi mencemooh manusia langit. Dengarkan dan patuhi saja manusia langit berbicara.

Semoga anda bisa menjadi manusia langit, setidaknya berfikir menjadi manusia langit.

Tersenyumlah dalam kesulitan hidup dan menangislah dalam kebahagiaan. Sebagai penutup jangan lupa habiskan secangkir kopi.

Edt: Redaksi (AN)