Menko Ekonomi-Mendag Mengabaikan Mentan dan Bulog Melakukan Impor Beras

Foto: Doc. Jacob Erese

“Kompaknya sikap penolakan impor beras ini bulat didukung oleh petani, juga sebagian dari pengusaha serta kepala desa”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Masalah beras di Indonesia justru tidak ditentukan oleh Menteri Pertanian serta Bulog, sebab ototitas penentu utamanya adalah Menko Bidang Ekonomi serta Menteri Perdadangan. Karena itu impor beras satu juta ton yang heboh dan membuat banyak pihak jadi cemas dan khawatir itu digagas sepenuhnya oleh Menteri Koordinator Ekonomi Airlangga Hartarto dan Menteri Perdagangan Muhamad Lutfi.

Soalnya kok jadi terkesan sangat ngotot dan kebelet. Inilah yang membuat banyak pihak menuruh curiga. Jangan-jangan benar adan rente dan tendensi politis tidak cuma sebatas ingin mendulang komisi serta ingin membuat petani Indonesia mati pelan-pelan untuk kemudian melelang semua lahan milik mereka kepada kapitalisme liberal.

Setidaknya sampai Dewan Beras Nasional harus merengek-rengek kepada MPR RI agar dapat segera membicarakan masalah impor satu juta ton beras yang terus ngotot itu sungguh tidak rasional karena artinya itu akan membunuh petani saatnya petani Indonesia sedang panen raya di Indonesia. (CNN Indonesia, 23/03/2021).

Lebih cilakanya lagi, koordinasi Kementerian Pertanian, Bulog justru tampak bertikai antara yang satu dengan lain yang terus melakukan perlawanan terhadap kebijakan yang culas itu.

Dewan Beras Nasional pun harus ngotot untuk menjumpai Kementan, Syahrul Yasin Limpo guna mendiskusikan soal beras dan mengungkapkan sikap penolakan keras tentang importasi beras yang terkesan amat sangat dipaksakan.

Kompaknya sikap penolakan impor beras ini bulat didukung oleh petani, juga sebagian dari pengusaha serta kepala desa. Begitu pula sikap Dirut Perum Bulog Budi Waseso yang mengungkapkan bila keputusan impor beras satu juta ton itu tidak diputus dalam Rakortas, karena cuma berasal dari keinginan sang Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi.

Meski sudah dihajar habis dari delapan penjuru angin, Muhamad Lutfi masih teguh dan kekeh ingin melakukan impor satu juta ton beras itu telah membuat curiga adanya mitif tersebung. Jika cuma sekedar memburu rente, tapi ancaman pada hidup dan kehidupan petani jelas dan terang menimbulkan keengganan buat meneruskan pekerjaan mereka yang menjadikan pekerjaan sebagai petani padi semakin surut.

Kisah tentang desa yang pernah menjadi lumbung padi atau beras sekarang seperti mimpi yang kalah dibanding kisah seorang importir yang sukses. Jadi semua dibuat gampang, meski harus berkorban soal idealisme bagi petani kita sendiri. Begitulah tampaknya kesan dari gairah Menko Bidang Ekonomi dan Menteri Perdagangan yang mendukung pasar bebas jadi merusak negeri kita.

Harga bahan pangan yang dihasilkan petani Indonesia terus dibiarkan tidak berdaya melawan persaingan dengan produk asing. Meski Preside sudah mengajak rakyat untuk membenci semua produk asing, termasuk bahan pangan.

Namun realisasi di lapangan toh, impor beras, gula, garam hingga jahe pun berjalan terus impornya. Apalagi sekedar berharap produk lain —seperti kereta api atau pesat— seperti tak berminat mengembangkan industri Nurtanio.

Edt: Redaksi (AN)