Menulis Sebagai Upaya Pembebasan

Foto: (Ist)

“Biasanya bagi penulis pemula, setelah dapat menentukan tema dan topik pilihan, banyak yang merasa sulit untuk memulai, karena langsung ingin memilih judul tulisan”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Yang sulit dalam menulis itu adalah menentukan jenis tulisan itu, apakah sebagai berita, laporan atau artikel yang mengulas suatu tema dan topik tertentu, sehingga bentuk tulisan sudah bisa terproyeksi dalam kerangka pemikiran yang siap diuraikan.

Biasanya bagi penulis pemula, setelah dapat menentukan tema dan topik pilihan, banyak yang merasa sulit untuk memulai, karena langsung ingin memilih judul tulisan. Apapagi sebelumnya sudah kerepotan  menggambarkan bentuk tulisan yang masih abstrak.

Padahal apa yang hendak dijadikan obyek tulisan sudah dapat mulai diuraikan dengan cara melepas semua beban langsung pada inti gagasan yang mau dituangkan itu dalam bentuk kata-kata yang sepatutnya tak lagi harus mengalami hambatan teknis, seperti bahasa ucap serta ejaan yang baik, benar dan enak hingga  menjadi komunikatif dan terkesan akrab.

Bahasa ucap dalam tulisan yang komunikatif dan akrab itu bisa dilakukan dengan cara memilih kalimat gampang dicerna, bila perlu menghindari istilah yang terlalu ilmiah, sebab bobot intelek dari tulisan itu sendiri bisa diletakkan pada isi dari ide atau gagasan dari tujuan tulisan itu dibuat

Ragam macam tulisan bisalah dibedakan seperti berita, laporan, kisah atau feuture, artikel atau opini serta fiksi hingga esai. Dari ragam macam bentuk dan jenis tulisan itu, masing-masing tentu punya syarat serta ciri khas yang spesifik, sehingga begitu pembaca melihat tampilannya langsung dapat mengenali jenis kelamin dari tulisan itu.

Pada umumnya dari semua bentuk dan jenis tulisan itu bisa saja memenuhi unsur 5W + 1H, yaitu apa, siapa, mengapa, kapan, dimana dan bagaimana. Tapi banyak juga jenis tulisan yang tidak sama sekali memerlukan 5W + 1H itu.

Ada juga yang perlu menyertakan beberapa saja diantaranya. Persis seperti suguhan soto Lamongan misalnya, boleh tidak pakai sayur kol atau kecap. Dan boleh juga sambalnya agak banyak.

Karena itu menulis perlu dilatih dan dibiasakan agar bisa terbangun naluri dan refleksi secara otomatis seperti kebiasaan naik sepeda yang tidak lagi perlu mengingat teorinya untuk dihapal. Jadi bolehlah dikata menulis itu jadi bisa karena biasa.

Persis seperti pepatah lama yang mengatakan, bahwa bisa itu karena biasa. Maka kemampuan menulis itu sesungguhnya lebih dominan naluri dari pada teori. Karena jika fanatis berpegang pada teori, sama sulitnya bagi Anda yang sudah pasih naik sepeda, tapi masih ribet menenteng teorinya ke mana-mana.

Artinya, menulis itu sendiri mempunyai kebebasan yang melampaui persepsi kita sebagai penulis yang merasa telah paling bebas di dalam kebebasan. Toh, realitasnya tidak begitu adanya.

Edt: Redaksi (AN)