Mengapa Koruptor Harus Dihukum Mati?

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Biasanya hasil jarahan para koruptor yang kagetan itu pasti berlimpah duitnya itu, jadi cuma memang untuk poya-poya belaka.”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Bedanya orang maling dengan koruptor umumnya dibedakan oleh tingkat keberanian mereka, kecuali target dari hasil yang mereka tilep. Namun maling dan koruptor itu tetap mencari kelengahan semua orang saat hendak menggasak barang jarahan yang menjadi incaran.

Bedanya maling dengan koruptor itu pun acap beda dari hasil nilai jarahannya. Maling bisa saja hanya mengambil secukupnya saja. Tapi koruptor lebih dominan menggunakan karena adanya kesempatan, memanfaatkan mumpungannya, sehingga seberapa pun yang bisa dia lakukan dia garuk semua. Maka itu nilai korupsi yang mereka peroleh tak cuma miliaran rupiah, tapi bisa mencapai triliunan rupiah.

Maling pun, masih ada yang mengambil apa yang dia anggap bernilai secukupnya saja. Biasanya pun tidak ada keinginan untuk memperkaya diri. Sebab masih banyak maling yang melakukan pekerjaannya lantaran terpaksa saja. Bahkan bisa saja semua itu dilakukan para maling hanya untuk sekedar makan belaka. Atau bahkan, ada juga yang melakukannya hanya untuk membayar ongkos pengobatan anggota keluarganya.

Tapi bejadnya para koruptor itu unumnya adalah orang pintar yang punya tingkat pendidikan lumayan tinggi. Lagian para koruptor itu bukan susah. Minimal pejabat paling rendah dalam pemerintahan saja tidaklah terlalu susah.

Nah, mereka inilah yang punya kesempatan menggasak uang rakyat yang dikelola pemerintah.

Begitulah sosok koruptor yang tamak dan rakus itu. Pada umumnya mereka ingin cepat kaya raya, atau ingin memperkaya diri lagi, agar bisa memenuhi kemauan birahi setan yang merasukinya. Walaupun sebenarnya mereka sendiri tidak sungguh paham apa gunanya hasil jarahannya itu kelak hendak digunakan.

Biasanya hasil jarahan para koruptor yang kagetan itu pasti berlimpah duitnya itu, jadi cuma memang untuk poya-poya belaka. Kawin lagi, atau memelihara banyak gendak. Lalu dalam kondisi dan situasi mabuk kekayaan seperti itu, bisa menular jadi mabuk kekuasaan juga. Sebab untuk menata harta bendanya menjadikan berbagai aset cenderung mengabaikan manfaatnya bagi orang banyak.

Bagi koruptor yang bernasib bagus –meski tertangkap juga olek KPK– bisa juga menikmati jarahannya itu, meski harus berbagi dengan pihak lain. Mulai saat ditahan hingga proses meringankan putusan di pengadilan, serta kelak ketika menjalani formalitas tahan di lembaga pemasyarakatan.

Instansi yang disebut terakhir tadi toh, sudah menjadi rahasia umum brengseknya. Sebab bukan hanya koruptor yang punya duit banyak itu saja yang bisa hidup leyeh-leyeh dan enjoy di ruang Lembaga Pemasyarakatan, para bandar narkoba pun justru bisa lebih makmur hidupnya, karena mendapat perlakuan istimewa juga dari pihak Lembaga Pemasyarakatan. Suasana nyaman para koruptor dan perlakuan manja juga mendapat fasilitas dari negara.

Itulah sebabnya jumlah koruptor makin banyak bertunbuh dan berkembang jumlahnya tak pernah bisa di berantas di negeri kita. Karena para koruptor di Indonesia sudah jadi bagian budaya berjamaah yang kuat. Mulai dari saat melakukannya, ketika proses di pengadilan, sampai waktu menjalani rehabilitasi dan pengampunan di Lembaga Pemasyarakatan.

Meski tidak tentu pula bisa disebut saat bertobat. Kalau pun yang bersangkutan masih percaya adanya surga dan neraka. Toh, azab untuk siapa saja yang ikut menikmati harta haram itu, pasti kelak merasakannya juga. Terutama bagi anak, istri dan cucunya. Apalagi adanya sumpah serapah dari rakyat yang merasa jadi sengsara karenanya.

Edt: Redaksi (AN)