Membangun Kembali Budaya Agraris Dan Maritim Kita Yang Tangguh

Foto: (Doc. Jacob Ereste)

“Kehidupan petani Indonesia yang makmur pasti bisa menjadi soko guru bangsa. Indonesia yang tangguh dan gagah”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Kemampuan masyarakat petani Indonesia untuk mengolah sawah dan ladang serta lahan yang masih luas menghampar, pasti dapat segera membebas bangsa Indonesia dari ketergantungan pada pangan impor yang telah membunuh banyak petaniĀ  kita.

Yang kebih parah adalah sikap ketergantungan warga bangsa Indonesia pada bangsa asing, dimana kedaulatan pangan hanya menjadi khayalan belaka, karena tidak pernah serius hendak terwujudkan.

Padahal kejayaan warga bangsa Nusantara yang didukung oleh hasil bumi yang melimpah, telah menjadi legenda sejarah. Itulah sebanya kompeni dunia dahulu ramai-ramai berdatangan ke Nusantara.

Lalu untuk dapat memonopoli hasil bumi dan kekayaan alam suku bangsa Nusantara, mereka melakukan sistem penjajahan. Sehingga wilayah-wilayah pun di Nusantara mereka kapling untuk mengusai hak monopolinya itu.

Masalah untuk membangkitan kembali kejayaan masyarkat petani kita, sepenuhnya ada pada good will pemerintah Indonesia yang telah memegang amanah dari para masyarakat adat dan keraton di Nusantara untuk menyatukan dalam satu bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jadi amanah dari para leluhur itu harus dilakukan agat tidak kualat, dengan konsisten menunaikan sumpah dan janji seperti termangu dalam Pancasila dan UUD 1945. Karenanya, sikap serius pemerintah Indonesia sebagai penyelenggara negara patut dan harus dilakukan.

Dengan memberi perhatian penuh pada keperluan petani Indonesia untuk bangkit dan mengembalikan kejayaan bangsa Nusantara yang tidak cuma berdaulat secara politik, dan mandiri dalam ekonomi serta berkepribadian dalam tatanan kebudayaannya, tetapi juga dapat mewujudkan cita-cita kemerdekaan dan masyarakat yang adil dan makmur yang nyata, bukan sekedar slogan dan omong kosong belaka.

Kehidupan petani Indonesia yang makmur pasti bisa menjadi soko guru bangsa. Indonesia yang tangguh dan gagah. Tidak menjadi kerdil dihadapan bangsa-bangsa di dunia. Hingga pada giliran berikutnya tinggal bagaimana menata kemandirian ekonomi seperti dicita-citakan founding fathers sejak awal memproklamasikan negeri ini yang telah dijarah kekayaan alam dan hasil buminya pada masa lalu itu.

Dan sejarah masa penjajahan itu tidak boleh terulang lagi pada hari ini di negeri-negeri Nusantara. Oleh sebab itu peran masyarakat adat dan keraton perlu disertakan untuk segera mengembalikan masa kejayaan bangsa-bangsa Nusantara.

Sehingga Maluku yang bisa menjadi lumbung cengkeh dan buah pala yang mampu jadi andalan komoditi ekspor bangsa kita. Demikian juga lada dan dan kopi dari Lampung, beras di Jawa, Jagung di Kalimantan serta hasil bumi lainnya yang bisa menjadi ikon kebanggaan suku bangsa kita yang ada hingga patut menjadi bilangan yang diperhitungkan dunia.

Hanya dengan demikian, jalan menuju kesadaran dan kebangkitan peradaban baru manusia Nusantara yang kini bernama Indonesia dapat diperhitungkan oleh warga bangsa di muka bumi ini. Hasil bumi kita, mulai dari lada, kopi, pala sampai minyak dan batu bara serta emas maupun timah dan tembaga sudah cukup banyak diangkut ke negeri para kompeni yang kemudian menjadi kolonialisme yang serakah itu.

Sekarang tidak lagi boleh terulang, karena kita bukan bangsa keledai. Kesalahan masa lalu sudah cukup mengajarkan pada kita, bahwa tipu daya harus dihadapi atau bahkan dilawan dengan seganap daya upaya kita yang lebih bijak, bangkit dan membangun peradaban agraris dan budaya maritim yang tangguh.

Edt: Redaksi (AN)