Mengenal Uighur

Foto: (Doc. Nurul Wahyu Sanjaya)

“Lambat laun penduduk Turkistan, baik di Barat dan Timur mulai beragama Islam dari semula beragama Buddha”

Oleh: Nurul Wahyu Sanjaya

Depok (Bintangtimur.net) – Uighur adalah etnis yang terdiri banyak etnis, seperti Turk/Tartar , Mongol, Kazakh, Kirgiz, Uzbek, Lyrgiz dan T/ ajik. Kesemuanya memiliki satu bahasa, yaitu bahasa rumpun Althai. Uighur artinya persatuan. Dahulu Uighur disebut Turkistan Timur, karena merupakan pecahan wilayah dari Kakhan Turk.

Pada masa pemerintahan Kaisar Hsuan Tsung (712-756 M), menempatkan gubernur sekaligus advisor di wilayah Kucha (Khulja), yaitu Jenderal Kao Hsien Chee, seorang turunan Korea. Cha Bi Shih, menurut ejaan Tionghoa, merupakan Kakhan dari suku-suku Turk di Asia Tengah berkedudukan di Tashken.

Terjadilah konflik antara Gubernur dengan Kakhan. Kemudian Jenderal Kao mengundang Kakhan ke Khuja untuk konperensi, namun ditangkap dan dibawa ke ibukota Changan, kemudian dihukum mati.

Jenderal Kao kemudian menggerakkan pasukan melintasi pegunungan Thian Shan memasuki wilayah Ferghana, dan merampas harta penduduk. Seorang pangeran Turk, keluarga Kakhan melarikan diri ke Samarkand, wilayah Soghdia, dan menghubungi panglima Islam untuk wilayah Khurasan, yaitu Panglima Abu Muslim Al Khurasani yang berkedudukan di kota-benteng Merv, untuk meminta bantuan.

Peristiwa itu pada tahun 752 M, yaitu tahun kedua dari pemerintahan Khalif Abul Abbas Al Saffah (750-754 M) dari Daulat Abbasiah. Khalif Al Saffah berambisi memperluas wilayahnya ke timur, karena wilayah Doghdia dan Ferghana belum tunduk. Kemudian Khalif memerintahkan Panglima Khurasan menggerakkan pasukannya.

Terjadilah pertempuran antara pasukan Panglima Khurasan (5000 orang) dan pasukan Jenderal Kao (20 ribu orang) di tempat bernama Talas. Pertempuran itu membinasakan pasukan Jenderal Kao, hanya beberapa ribu yang selamat. Pasukan tersisa itu terus dikejar hingga wilayah Ferghana hingga sampai Jalan Genting Utara (Pe Lu) pada pegunungan Thian Shan.

Itulah perbatasan antara Turkistan Barat yang berhasil dikuasai Daulat Abbasiah dengan Turkistan Timur yang dikuasai oleh pihak Dinasti T’ang.

Lambat laun penduduk Turkistan, baik di Barat dan Timur mulai beragama Islam dari semula beragama Buddha. Mulailah pembangunan masjid-masjid di Turkistan Barat (Soghdia/Uzbekistan, Kirgiztan/Fergana, Tajikistan , Turkmenistan, dan Khazakstan) dan di Turkistan Timur (Uighuristan). Sesudah perang, Dinasti Abasiah menjalin hubungan baik kembali dengan Dinasti T’ang, sehingga Islam bisa berkembang di Turkistan Timur.

Walau pun dianeksasi oleh Dinasti T’ang, etnis Uighur sempat membentuk Kerajaan Uighur (745-846 M) yang berada dalam wilayah Turkistan Timur, yang berhasil direbut dari Dinasti T’ang.

Di masa Dinasti Yuan (Mongol), orang-orang Turkistan Timur banyak dipekerjakan sebagai pegawai pemerintah, hingga jabatan menteri muda dan jenderal perang. Hingga kemudian Muslim Mongol berkembang di Mongolia Dalam (salah satu provinsi di RRC) karena pengaruh dari muslim Turkistan Timur.

Salah satunya yaitu Jenderal Nasruddin dari Turkistan Timur berhasil menakhlukkan Mien (Benggala), yaitu wilayah Burma/Myanmar, Laos, Thailand, Kamboja dan Vietnam sekarang. Mulai lah etnis Thai dan pecahannya dikirim untuk menempati wilayah baru tersebut (transmigrasi).

Namun pada masa berikutnya etnis Thai memberontak hingga membentuk beberapa negara yang terpisah dari Tiongkok.

Pada masa Dinasti Yuan ini Chagatai Khan putra Barka Khan putra Yuchi Khan  putra Kakhan Ogodai putra Jenghiz Khan, berkuasa di Turkistan Barat dan Turkistan Timur, berkedudukan di Dzungharia. Putra Chagatai Khan, yaitu Burak Khan (wafat 1270 M) memeluk Islam dan digelari Sulthan Ghiatsuddin, kemudian dilanjutkan putranya Sulthan Thamashirin.

Pada masa Dinasti Ming (1368-1644 M), kedudukan keturunan Chagatai Khan atas Xinjiang tidak diganggu, begitu juga pada awal dinasti Manchu (1644-1912 M). Namun sepeninggal Sulthan Mahmud Khan, yaitu ketika Dinasti Ming tumbang dan diganti Dinasti Manchu, mendapat pengganti-pengganti yang lemah sehingga lebih menonjol para Ulama yang dipanggil dengan gelar Khoja.

Dinasti Manchu kemudian mencaplok wilayah lembah Tarim itu, yang merupakan kediaman suku-suku Turk, yang disebut Tionghoa sebagai suku-suku Hun. Lembah Tarim itulah yang disebut sebagai Sinkiang.

Dengan penaklukan itu, maka lepaslah Sinkiang dari tangan Dinasti Yuan kepada Dinasti Manchu. Itulah sebabnya Khoja-khoja lebih berpengaruh dari Khan-khan turunan Chagatai Khan.

Pada masa Dinasti Manchu/Korea, kaum Muslim di Tiongkok memberontak karena tetap mendukung Dinasti Ming, dan ingin menjatuhkan Dinasti Manchu. Akibat nya Dinasti Manchu mengeluarkan semboyan, “Hancurkan kaum perusuh Muslim.”

Tidak sedikit arsip yang menulis pertempuran Dinasti Manchu dengan kaum perusuh Muslim yang mendukung kepemimpinan Pangeran Chu dari Dinasti Ming/Han. Dalam peristiwa ini kaum Muslim Tiongkok dibantu oleh kaum Muslim Uighur, karena simpatik kepada Dinasti Ming.

Akibatnya, turunan Han  mulai diberi benih kebencian oleh pihak Manchu, terhadap kaum Muslim, karena Muslim Uighur membantu Muslim Han.

Setelah Dinasti Manchu tumbang, Sinkiang berada di bawah Republik China (1912-1949 M) hingga kemudian masuk wilayah RRC (1949 M – kini).

Sekarang wilayah Turkistan Timur bernama Xinjiang (ejaan lama Sinkiang) yang merupakan provinsi terbesar di Cina, yang luasnya 1/6 dari keseluruhan wilayah RRC. Di utara, tanah Uighur berbatasan dengan Kazakstan; Mongolia di timurlaut; Kirghiztan dan Tajikistan di baratlaut; dan dengan Afghanistan-Pakistan di baratdaya.

Edt: Redaksi (AN)