Markas Militer Myanmar Direbut Pemberontak Tentara Kachin

Foto: Google

“Pertempuran kedua belah pihak semakin sering terjadi sejak kudeta 1 Februari”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Pemberontak Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA) merebut pangkalan militer Myanmar di dekat perbatasan China setelah sebelas jam bertempur.

Pertempuran kedua belah pihak semakin sering terjadi sejak kudeta 1 Februari.

Menurut keterangan juru bicara KIA, Kolonel Naw Bu, mereka merebut pangkalan militer Myanmar di daerah Alaw Buam di Dawphoneyan, Negara Bagian Kachin, pada Kamis (25/3) pukul 04.00.

KIA juga disebut telah menangkap seorang komandan batalyon di pangkalan militer Myanmar itu.

Akan tetapi, Naw Bu tidak memberi penjelasan lebih lanjut mengenai korban dari pihak KIA atau militer Myanmar.

“Sejauh ini mereka belum memberi tahu saya tentang korban jiwa,” ucapnya kepada Myanmar Now.

Sementara ini, kata Naw Bu situasi di wilayah Dawphoneyan serta Kotapraja Waingmaw masih tegang.

Pada Senin malam lalu, Angkatan Bersenjata Myanmar atau Tatmadaw menyerang pos KIA di Waingmaw dengan menggunakan meriam kaliber berat. Kemudian kelompok etnis bersenjata itu membalas dengan tujuan merebut pangkalan Tatmadaw dekat lokasi itu.

Keesokan harinya, militer Myanmar kembali menembakkan artileri ke arah pos yang ditempati Batalyon Nomor 3 KIA di Kotapraja Sa Done.

Kedua belah pihak dilaporkan sudah terlibat pertempuran setidaknya tujuh kali selama Maret, antara lain di sejumlah kota di wilayah Mogaung, Hpakant, dan Myitkyina.

Pertempuran dimulai di negara bagian Shan pada Februari lalu yang dikuasai oleh Brigade 4, 6 dan 10 KIA, sebelum menyebar melintasi perbatasan Kachin.

Gelombang perlawanan terhadap kudeta militer Myanmar terus berlangsung. Bahkan sejumlah pemberontak menyatakan menolak kudeta itu.

Salah satu pemberontak yang menyatakan menentang kudeta adalah milisi Tentara Arakan (AA) di Negara Bagian Rakhine.

Tentara Arakan bergabung dengan kelompok etnis lain untuk melawan kudeta militer. Mereka menentang tindakan represif junta militer terhadap demonstran.

Sejumlah kelompok bersenjata lain yang terlibat pertempuran di perbatasan juga mengisyaratkan dukungan mereka untuk gerakan pro-demokrasi.

“Sangat menyedihkan bahwa orang-orang tidak bersalah ditembak dan dibunuh di Myanmar,” kata juru bicara AA, Khine Thu Kha, dalam sebuah pesan, Selasa (23/3) seperti dikutip dari Reuters.

Dia menegaskan akan bersolidaritas bersama warga sipil Myanmar.

Sejauh ini, berdasarkan laporan Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik mencatat sebanyak 320 orang meninggal sejak kudeta berlangsung, dan 2981 orang ditangkap oleh junta militer. (GI)

Edt: Redaksi (AN)