Mengenal “Sibaso”

Foto: (Doc. Nurul Wahyu Sanjaya)

“Di Mandailing, nama keluarga Baso ini bertukar dengan nama keluarga Lubis. Dikenal sebagai Lubis Sayurmaincat”

Oleh: Nurul Wahyu Sanjaya

Jakarta (Bintangtimur.net) – Datu Si Baso merupakan putra perantau Bugis yang kemudian berdiam di Mandailing sekitar tahun 1600-an Masehi dan ‘manyusup huta’ (membangun kampung) di Mandailing. Gelar adat Datu Sibaso adalah Ja Mombang putra dari Ja Bulele a.k.a Mangguyang Bumi.

Mangguyang Bumi mempunyai dua putra, yaitu Badu Amat dan adiknya Rintar. Rintar kemudian bergelar Ja Mombang dan terkenal dengan nama Datu Sibaso.

‘Datu’ dalam bahasa Mandailing berarti gelar dari kasta Brahmana/kasta Datu-datu. Nama Si Baso berasal dari nama keluarga Bugis, yaitu Baso, sebuah nama keluarga yang terhormat di etnis Bugis.

Datu Sibaso pada masa hidupnya merupakan seorang dukun/tabib yang terkenal hingga Aceh, Melayu dan Minangkabau. Bahkan di Karo, Simalungun dan Toba, menggunakan istilah Sibaso untuk menyebut dukun/tabib, sebenar nya berasal dari kebesaran nama Datu Sibaso tersebut.

Pada masa itu lah terjadi pengembangan Urup Tulak-tulak (Aksara Mandailing). Kala itu yang bisa menulis aksara Mandailing hanya kalangan Datu-datu, karena aksara tersebut adalah aksara rahasia kaum Brahmana, yang berisi perihal pengobatan, hari baik hari buruk, ilmu-ilmu ladunni dan sebagai nya seperti ilmu kebal dan ilmu metamorfosa menjadi hewan.

Begitu juga bahasa Mandailing yang dikenal sekarang ini, merupakan bahasa kaum Brahmana yang merupakan turunan bahasa Sansekerta dari masa era Sriwijaya (bahasa Melayu Tua), yang bahasa nya mirip di prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

Masyarakat Mandailing masa itu umum nya masih memakai bahasa Melayu, yang dikenal sebagai bahasa Melayu Aru/Melayu Sakai, yang masih berkaitan dengan bahasa Melayu Asahan atau Melayu Labuhanbatu.

Di Mandailing, nama keluarga Baso ini bertukar dengan nama keluarga Lubis. Dikenal sebagai Lubis Sayurmaincat. Sayurmaincat sendiri merupakan sebuah Kuria (Nagari) di Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal.

Di Kuria Sayurmaincat dikenal ada 3 sub marga Lubis, yaitu Lubis Godang, Lubis Tano/Tonga (Raja Adat/Pemilik Tanah Adat) dan Lubis Namora (Raja Undang/Raja Lubis pendatang dari keturunan Namora Pande Bosi, yang ditempatkan Belanda untuk memimpin Sayurmaincat).

Antara Lubis pendatang dan Lubis asli Sayurmaincat tidak dibeda-bedakan, walau berbeda keturunan. Umum nya keturunan orang-orang Bugis yang menetap di Mandailing, termasuk pasukan Bugis dari Raden Patah (Namora Pande Bosi III) memakai marga Lubis di Mandailing. Sehingga Lubis dikenal berasal dari Bugis.

Sayurmaincat sendiri sebelum datang Belanda, bernama asli Sayurmatinggi, namun kemudian kata ‘tinggi’ diganti dengan kata ‘incat’ yang juga berarti ‘tinggi’. Pada masa Belanda terjadi pengembangan bahasa Mandailing, sehingga tempat-tempat yang berbahasa Melayu di-Mandailing-kan. Begitu juga bahasa Mandailing mulai dikembangkan di masyarakat yang awal nya mayoritas berbahasa Melayu Mandahiling.

Nah, keturunan Datu Sibaso sendiri kini dikenal Lubis Sibaso. Makam Sibaso terdapat di Sayurmaincat. Konon kuburan beliau dijaga oleh dua harimau, salah satu nya harimau kaki tiga. Di makam nya tersebut juga masih disimpan pakaian kulit kayu yang dipakai sehari-hari beliau semasa hidup dan tongkat kebesarannya.

Edt: Redaksi (AN)