Media Sosial dan Profesi Buzzer Telah Menjadi Ladang Serta Pekerjaan Baru

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Ibaratnya habis manis sepah dibuang, itu persis seperti adanya untuk buzzer di sekitar istana”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Pengakuan Moeldoko: Sudah Tidak Perlu Lagi Buzzer-buzzeran (Viva,Co.Id, Jumat, 4 Oktober 2019) sungguh menarik bahwa buzzer itu memang ada, meski pihak penggunanya menjelaskan dengan berbagai permakluman dan pembenaran dari keabsahan penggunaannya.

Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko mengaku, tidak lagi memerlukan buzzer, yang aktif bergerak di media sosial. Ia mengatakan pada awalnya buzzer memang muncul untuk membela marwah daripada pimpinannya. Hanya saja, saat ini tidak lagi dibutuhkan peran buzzer itu.

Ibaratnya habis manis sepah dibuang, itu persis seperti adanya untuk buzzer di sekitar istana.

Namun para buzzer itu sekarang ditenggarai dapat proyek untuk RUU Omnibus Law, sehingga image maupun persepsi serta pemahaman masyarakat jadi terbius untuk ikut menerima atau bahkan memberi dukungan para RUU “Celaka” itu bagi kaum buruh.

Akibatnya, tentu saja perjuang dari kaum buruh untuk mengganjel RUU “Celaka” itu agar tak disahkan hingga membuat kaum buruh Indonesia semakin sengsara, jangan sampai terjadi. Apalagi kemudian memberi kesan buruk pada kegigihan kaum buruh yang menentang RUU Cipta Kerja itu secara paksa dan tidak transparan.

Sejumlah artis yang terjebak dengan duit pembayaran untuk ikut mempromosikan kesan baiknya RUU “Celaka” memang sudah meminta maaf. Bahkan beberapa diantaranya susah mengembalikan uang pembataran yang terlanjur mereka terima.

Masalahnya memang bukan soal maaf serta pengembalian uang pembayaran untuk ikut mengkampanyekan dan.membuat kesan baik pada RUU “Celaka” itu, tetapi prilaku dari pihak yang birahi untuk menggoalkan RUU “Celaka” itu jelas tidak atad dasar itikad baik, sehingga harus menghalkan segala cara.

Sementara warga masyarakat, khususnya kaum buruh Indonesia yang akan sangat merasakan dera dan derita dari dampak buruk dan jahat Omnibus Law Cipta Kerja itu justru tidak diajak metumuskan mulai dati draff hingga pembahasannya di DPR. Itulah sebabnya buruh pun sebetulnya dipaksa pula untuk aksi unjuk rasa, mogok dan turun ke jalanan.

Realitasnya di lapangan pun, kaum buruh yang didukung penuh oleh mahasiswa serta aktivis dan kaum pergerakan distigma oleh apatat adalah pembuat onar.

Moeldoko juga mengakui bahwa buzzer itu perlu untuk memberi dukungan seperti untuk memberi kesan benar serta bagus pada semua bentuk pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah.

Catatan penting dari pernyataan Moeldoko saat di Bina Graha, Jakarta (Jumat 4 Oktober 2019) bagwa buzzer itu yang dibutuhkan sekarang adalah memberi dukungan politik yang bersifat membangun. Bukan dengan cara-cara buzzer yang cenderung destruktif, tandas Moeldoko.

Seban untuk membangun dibutuhkan persatuan dalam menghadapi berbagai tantangan global.

“Karena kalau buzzer-buzzer ini melemparkan kata-kata yang tidak enak didengar, tidak enak di hati”, katanya jadi terkesan destruktif. Dan cara seperti itu sudah tidak lagi diperlukan.

Mantan Panglima TNI ini mengaku sudah menjalin kerjasama dengan membangun komunikasi dan kesepahaman. Atas dasar itu pula menurutnya, buzzer tidak lagi diperlukan.

“Saya berharap buzzer dari segala penjuru ini juga harus menurunkan egonya, menurunkan semangat yang berlebihan dan seterusnya,” katanya.

Tidak ada masalah jika para buzzer tersebut melakukan pembelaan terhadap idolanya. Namun, kata Moeldoko, harus menggunakan cara-cara yang baik, tidak membangun permusuhan dan perpecahan.

Dari perspektif muring buruh, profesi buzzer bisa juga positif karena telah membuka lapangan kerja baru, meski tidak terbilang ideal. Tapi toh untuk mereka yang kehilangan atau kurang pekerjaan tambahan bisa saja menjadikan buzzer sebagai pilihan.

Essensinya adalah, sungguhkah pekerjaan yang lebih mulia tak lagi tersedia di negeri kaya raya ini? Sebab negeri kaya raya ini tak hanya berarti dalam arti materi, tapi juga peluang dan kesempatan yang melimpah ruah. Tentu saja lain ceritanya memang sudah menjadikan buzzer sebagai pilihan.

Artinya buzzer dalam Pilpres, buzzer dalam upaya membangun image dan menggoalkan RUU “Celaka” yang sempat menggaet sejumlah artis, bahkan dalam gerakan serta aktivitas lain, jelas membutikan tak hanya ragam obyek tersebut merupakan hal yang penting untuk di goalkan atau harus dimenangkan, tapi juga menjadi bukti bila media sosial yang digunakan itu sungguh dahsyat dan tak bisa disepelekan.

Edt: Redaksi (AN)