Melvin Edward Lebih Layak Direhabilitasi Bukan Dijerat Pidana

Foto: Suasana Sidang Terdakwa Narkoba Melvin Edward di PN Jakarta Barat (ist)

“Sesuai dengan alat bukti dan keterangan saksi, Melvin lebih layak mendapat vonis rehabilitasi dari ketergantungan terhadap narkoba”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Masa depan korban narkoba seperti Melvin Edward alias Pontoh banyak bergantung pada penegakan hukum, termasuk putusan hakim jika kasusnya sudah masuk pengadilan.

Pengalaman Melvin tengah menanti putusan hakim yang mengadilinya di Pengadilan Negeri Jakarta Barat juga dapat menjadi pelajaran bagi para korban narkoba juga keluarganya.

Sebelumnya, Melvin tertangkap tangan mengkonsumsi narkoba jenis sabu (methampetamin). Polisi menangkapnya pada Kamis dinihari, 13 Juni 2019, di apartemen Mediterania, Grogol, Petamburan, Jakarta Barat dengan barang bukti sabu seberat 0,41 gram kotor.

Dia lantas menjadi tahanan di Rutan Salemba, Jakarta Pusat, namun masih harus menjalani sidang lantaran berkasnya telanjur masuk pengadilan.

“Sesuai dengan alat bukti dan keterangan saksi, Melvin lebih layak mendapat vonis rehabilitasi dari ketergantungan terhadap narkoba. Sedangkan putusan pidana dikhawatirkan hanya akan menjerumuskannya ke situasi yang lebih buruk lagi,” kata Kuasa Hukum Melvin, T Bintang El Thamrin, di Jakarta, Rabu (26/2).

Menurut dia putusan sidang adalah ranah kewenangan hakim pengadilan sehingga sebagai advokat ia tak ingin mendahuluinya.

“Pihak Melvin hanya dapat berharap Majelis Hakim yang menyidangkan perkara Melvin di Pengadilan Negeri Jakarta Barat memutusan perkara ini seadil-adilnya,” tegas Bintang.

Bintang menjelaskan, bahwa bukti dan saksi memang sangat menguatkan untuk majelis hakim memutuskan vonis rehabilitasi dari ketergantungan narkoba yang dialaminya.

Bukti pertama yang disita dari tangan Melvin memenuhi syarat menjalani rehabilitasi dan justru belum termasuk klasifikasi tindak pidana penyalahgunaan narkoba.

“Acuannya adalah Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) No 4 Tahun 2010 tentang Penempatan Penyalahgunaan, Korban Penyalahgunaan dan Pecandu Narkotika ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial. Jelas pada Poin 2 butir b,” papar Bintang.

Poin 2 butir b dalam SEMA No 4 Tahun 2010 menyebutkan bahwa yang dapat diklasifikasikan sebagai tindak pidana narkoba jika pada saat tertangkap tangan ditemukan barang bukti satu hari untuk kelompok methampetamine (sabu) sebanyak satu gram atau lebih.

Sedangkan barang bukti yang ditemukan dalam tangkap tangan Melvin hanya 0,41 gram, di bawah 0,5 gram.

Bintang mengungkapkan, dalam sidang terakhir yang menghadirkan saksi meringankan (a de charge) pada Kamis, 20 Februari 2020 lalu, terungkap bahwa Melvin juga lebih layak menjalani rehabilitasi.

“Saksi a de charge untuk Melvin adalah dokter dan psikiater Bambang Eka Purnama dari Yayasan Gagas yang ahli dan sangat berpengalaman dalam menangani korban narkoba,” kata dia.

Dalam sidang itu, kata Bintan, dokter Bambang mengungkapkan hasil pemeriksaan pada Oktober 2019 ketika Melvin masih berada di Rutan Salemba, menunjukkan korban baru berada di tahap ketiga belum ketergantungan yang ada di tahap kelima.

“Jadi, rekomendasi untuk korban yang berada di tahap ketiga adalah rehabilitasi, bukan pidana,” tegas Bintang lagi.

Tahap ketergantungan narkoba terdiri dari tujuh tingkatan mulai dari kompromi terhadap orang lain yang mengkonsumsi narkoba hingga menjadi korban yang meninggal dunia.

Pada tahap ketiga, pengguna sudah mengkonsumsi narkoba beberapa kali dan tubuhnya menjadi toleran sehingga merasa perlu ada penambahan dosis lebih besar agar mendapat efek yang dikehendaki.

Sedangkan tahap keempat adalah kebiasaan dan kelima ketergantungan.

Dengan bukti yang mengacu pada SEMA No 4 Tahun 2010 dan keterangan saksi meringankan yang ahli di bidang penanganan korban narkoba, Melvin berharap Majelis Hakim yang diketuai Rita Elsy akan memutuskan vonis rehabilitasi.

“Itu juga harapan kami sekeluarga,” kata Nova, kakak kandung Melvin, yang juga menjadi saksi meringankan.

“Kita tunggu putusan atau vonis Majelis Hakim PN Jakarta Barat yang menyidangkan perkara Melvin dengan harapan menjatuhkan vonis seadil-adilnya. Semoga pengalaman Melvin berguna bagi siapa saja agar menghindar dari jerat narkoba laknat itu,” sambung dia. (ZS)

Edt: Redaksi (AN)