Mencintai Produk Anak Bangsa Sendiri

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Produk dalam negeri yang utama itu adalah semua hasil pertanian. Menyusul kemudian hasil olahan pangan”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Ajakan untuk membenci produk asing itu tak perlu, yang penting tulus dan setia mencintai saja produk anak bangsa Indonesia sendiri dengan serius dan konsisten, tanpa reserve.

Produk dalam negeri yang utama itu adalah semua hasil pertanian. Menyusul kemudian hasil olahan pangan. Kemudian menyusul semua bentuk pakaian hingga sarana kerja yang dapat digunakan dalam usaha dan jenis pekerjaan apapun.

Hanya dengan begitu ketahanan dan pertahanan pangan serta daya saing dengan produk yang dihasilkan oleh bangsa asing dengan produk dalam negeri dapat membangun kekuatan bangsa yang mandiri. Berdikari —berdiri di atas kaki sendiri— tanpa perlu menghina dan tunduk pada apapun yang berbau asing.

Persaingan yang sehat perlu dibangun dalam budaya manusia Nusantara yang luhur, berbudi pekerti yang baik dengan kepribadian yang tangguh dan otentik dalam gairah dan semangat gotong royong yang guyub.

Sebab hanya dengan cara ini sikap dan sifat nasionalis —kebangsaan— manusia Indonesia bisa terus-menerus bertumbuh jadi putik-putik kebangsaan yang kuat dan tangguh. Tak hendak khianat pada cita-cita bersama untuk menggamit kemerdekaan, kesejahteraan yang adil bagi seluruh warga bangsa Indonesia.

Prioritas utama membangun masyarakat agraris serta maritim bukan cuma sekedar untuk menuju masyarakat agraris yang kuat dan berjaya seperti pada masa sebelum Indonesia merdeka, tetapi juga untuk menyelamatkan bumi Nusantara dengan segenap kekayaan alam dan kandungan isi yang ada didalamnya, seperti emas, tembaga serta beragam jenis logam dan kekayaan alam yang ada. Begitu pula dengan fauna dan flora yang berlimpah itu, patut dan harus dijaga kelestariannya.

Untuk memulai revolusi budaya pada sektor pertanian, semua bentuk kegiatan petani wajib didukung, diberi subsidi dan mendapat prioritas, agar masyarakat yang terlanjur terjebak dalam habitat industri — sebagai buruh —mau kembali dalam budaya petani, berkebun dan berladang. Sehingga hasil pertanian kita bisa berlimpah— utamanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, hingga pada saatnya dapat diandalkan jadi komoditas ekspor, serta segera dapat menghentikan ketergantungan anak bangsa dari segala bentuk barang impor.

Hanya dengan begitu, impor cangkul, sabit hingga beras dan garam bisa segera distop. Semua harus dapat dibuat dan dihasilan oleh anak-anak bangsa Indonesia sendiri.

Agaknya, ujud nyata dari sesumbar nawacita itu bisa dilakukan dengan serius dalam bentun kemandirian dalam ekonomi dan berdaulat secara politik serta miliki kepribadian dal budaya yang otentik milik bangsa sendiri.

Karenanya itu, semua gerakan usaha petani dan nelayan di Indonesia wajib dan harus didukung, diberi subsidi, dibantu dengan beragam kemudahan, dilindungi dari segenap rintangan dan hambatan —tak hanya untuk memperoleh bibit tanaman yang unggul dan pupuk yang terbaik— tapi juga pakan ternak dan ikan hingga hasil panenan yang ada jaminan harga tidak dimainkan para tengkulak serta rentenir. Oleh karena itu fungsi dan peran KUD (Koperasi Unit Desa) harus dibangun dengan kontrol ketat Bulog yang menjadi pusat kendali dari semua keperluan serta menaungan bagi petani dan nelayan.

Bulog harus dapat memenuhi semua keperluan petani melalui perpanjangan tangannya pada KUD. Begitu juga sebaliknya dalam fungsi penampung dari semua hasil dari para petani dan nelayan, harus permanen dan ajek hingga nilai harga yang telah dipatok sebelumnya. Sehingga petani dan nelayan tidak perlu merasa kecewa hanya lantaran harga yang selalu dipermainkan oleh mereka yang bergairah jadi tengkulak atau rentenir.

KUD pun harus berfungsi sebagai pemasok kebutuhan sehari bagi petani serta nelayan dan peternak yang pantas hidup sejahtera serta mampu juga membahagiakan keluarganya.

Hanya dengan begitu arah dan tujuan dari kemerdekaan segenap warga bangsa Indonesia bisa tergapai. Bila tidak, makanya selamanya bangsa kita akan terus tergantung dan digantung oleh bangsa asing.

Edt: Redaksi (AN)