Melangkah Dengan Kedua Kaki

Foto: (Doc. Norman Arief)

“Sejatinya tanpa disadari kita melangkah dengan satu kaki, karena kaki satunya masih terseret-seret bertahan dizona masa lalu”

Oleh: Norman Arief

Depok (Bintangtimur.net) – Membaca judul diatas tidak ada yang aneh rasanya. Karena jelas normalnya melangkah itu harus dengan kaki bukan dengan tangan. Maaf tanpa ada niat menyudutkan kaum disabilitas.

Sejatinya tanpa disadari kita melangkah dengan satu kaki, karena kaki satunya masih terseret-seret bertahan dizona masa lalu.

Iya…
Banyak juga yang melangkah dengan kedua kaki tapi sebenarnya sedang berjalan ditempat.

Narasi ini hanya mengingatkan agar sebaiknya melangkah harus dipastikan dengan kedua kaki dan tidak berjalan ditempat.

Iya…
Sinkronisasi nalar dengan kaki sangat dibutuhkan agar target hidup bisa tercapai.

Orang berfikir bahwa mencapai impian itu cukup dengan niat. Sejatinya malas untuk melangkah dengan kedua kaki.

Iya…
Pada akhirnya menyalahkan keadaan dan waktu yang tidak berpihak.

Nalar seperti itu harus di install ulang agar tidak terjebak dalam zona stagnasi.

Sebenarnya diperlukan sinergi nalar dengan kedua kaki agar impian bisa terealisasi. Jika sinergi terjalin maka harmonisasi dalam melangkah akan tercipta.

Kesalahan dalam melangkah adalah apabila kaki kanan sudah melangkah namun kaki kiri masih berada di zona masa lalu. Dengan kata lain sulit meninggalkan keadaan yang lama menuju keadaan yang baru. Singkatnya sulit hijrah.

Maka langkah akan tertatih-tatih karena kaki kanan harus menanggung beban masa lalu.

Kesalahan melangkah hingga berjalan ditempat lantaran nalar berbalik haluan pada masa lalu. Akhirnya sia-sia dan penyesalan yang didapat.

Saatnya tanamkan “semangat” dalam melangkah dengan kedua kaki. Karena dengan bekal “semangat” langkah awal untuk siap menjadi sukses.

Sudahi saja nalar berada dalam kungkungan masa lalu yang tidak beruntung. Ciptakan nalar baru yang optimis bahwa zona nyaman yang sesungguhnya akan diraih.

Selamat melangkah dengan kedua kaki dan nalar yang optimis.

Edt: Redaksi (AN)