May Day “Syariah”

Foto (Doc. Norman Arief): “Memanusiakan manusia lebih mulia”

Oleh : Norman Arief

DEPOK (Bintangtimur.net) – Bicara tanggal 1 Mei, sudah terbentuk dalam hitungan masehi sebagai hari “buruh”. Dan ini sudah berlaku de facto secara internasional.

Perjuangan-perjuangan kaum pekerja dalam hal ini buruh telah berhasil menjadikan 1 Mei sebagai hari buruh internasional.

Dalam tulisan ini saya kesampingkan asal usul maupun terjadinya keputusan 1 Mei sebagai hari buruh internasional. Namun ingin mengurai secara singkat terkait dalil-dalil hak pekerja berdasarkan hukum islam.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ عُمَر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ ، قَالَ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ .
(رواه ابن ماجة)


Artinya :
Dari Abdullah bin Umar ra, berkata, Nabi Muhammad Saw, bersabda: “Berikanlah upah pegawai (buruh), sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibn Majah)

Cukup jelas dalil hadits diatas sebagai rujukan kaum buruh.

Disinilah si Boss atau Majikan dibebankan terhadap :

1). Untuk memberikan gaji pekerja atau karyawannya tepat waktu, tanpa dikurangi hak nya sedikit pun.

2). Majikan atau si Boss akan kena hukum jika tidak memberikan hak-hak pekerja. (Contoh : pelanggaran yang sudah diatur dalam UU tenaga kerja). Dalam hal ini, meskipun si pekerja kehilangan haknya di dunia, tetapi di sisi Allah pada hari Kiamat kelak, hak tersebut tidak hilang.

3). Larangan mengurangi hak pekerja dengan cara yang tidak dibenarkan. (Misal larangan dalam menunaikan ibadah sholat).

4). Jangan memberi beban pekerjaan atau menambah waktu kerja (lembur), jika hanya memberikan gaji pokoknya saja dan tidak memperhitungkan selisih waktu pekerjaan. (Upah lembur).

5). Hindari perselisihan dengan kaum buruh. Dalam hal ini jangan menunda-nunda pembayaran gaji, atau bahkan tidak memberikan hak gaji atau honor. (Sebaiknya Majikan tidak perlu menunggu sampai kaum pekerja menempuh jalur hukum setelah ada perkara melalui usaha demo, negosiasi, bahkan  laporkan pengaduan hingga ke pengadilan hukum industri atau pihak yang berwajib).

6). Jangan memberikan beban tugas kepada pekerja melebihi batas kemampuannya atau tidak sesuai dengan hukum yang berlaku.

7). Perhatikan kesejahteraan karyawannya. (Tunjangan kesehatan, pendidikan, dll)

8). Islam memberikan peringatan keras kepada para majikan yang mendzhalimi karyawannya atau buruh.

Terkait pelanggaran atau kewajiban yang tidak dipenuhi sang majikan akan berhadapan dengan hukum syar’i.

Yakni: Mengurangi hak pekerja dengan cara yang tidak dibenarkan:

۞وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ

“Kecelakaan besarlah bagi mereka yang curang.” (QS. Al-Muthaffifin.83:1)

Pekerja juga harus bersikap profesional.

Pekerja atau buruh yang baik adalah yang meningkatkan kualitas kerjanya;

۞وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Dan masing-masing orang memperoleh derajatnya dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Al-An’am.6: 132).

Azas Keadilan Majikan dengan Buruh:

Hubungan pengusaha dengan pekerja atau buruh, Islam memiliki prinsip musawah (kesetaraan) dan ‘adlah (keadilan). Dengan prinsip kesetaraan menempatkan pengusaha dan pekerja pada kedudukan yang sama, yaitu saling membutuhkan;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ۞

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah Swt, ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.

Seperti Firman Allah Swt, :

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. Al-Hujurat.49:13)

Fakta Integritas atau perjanjian kerja :

Selain itu Islam memiliki prinsip keadilan (‘adlah), merupakan prinsip yang cukup ideal dalam konsep perburuhan. Dengan prinsip ini akan menempatkan kedua belah pihak, baik buruh maupun majikan, untuk memenuhi perjanjian yang telah disepekati bersama dan memenuhi kewajibannya;

وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ ۞

“…dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah.2: 177)

Dilarang dalam memberikan beban pekerjaan kepada buruh secara berlebihan melebihi batas kemampuannya;

ۚ ۞١- لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”(QS. Al-Baqarah.2: 286)

ۚ ۞٢- لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَآ ءَاتٰىهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya.”(QS. At-Talaq.65: 7)

Semoga paparan singkat diatas dapat dijadikan refrensi dalam merayakan hari buruh agar lebih bermakna dan menuju kehidupan yang lebih baik antara majikan dan buruh.

Memanusiakan manusia lebih mulia.

Selamat hari buruh.

Edt: Redaksi (AN)