Menyambut Tamu Agung Itu

Foto (Ist): “Bagaimana tidak. Tamu ini begitu penting dalam kehidupan. Begitu penting dalam tatanan agama dan keyakinan kita”

Oleh: Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation)

Jakarta (Bintangtimur.net) – Konon para sahabat membagi tahun kepada dua bagian setelah Ramadan berlalu setiap tahunnya. Enam bulan pertama mereka bersedih bagaikan ditinggal seseorang yang begitu dicintainya. Enam bulan Kedua mereka bersukacita, bersiap-siap menyambut kedatangan “the love” (yang tercinta) itu.

Kalau sekiranya kita tahu apa Ramadan itu, dan apa yang dibawanya, maka Sungguh berbahagianya kita dalam penyambutan itu. Bagaikan tamu, Ramadhan adalah “VVIP guest of the year”.

Bagaimana tidak. Tamu ini begitu penting dalam kehidupan. Begitu penting dalam tatanan agama dan keyakinan kita. Puasa Ramadhan adalah satu dari pilar keagamaan kita. Tanpa Ramadhan keislaman kita akan ambruk.

Belum lagi jika saja kita kenal ragam “gifts” atau hadiah yang luar biasa berharga yang dibawa bersama sang tamu itu. Hadiah kasih sayang (rahmah), keberkahan (barokah), pengampunan (maghfirah), Petunjuk (Al-Quran), kedekatan (Al-Qurbah) dengan Allah Swt, dan banyak lagi.

Kesemua itu mengharuskan kita mempersiapkan diri secara baik dalam penyambutan. Salah penyambutan atau kurang baiknya persiapan penyambutan akan berdampak pada pelayanan kepada tamu agung selanjutnya.

Lalu bagaimana seharusnya bentuk penyambutan itu? Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan:

Pertama, keharusan mengenali tamu yang akan tiba. Pelayanan akan banyak ditentukan oleh bagaimana kita mengenal tamu tersebut. Jika kita kenal bahwa tamu yang datang adalah pembesar, sudah pasti akan disambut dengan penyambutan VVIP.

Tapi kalau ternyata tamu itu tidak dikenal, Bagaimana mungkin akan dilayani sesuai kapasitasnya?

Karenanya persiapan pertama dalam penyambutan Ramadhan adalah “mengetahui”. Bahasa agamanya adalah urgensi ilmu dalam menjalani bulan Ramadhan.

Ramadhan itu bulan ibadah. Bukan bulan budaya. Ibadah hanya akan sah ketika dibangun di atas ilmu yang benar. Karenanya sambutlah Ramadhan dengan mempelajari semua hal yang terkait dengannya. “Don’t take it for granted!”.

Kedua, berkaitan dengan kita yang menyambut. Jika kita kenal bahwa yang datang itu adalah tamu terhormat maka tentu kita akan mempersiapkan diri dengan baik untuk menyambutnya.

Dalam hal ini kita pahami bahwa Ramadhan yang akan itu adalah bulan mulia, bulan suci, bulan keberkahan, bulan ibadah dan hidayah. Dan semua itu tidak mungkin akan berkesesuaian jika kita yang menyambutnya tidak sejalan, tidak senyawa dan tidak sesuai dengan semua kriteria Ramadhan.

Satu di antaranya adalah karena Ramadhan adalah bulan ibadah dan hidayah (Al-Quran) maka kita yang menyambutnya harus menyesuaikan diri dengannya. Penyesuaian diri dengan kesucian Ramadhan ini erat kaitannya dengan “psychological state” atau keadaan jiwa yang menyambutnya.

Kesucian ibadah dan Al-Quran tidak akan bersentuhan dengan jiwa penuh kotoran. “Laa yamassuhu illal muthohharuun” (Al-Quran tidak disentuh kecuali orang-orang Yang suci hatinya).

Karenanya Persiapan terpenting dalam menyambut Ramadhan ini adalah “tazkiyah an-nafs” (pembersihan jiwa). Satu di antaranya adalah dengan bersegera memohon ampunannya. “Dan bersegeralah kalian kepada ampunan Tuhanmu dan syurga.” (Al Imran).

Selain bersegera kepada ampunan Tuhan, tidak kalah pentingnya kita diharapkan bersegera kepada “saling memaafkan” di antara kita. Jangan jadikan ketidak baikan relasi di antara kita mengganggu relasi vertikal kita kepada Tuhan Pencipta langit dan bumi.

Ketiga, persapkan diri untuk bersegera meraih hadiah yang dibawa oleh tamu Agung itu. Hadiah-hadiah yang super mahal, tak terbelikan oleh nilai duniawi.

Bulan Ramadhan menjanjikan semua hadiah paling berharga dalam hidup manusia. Hidayah (Al-Quran) diturunkan di dalamnya. Bahkan dkisahkan bahwa semua Kitab Suci diturunkan pada bulan Ramadhan.

Hadiah ibadah dalam nilai. Dimana sunnah-sunnah diganjar dengan pahala