Muridku Guruku

Foto : Doc. Bintangtimur.net


Oleh : Norman Arief


“menjadi murid dari bekas murid yang sekarang menjadi guru bukanlah tingkatan yang menjadi rendah”


BOGOR (Bintangtimur.net) – Dikaruniai memiliki disiplin ilmu adalah suatu anugerah dariNYA. Meski tidaklah ilmu itu terlalu spesifik dan mendalam dimiliki, setidaknya tanpa disadari sudah banyak murid yang tercetak dan survival arungi samudera kehidupan ini. Iya… semoga kelak jadi amal jariyah.


Menjadi seorang ‘guru’ bukanlah cita-cita. Tapi satu persatu datang seakan dititipkan olehNYA untuk bersama mengamalkan ilmu yang setidaknya dapat bermanfaat untuk diri sendiri. Metodelogi yang tidak lazim pada umumnya justru mudah dicerna para murid. Iya… lantaran ilmu ini bukanlah suatu kurikulum ataupun mata kuliah yang memiliki standarisasi. Melainkan ilmu yang hanya sebatas pada memaknai kehidupan dan mengenal semesta.


Beraneka ragam karakter dan daya nalar para murid membuat harus sembunyi-sembunyi menciptakan formula agar mudah mentransfer ilmu. Senda gurau, diskusi, ngobrol, cerita, olahraga, bahkan secarik kertas menjadi media agar mudah di nalar.

Hidup bersama dalam lintasi hari demi hari tanpa ada sekat antara murid dengan guru pun tercipta.
Para murid yang silih berganti datang beraneka ragam niat awal. Ada yang memang ingin mengabdi, mengubah sisi hidupnya, bahkan bermental benalu pun tetap diterima. Karena ini bukanlah sekolah umum yang memiliki akreditasi dan standar penerimaan. Melainkan ‘sekolah kehidupan’.


Iya… sekolah yang kelak para alumni bisa menjaga semesta agar bersih dari racun kobodohan.


Selama ‘sekolah kehidupan‘ berlangsung ada yang lulus dan ada yang meluluskan dirinya sendiri. Bahkan ada yang merasa sudah hebat dan ingin menjadi guru.

Hmm… itulah resiko yang harus disambut dengan tersenyum saat diperlakukan oleh murid yang ingin mengganti posisi, lantaran sudah pintar.


Dan ternyata beberapa alumni baik yang lulus ataupun meluluskan dirinya sendiri, telah mengajarkan ilmu yang sesungguhnya.

Kini saatnya menjadi murid dari bekas murid yang sekarang menjadi guru, bukanlah tingkatan yang menjadi rendah. Itu suatu proses bahwa seorang guru tidaklah harus selalu mengajarkan, tapi juga harus mau diajarkan meski itu dari murid.


Iya… dari murid seorang guru akhirnya bisa belajar sabar, tabah, bahkan menahan emosi.
Iya… dari murid seorang guru bisa belajar bagaimana caranya bersikap ketika dilupakan.
Iya… dari murid seorang guru bisa belajar bijak ketika diperlakukan tanpa adab dan akhlak.


Menjadi seorang guru tidaklah perlu kedepankan gengsi berterimakasih dan belajar dari murid.
Iya… muridku adalah guruku.


(tulisan ini hanyalah catatan di masa pandemi yang sudah lebih setahun berikan pelajaran kehidupan)

Edt : Redaksi (NA)