Melawan Buzzer Tidak Harus Menjadi Buzzer

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Yang kacau memang bisa saja berasal dari pemahaman dan pengetahuan kita sebagai warga masyarakat yang masih bisa disesatkan oleh para buzzer dan influencer bayaran itu”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Fenomena buzzer maupun influencer itu semakin menarik dibincangkan. Pertama bukan hanya kerena pemerintah sendiri sibuk membantah tidak menggunajan buzzer maupun ingluencer itu –yang justru semakin meyakinkan betapa pentingnya sosok buzzer dan influencer– tetapi yang lebih menarik adalah saya sebagai jurnalis adalah perlu adanya kesadaran warga masyarakat untuk memahami betapa hebat dan dakhsyatnnya buzzer dan media sosial itu jika dikelola dan dimanfaatkan lebih maksimal penggunaannya.

Apalagi kemudian mau memahami seluk beluk dari keahlian dan kepiawaian para buzzer dan influencer itu sebagai orang yang menekuni bidang pekerjaan yang relatif baru di negeri kita. Utamanya dalam konteks minimnya lapangan kerja yang bisa dan harus disefiakan oleh pemerintah agar warga masyarakat yang tak punya kerja atau baru di-PHK –terutama saat Covid-19 yang sedang menghajar semua sektor penghidupan– pekerjaan buzzer dan influencer mungkin saja terpaksa menjadi pilihan.

Masalahnya memang apakah hasil kerja buzzer dan influencer itu cenderung menyesatkan atau membofohi atau hendak belokkan akal sehat atau pemahaman kita yang waras agar ikut latah mengkampanyekan RUU Omnibus Law yang diperankan oleh para selebritis itu hanya demi segepit duit?

Yang kacau memang bisa saja berasal dari pemahaman dan pengetahuan kita sebagai warga masyarakat yang masih bisa disesatkan oleh para buzzer dan influencer bayaran itu.

Dan soal duit bayarannya pun untuk para buzzer dan influencer itu bisa saja ditanggung oleh siapa saja, asal tidak menggunakan uang rakyat yang dikelola oleh negara. Bila yang dipakai untuk membayar buzzer dan influencer itu memakai uang rakyat, ya kita punya hak menyatakan krberatan serta meminta pertanggung jawaban.

Dari perspektif lain, fenomena dari penggunaan buzzer dan influencer untuk menggoalkan RUU Omnibus Law yang terus gigih ditentang oleh buruh dan serikat buruh pembahasannya yang tidak terbuka, tidak baik dan tidak berpihak sama sekali pada kaum buruh itu, jelas mengisyaratkan banyak bertabur duit dalam proses pembahasannya yang juga sangat terkesan ada owner atau buyer yang memesan.

Dari sisi aktivis yang gigih berjuang untuk rakyat bisa juga disadari betapa pekerjaan buzzer dan influencer itu tak bisa dilihat sebelah mata. Jika pun tak hendak melakukan cara yang sama, setidaknya bisalah kita menghindarbdari sergapan mereka dan mampu mengantisipasi atau melakukan perlawan dengan cara yang lebih jitu dan tak kalah ampuh dan canggih dari teknik serbuan para buzzer dan influencer itu.

Dalam konteks ini agaknya lebih tepat dimengerti sebagai bagian dari budaya perang cyber yang sudah tidak mungkin bisa dihindari.

Alih-alih untuk dapat lebih memanfaatkan media sosial agar bisa lebih baik dan lebih bermanfaat ketimbang hanya haha-hihi belaka, atau sibuk selfi atau main game yang tidak jelas juntrungannya. Sementara perjuangan dalam bentuk apapun pada era milineal sekarang tidak lagi boleh mengabaikan media sosial yang tidak cuma sebatas memberi atau mendapat informasi, publikasi dan komunikasi saja, karena lewat media sosial bisa dijadikan alat penangkis serangan lawan, atau bahkan menyerang balik hingga musuh pun mampu kita dilumpuhkan.

Saya kira itu yang penting dalam menyimak sepak terjang buzzer dan influencer yang sedang ramai jadi tajuk bincang banyak orang sekarang ini. Tak kecuali Istana Merdeka pun riuh menangkis dan menjawab bahwa buzzer maupun influencer tidak ada di bilik Istana.

Masalah buzzer dan influencer bagi saya juga perlu dicernati agar dapat lebih mampu meningkatkan pemahaman dan kesadaran siapa saja sebagai aktivis dan kaum pergerakan untuk tetap gigih dan tangguh berjuang demi dan untuk rakyat.

Minimal dalam tutur katanya pun yang hendak mereka injeksikan kepada semua orang agar dipengaruhi pencernaan otak dan akal sehat kita, mungkin bisa semakin tangkas dan jeli untuk kita tangkap. Karena mungkin yang harus dilakukan kemudian bisa harus kita musbahjan. Atau sekedar dapat mengendalikan saja seperti adanya kiriman santet yang mampu kita tangkal atau dipulangkan pada pengirimnya.

Jadi kita pun harus banyak belajar mengenai ilmu terbaru ini guna menghadapi para buzzer dan influencer, meski tak juga harus dan perlu menjadi buzzer maupun influencer.

Toh buzzer dan influencer kaliber kampungan bisa gampang kita tandai, mulai dari sukacita selera bahasa tuturnya sampai gaya bahasa selengekkan yang digunakan.

Tentu saja lain ceritanya kalau kualitas kita sendiri memang berada di bawah pengetahuan dan kemampuan rata-rata mereka. Ya, tewaslah kita.

Edt: Redaksi (AN)