Menulis Itu Harus Jujur dan Ikhlas Serta Bernyali

Foto: (Ist)

“Kebiasaan menulis secara continue dan ajak, akan mengasah daya ingat agar proses penumpulannya bisa ditahan, jika pun tidak dapat sama sekali dihentikan.”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Menulis sebagai upaya pembebasan, bisalah dipaham seperti usaha membuang hajat yang menjadi beban tidak perlu. Beban yang ada dalam jiwa, mungkin juga dalam raga bisa menjadi enteng. Karena itu menulis bisa juga menjadi therapy diri. (Baca juga: Menulis Sebagai Therspy, Jacob Ereste, 2013).

Minimal untuk menjaga akal tetap sehat supaya tidak pikun. Terutama bagi siapa saja yang sudah berusia beranjak di atas 48 tahun. Karena dengan banyak menulis itu biasanya pun akan banyak juga membaca.

Kebiasaan menulis secara continue dan ajak, akan mengasah daya ingat agar proses penumpulannya bisa ditahan, jika pun tidak dapat sama sekali dihentikan. Sebab proses penuaan itu memang sinnaytullah yang tidak dapat dibantah.

Dalam pemahaman serupa ini kita pun semakin paham bahwa kekuasaam Allah SWT punya otoritas yang tidak mungkin ditanding oleh manusia manapun.

Menulis akan menjadi obat jika dilakukan dengan pemikiran yang jernih dan jujur serta nyali yang cukup. Artinya kejernihan itu adalah menulis sesuatu masalah secara tulus dan ikhlas, bukan atas tekanan atau pesanan pihak tertenu yang mengancam atau sebaliknya menjanjikan sesuatu.

Kalau pun harus memenuhi permintaan dari pihak tertentu, hendaknya juga bisa dilakukan dengan sepenuh hati yang tulus dan ikhlas, sebab yang lebih utama bukanlah honoraria yang kelak mungkin akan kita peroleh itu sebagai imbalannya. Tetapi yang tidak kalah penting adalah penghargaan intelektual yang menjadi semacam olah pikir untuk otak agar tetap sehat dan segar.

Jadi menulis dengan pikiran yang jernih itu harus menjadi prinsip supaya hasil paparan tetap obyektif. Mau menerima kritik. Dan pokok bahasannya pun patut dipahami yang bernilai positif, bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk orang lain.

Alur dari proses menulis serupa inilah dampak positifnya yang dapat diharap menjadi therapy. Karena kalau tidak jujur dan ikhlas menulis sesuatu maka proses dari sublimasi beban psikologis tidak mungkin dapat ditransfer yang memberi peluang bagi obat masuk mengisi ruang kosong yang telah ditinggal oleh berbagai beban dari kejiwaan diri kita itu.

Dan sikap jujur dalam menulis sesuatu ide atau gagasan itu pun dapat memantapkan sikap ugahari. Bahkan anti toksin dari munafik.

Yang tidak kalah penting untuk menulis ide dan gagasan yang baik dan jernih itu adalah nyali untuk mengungkap apa yang sesungguhnya  realistik terjadi. Boleh saja ide dan gagasan yang dipaparkan itu masih bersifat dugaan, ramalan atau perkiraan, tetapi hendaknya tetap realistik, ilmiah. Setidaknya dapat dicerna dan bisa diterima oleh akal sehat para pembaca.

Syarat bernyali untuk menulis itu sungguh perlu, karena untuk mengungkap fakta dan realitas yang ada tidak bisa dimiliki oleh semua orang. Apalagi untuk mereka yang bermental penjilat. Sebab hanya dengan nyali yang cukup, akal sehat kita pun dapat bekerja secara normal atau seimbang.

Bayangkanlah untuk mereka yang tertekan menyembunyikan sesuatu yang tidak berani dia ucapkan, pasti akan amat sangat merasa tertekan. Sebab dia seperti sedang mengantongi bahan peledak yang pada saatnya kelak akan meledak dan melumat dirinya juga.

Edt: Redaksin (AN)