Mungkinkah “KAMI” Mampu Memproklamasikan Kembali Bangsa dan Negara Indonesia?

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Deklarasi KAMI bisa dilakukan setiap hari, sebab yang lebih penting adalah apa yang hendak dilakukan dan apa yang harus pula rakyat lakukan”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Sebagai makmum yang patuh, saya selaku rakyat jelata kebanyakan yang sangat berharap banyak pada KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indlnesia) patut mempertanyakan langkah nyata yang harus dilakukan agar Infonesia benar-benar bisa selamat dari beragam ancaman yang kompleks hingga rakyat bisa segera kembali hidup normal dan menata masa depan yang lebih baik dan lebih beradab.

Sebab kami juga merasakan kerusakan yang sudah amat sangat parah ini tak hanya ekonomi, tapi politik dan hukum meliputi budaya yang brengsek seperti korupsi dan jual beli jabatan bahkan praktek pemerasan juga terhadap rakyat harus segera dihentikan.

Fenomenanya seperti praktek dari aparat penegak hukum yang justru melakukan pelanggaran hukum. Pejabat yang sepatutnya melindungi rakyat justru menekan dan menakut-nakuti rakyat.

Akibatnya, rakyat bukan lagi tidak percaya pada para aparat penegak hukum maupun pemerintah, tetapi banyak yang memilih bertindak sendiri karena tidak lagi percaya pada cara penyelesaian yang seharusnya dilakukan oleh mereka yang ditugaskan untuk itu dan mendapat gaji dari uang rakyat.

Deklarasi KAMI bisa dilakukan setiap hari, sebab yang lebih penting adalah apa yang hendak dilakukan dan apa yang harus pula rakyat lakukan. Sebab sebagai rakyat atau makmum, kami merasa tak cuma cukup mengamini. Sebab kami semua agaknya sudah merasa selesai berdoa. Maka itu giliran ikhtiar nyata perlu dilakukan bersama. Jangan sampai makmum hanya jadi tunggangan atau sekedar cari popularitas untuk kemudian pergi berundibg dengan penguasa untuk kemudian tak lagi pernah bisa ditengok batang hidungnya.

Ibarat keluar dari mulut singa masuk ke mulut buaya sungguh tak pernah kami lupakan sebab sudah berulang kali terjadi dari orde yang satu berganti orde berikutnya. Maka itu kali ini pun rakyat sudah bertekad tak sudi menjadi tumbal yang sia-sia. Setiap rakyat harus kembali menggebggan kedaulatan yang sejati, tak boleh dipinjam-gadaikan seperti waktu yang sudah-sudah.

Jadi jelas satu diantara tugas utama KAMI adalah menebus kedaulatan rakyat yang telah dipindah-tangankan oleh mereka yang masih mengklaim wakil rakyat. Sementara rakyat justru ditekan seperti praktek pemaksaan RUU Omnibus Law yang tak cuma hendak menggunduli kaum buruh Indonesia berikut sumber alam serta lahan di negeri kita.

Begitulah parahnya hukum kita, belum lagi masalah ekonomi yang sudah lebih bobrok seperti budaya bangsa yang tak karu-karuan kacau balaunya.

Jadi deklarasi KAMI tidak lebih penting bagi kami sebagai rakyat kebanyakan. Yang urgent adalah tindakan nyata, apa yang harus segera kita lakukan bersama. Jangan lagi syur sendiri.

Momen HUT Kemerdekaan Republik Indonesia memang tak cukup dibuat seremonial belaka. Karena essensinya bisa menguap dipucuk nasi tumpeng bersama lauk pauknya. Momentum sejarah awal kemerdekaan tak boleh berakhir dan kehilangan makna bahwa hakikat kedaulatan itu berada di dalam genggaman rakyat. Jangan pernah mau dipindah tangankan.

Dan sebagai makmum, kami serius akan patuh. Sami’na wa ta’ala wa atha’na.

Edt: Redaksi (AN)