Merdeka Tetapi Terlena

Foto (Doc. Anton Nursamsi): “Negara kita akan kembali seperti dahulu karena kesalahan orang-orang pribumi sendiri, jangan salahkan orang lain, tapi salahkan diri sendiri”

Oleh: Anton Nursamsi

JAKARTA (Bintangtimur.net) – Negara Indonesia merupakan negara yang sangat potensial. Karena salah satu negara yang memiliki kekayaaan maritim dan potensi nilai agrarisnya. Ini adalah salah satu anugerah yang diberikan Allah Swt, kepada kita semua rakyat Indonesia.

Namun, dibalik kekayaan laut dan alam di negara tercinta ini, tidak luput dari “kecemburuan” negara lainnya. Hal itu pula yang berakibat bangsa Indonesia kerap dijajah bangsa asing. Kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan kita di zaman dahulu telah mewariskan keutuhan NKRI.

Dimana “jasa” mereka yang telah berjuang mati-matian demi memerdekakan negara ini dari cengkeraman penjajah. Bambu runcing dan pekikan takbir sebagai riwayat sejarah kemerdekaan bangsa.

Tanah air bisa diambil alih dan dikuasai kembali oleh bangsa pribumi. Penjajah pun telah hengkang dari bumi pertiwi.

Namun karena nilai-nilai nasionalisme yang memudar, perlahan bangsa ini seperti akan kembali ke zaman dahulu, dimana pribumi akan menjadi “budak” didalam rumahnya sendiri.

Para kapitalis lebih memilih tenaga ahli asing untuk membangun infrastruktur di negara kita. Lantas kemana produksi para “sarjana” setiap tahunnya? Apakah keilmuannya harus bertekuk lutut terhadap tenaga ahli atau pekerja asing?

Apakah negara ini belum merdeka yang sebenar-benarnya? Hal ini mari kita renungkan bersama demi jayanya bangsa indonesia.

Kenapa negara kita bisa “terancam” akan dijajah seperti dahulu kembali? Salah siapa?

Negara kita akan kembali seperti dahulu karena kesalahan orang-orang pribumi sendiri, jangan salahkan orang lain, tapi salahkan diri sendiri.

Generasi muda lebih asyik bermain “game” daripada berkarya. Bahkan kaum pelajar banyak yang terjerumus dalam dunia narkoba, perkelahian antar pelajar, sex bebas, dan kegiatan negatif lainnya. Apakah ini yang dinamakan mengisi kemerdekaan? Apakah seperti itu cara generasi muda menghargai jasa para pahlawan?

Kenapa negara kita seakan kalah bersaing dengan negara lainnya? Bukankah negara kita termasuk salah satu negara yang jumlah penduduknya besar. Kemana mereka para “sarjana” dan generasi penerus bangsa?

Apalagi dalam situasi mendekati pilpres, sebaiknya kesampingkan nilai-nilai egoisme kelompok. Tapi seharusnya bersama mewujudkan tatanan bangsa kedepannya agar lebih baik. Hindari permusuhan dan kedepankan nilai persatuan. Ingat kita adalah “bhineka tunggal ika”.

Negara kita akan hancur karena bangsa pribumi lebih asyik perankan egoistik satu golongan.

Generasi muda tanpa disadari sedang dijajah “asing”. Baik itu secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Dijajah dengan narkoba, pergaulan bebas, pornografi, akulturasi budaya dan lain sebagainya. Disinilah kita sebagai penerus bangsa tengah terlena dalam kemerdekaan tanpa mengisi kemerdekaan itu sendiri.

Mungkin, generasi zaman sekarang adalah generasi yang telah di “nina bobo”kan dengan sikap individualistik ataupun pesimistik.

Sudah saatnya kita harus menyadari betapa “bhineka tunggal ika” sangat penting dalam mengisi kemerdekaan ini. Saatnya pula kita bangun bangsa ini dari rakyat untuk rakyat.

Edt: Redaksi (AN)