Memaknai Musibah Virus Corona

Foto: (Ist)

“Tuhan hendak mengingatkan manusia untuk kembali pada kebenaran. Melakukan muhasabah sebagai hamba Allah yang diciptakan bersifat lemah”

Oleh: Andy Syam

Jakarta (Bintangtimur.net) – Meruntuhkan kesombongan dan kepongahan manusia sebagai mahluk cerdas dan serba bisa.Ketinggian Science dan Tekhnologi tidak berdaya.

Bagi kalangan materialis dan liberalis, virus corona adalah suatu yang kebetulan, hasil dari evolusi dan interaksi alam.Tapi bagi kalangan spiritualis atau agamais, virus Corona sebagai teguran alam. Virus adalah bagian terkecil dari alam. Alam adalah media rahmat dari Sang Pencipta untuk melayani kehidupan manusia sebagai Khalifah dimuka bumi. 

Alam dalam kendali Dia Yang Maha Mencipta menundukkanya untuk melayani sang Khalifah dimuka bumi. Ditundukannya matahari  bulan dan bintang untuk mu serta semua yang ada diatas dan di dalam bumi.

Tetapi kemurkan-Nya membuat alam dari media rahmat yang melayani berubah menjadi media bencana (musibah). Musibah itu memberikan pelajaran karena kesombongan dan kepongahan manusia membuatnya bergelimang dengan dosa.

“Katakanlah, maka mengapa Allah menyiksamu karena dosa-dosamu?” (Qs. al. Maidah : 18)

Kesombongan dan Kepongahan Manusia

Ada dua kesombongan dan kepongahan manusia;

1). Manusia merasa diri bebas dan otonom. Tak ada otoritas diatas manusia (Satre). Tuhan telah mati (Niatzche). Manusia bisa hidup dan bahagia tanpa Tuhan. Ajaran filsafat eksistensialisme ini membuat manusia jauh dari rumah ibadah. Di Eropah Gereja-gereja sepi. Namun ajaran filsafat itu, hingga kini belum  berhasil meruntuhkan spiritualitas Islam.

Dulu agama datang untuk mengendalikan tirani kebebasan manusia primitif seperti tipelogi Qabil membunuh Habil. Qabil yang sudah punya tunangan tapi ingin merebut tunangan Habil. Inilah karakter nafsu birahi manusia berlaku sepanjang zaman. Tipelogi Qabil yang kuat secara zalim menindas Habil yang lemah.

Demikian pula kezaliman Fir’aun yang membunuh setiap bayi laki-laki baru lahir, sekaligus mendeklarasikan diri sebagai Tuhan yang bisa menghidupkan dan mematikan. Tetapi akhirnya, otiritas Tuhan Yang Maha Kuasa menenggelamkan Fir’aun kedasar laut ketika ia mengejar Nabi Musa beserta pengikutnya.

Dari dahulu kala, selalu ada manusia yang tidak ingin tunduk pada otoritas Tuhan.

Ketika Presiden China Xi Jinping, mengetahui bahwa Amerika telah gagal meruntuhkan sistem keuangan (moneter) China, serta merta ia berkata, tak ada kekuatan yang bisa mengguncang China. Namun ketika Virus corona menyerang, China serta merta goncang, kota-kotanya bak kota mati.

Kini kebebasan rasional manusia hendak menggusur agama. Dari agama publik menjadi agama ruang sempit (privat) ditaruh dilaci lemari dan kamar ibadah. Inilah kesombongan dan kepongahan kebebasan manusia modern yang rasional.

Bahkan ideologi komunisme yang dianut China menyebut agama adalah candu, suatu yang memabukkan jiwa (Karl Marx).

Namun, generasi belakangan di negara-negara sekuler Barat yang hidup berkelimpahan materi mulai merasakan hidup tanpa makna (Danah Zohar dan Ian Narshal, Spiritual Quotient). Mereka ingin kembali menemukan spiritualis. Mereka akhirnya menemukan agama (Islam) sebagai petunjuk jalan kehidupan.

Namun kebencian pada agama (Islam) terus dihembuskan sebagai sumber terorisme. Walaupun dalil kebencian itu, makin hari makin tidak diyakini.

Demikianlah dosa-dosa manusia yang bersumber dari kebebasan manusia rasional terus menggempur eksistensi agama yang dianggap sebagai budaya primitif. Padahal tanpa agama tirani kebebasan manusia nyaris tanpa batas.

Thomas Hobbes menyebut tirani kebebasan manusia itu dalam adagiumnya “semua melawan semua”. Hidup bagaikan serigala saling memangsa. Para pengkritik kapitalisme menyebut economic animal. Yang kuat modal menindas yang lemah modal menimbulkan kesenjangan dan ketimpangan.

2). Kesombongan dan kepongahan manusia karena merasa menguasai ilmu pengetahuan (science) dan Tekhnologi yang menjelma menjadi agama baru yang membimbing dan memajukan kehidupan manusia secara material.Anggapan bahwa semua masalah dan hambatan hidup bisa diatasi dengan science dan Tekhnologi.

Karena itu, kalau mau maju ajarkanlah science dan Tekhnologi. Tinggalkan pendidikan agama. Jangan habiskan waktu menghapal Al-Kitab (Al Qur’an), ibadah  dan baca doa. Hapus pelajaran agama disekolah.

Demikianlah dosa-dosa manusia karena kesombongan dan kepongahannya.

Tetapi kemudian, kesombongan dan kepongahan manusia itu tersentak tiba-tiba setelah muncul serangan virus Corona, makhluk halus yang tak terlihat oleh panca indera. Manusia panik karena serangan virus Corona.

Kemungkinan sebab-sebab

Sebab-sebab munculnya virus Corona ini , kemungkinan ada dua.

Kesatu, karena kelalaian manusia. Lalai dalam eksperimen (percobaan). Hasilnya dan dampaknya kemudian tak terkontrol. Menimbulkan kerusakan dimuka bumi dengan penderitaan manusia. Kalau kelalaian para ilmuawan  ini betul terjadi, maka China mesti bertanggung jawab atas korban dan penderitaan manusia. China mesti membuka akses penyelidikan international.

Demikianlah kelemahan otoritas manusia bisa menimbulkan tirani baru dari penggunanaan Tekhnologi yang tidak terkontrol.

Kedua, kemurkaan sang Pencipta karena dosa-dosa manusia. Kebebasan rasional manusia telah melampaui batas-batas agama, etika dan moral. Kebebasan yang mengejar hidup yang berkelimpahan, mengejar kenikmatan fisik semata dan mereduksi kehidupan manusia yang bermartabat yang penuh cinta kasih.

Dengan  virus Corona manusia di planet bumi tiba-tiba kehilangan otonomi dan kebebasan.

Menghadapi virus corono manusia dihantui oleh ketakutan yang amat sangat. Dampak  virus corona yang sangat mencemaskan. Hanya dalam beberapa minggu, penyebarannya bisa Menjangkau ke 140 negara menjangkiti sekitar 124 .000 orang, dengan korban kematian sekitar 5.000 orang (data sekitar tanggal 15 Maret). Mungkin saja sudah jauh meningkat.

Epidemi virus Corona terus meluas dan intens. Jumlah kasus dan korban terus bertambah berkali lipat.

Serangan virus Corona dimulai pada pusat perdaban materil dunia dan pusat science dan Tekhnologi dunia yaitu : China, Italia, Jerman, Amerika (New York), Korea dan lain-lain. Mereka tidak berdaya, selain mengisolasi warganya dan melakukan lock down seperti di Italia. Ternyata science dan Tekhnologi yang mereka agungkan tidak mampu dan tidak siap menghadapi virus Corona.

Sungguh dasyat dampak virus Corona. Membuat mereka kehilangan kebebasan karena menghindari berjabat tangan dan berkumpul. Berbagai acara ditunda. Larangan memasuki suatu negara. Kerajaan Arab Saudi  melarang kunjungan umroh pada beberapa negara.

Atas Izin Tuhan Sebagai Peringatan

Virus Corona menjadi musibah kemanusiaan, karena atas izin Tuhan

(Qs. At-Tagabun : 11). Tuhan sebagai pemegang otoritas diatas planet bumi dan seluruh isinya termasuk manusia.

Mengapa Tuhan mengizinkan manusia ditimpa musibah virus  Corona?

Tuhan hendak mengingatkan manusia untuk kembali pada kebenaran. Melakukan muhasabah sebagai hamba Allah yang diciptakan bersifat lemah. Tidak mampu membela diri ketika musibah datang. Selain kembali mengharapkan pertolongan Tuhannya.

Karena serangan virus Corona, mereka yang menderita penyakit, merasa pusing, demam dan sakit seluruh tubuh, sontak jiwanya mengingat Tuhan menengadahkan tangannya keatas langit. Oh Tuhan tolonglah aku dan sembuhkanlah aku. Tetapi ketika takdir maut menentukan, mereka tidak dapat mengembalikan nyawa yang sudah di kerongkongan. Allah berfirman: ” kembalikanlah nyawa itu, jika kamu orang benar. Disinilah nampak manusia sangat lemah dan tidak punya otiritas dalam kehidupan.”

Sedangkan jutaan manusianya lainnya dalam ketakutan akan serangan virus Corona. Takut keluar rumah, takut berjumpa dengan orang, takut berjabat tangan, takut berkumpul. Artinya  rasa takut terhadap virus Corona telah merenggut kebahagiaan yang selama ini dinikmati dari silaturahmi (berjumpa, bersalaman dan berbincang).

Rasa takut itu, makin jadi ketika manusia sadar bahwa science dan teknologi yang diandalkan ternyata tidak mampu menolong manusia dari serangan virus Corona. Jutaan nyawa dalam ancaman maut, sedangkan para ilmuawan butuh waktu untuk mengidentifikasi virus dan reset vaksin anti virus.

Ditengah kebuntuan, rasa takut telah membuat manusia ingat kembali kepada Tuhannya. Memori ke-Tuhanan sontak bangkit dalam jiwa, untuk mohon perlindungan dan pertolongan Tuhan.

Tuhan tahu, sifat manusia, Dia berfirman dalam Al Kitab (Al-Qur’an) bahwa ketika mereka ditimpa musibah, maka mereka serta ingat Tuhan dan mohon pertolongan-Nya.Tetapi setelah musibah itu berlalu mereka pun melupakan Tuhan, seolah musibah itu tidak pernah terjadi.

Orang yang beriman sejati kepada Tuhan, berserah diri kepada-Nya dalam menghadapi setiap musibah, sambil  berihtiar melakukan pencegahan.Nabi mengajarkan berserah diri kepada Tuhan, namun jangan lupa ikat domba mu.

Orang beriman sejati, bersyukur kepada Tuhan karena bebas dari musibah. Dan rasa syukur itu berkelanjutan setelah musibah usai atau berlalu.

Sebagai bangsa Indonesia, kebersamaan dalam iman dan berserah diri pada pertolongan Tuhan, akan meringankan beban dalam menghadapi musibah virus Corona.

Indonesia perlu meniru Korea Selatan dalam mengendalikan virus Corona. Epidemi Virus bukan berkembang melainkan menurun drastis. Tidak ada lockdown. Dari 500 kasus turun menjadi 248 kasus minggu lalu.

Selain kekompakan dan Swadaya masyarakat, tak kalah penting adalah peranan pemerintah yang intensif membuka pos-pos pemeriksaan gratis bagi semua warga. Catatan minggu lalu sudah 200.000 warga yang sudah diperiksa kesehatannya. Jadi epidemi virus dapat dikendalikan secara siknifikan.

Sudah berapa warga yang sudah diperika kesehatanya di Indonesia..? Jangan lagi pake slogan alon-alon asal selamat. Kasus virus Corona ini, kalau alon-alon bisa makin tak terkendali seprti di Italia. Makin tidak selamat.

Semoga pertolongan. Allah, hadir  ditengah hambah-hamba-Nya.

Tuhan Maha Rahman dan Rahim, telah memaklumkan bahwa semua penyakit ada obatnya. Jadi tidak perlu cemas dan terus berihtiar

Ibnu Qayyim al-Jauzy berkata, “Setiap musibah ada klimaksnya .Ketika musibah itu, telah mencapai batas-batas kesanggupan manusia, maka musibah itu secara perlahan akan surut. Tuhan tidak akan memberikan beban diluar batas kesanggupan manusia. Rahmat Allah selalu mengalahkan murkanya, kecuali untuk pembelajaran.

Edt: Redaksi (AN)