Narasi Kata-Kata

Foto: (Doc. Norman Arief)

“Kata-kata bisa bermakna ganda bagi yang berpersepsi terlalu cepat berhipotesa tanpa menelaah”

Oleh: Norman Arief

Depok (Bintangtimur.net) – Berbicara bagi sebagian orang, umumnya mengatakan suatu hal yang mudah. Bahkan maaf selagi buang ‘hajat’ pun bisa berbicara.

Sambil berdiri, duduk, tengkurap atau terlentang pun bicara bisa dilakukan. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah ‘kata-kata’ yang keluar itu bermanfaat atau tidak? Menyenangkan teman bicara atau tidak? Menyakitkan atau tidak? Memotivasi atau tidak? Jujur atau tidak? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Iya…

Sering kali kata-kata keluar tanpa olah fikir terlebih dahulu, yang pada akhirnya bisa menyakitkan bagi teman bicara. Dan akhirnya berubah status menjadi lawan bicara.

Iya…

Karena kata-kata yang keluar begitu tepat dan pada kondisi yang tepat serta tertuju pada orang yang tepat maka teman bicara akan nyaman mendengarkan. Bahkan hingga berjam-jam lamanya.

Iya…

Kata-kata bisa bermakna ganda bagi yang berpersepsi terlalu cepat berhipotesa tanpa menelaah.

Iya…

Kata-kata pun bisa menjadi senjata makan tuan apabila konsistensi yang mengucapkan tidak dilakukan.

Luar biasa memang mengolah kata-kata ternyata tidak semudah asumsi sebagian orang. Bagi seorang motivator kata-kata merupakan ‘produk’ yang menghasilkan materi. Karena peserta akan tergerak dan dibangkitkan melalui ‘kata-kata’ positif.

Bagi masyarakat kata-kata seorang politisi atau pejabat pemerintah bisa diartikan sebuah ‘janji’ yang harus ditepati melalui program nyata.

Bagi alim ulama atau juru dakwah, kata-kata akan menyadarkan ruang bathin dan menggiring ke arah Tuhan.
Bagi yang sedang jatuh cinta, kata-kata sayang dan cinta akan meluluh lantahkan hingga ke sendi-sendi tubuh dan bergetar tidak karuan. (misal ; Adinda… Aku sangat sayang dan mencintai kamu).

Hmmm….

Bagi seorang pengajar kata-kata yang dibungkus teori akan mencerdaskan dan menambah wawasan murid. Namun bagi sebagian murid mungkin kata-kata teori itu hal yang menjengkelkan karena harus menambah beban hafalan.

Sebenarnya narasi kata-kata ini lahir efek serangan insomnia yang konsisten tiap hari membombardir, dan beberapa ‘request’ dari sahabat. Yang dengan mudahnya meminta buat tulisan. Padahal ‘merangkai kata’ bukanlah hal yang mudah.

Apalagi dengan harapan isi dari narasi ini bisa membuat pembaca terinspirasi atau termotivasi.
Tapi ya sudahlah, semoga dengan narasi kata-kata bisa menyambungkan silaturahmi persepsi positif. Meski dalam membuat narasi ini tanpa kopi robusta jawa dan belum ada kiriman untuk stok kopi.

Kembali pada narasi kata-kata, sebaiknya berhenti saja sekitar beberapa menit untuk olah fikir sebelum mengeluarkan kata-kata. Sebab kata-kata meski bisa diralat tapi ucapan awal yang sering dijadikan penilaian atau tolak ukur.

Ingat seorang filsafat dari jerman frederich nietzsche mengatakan bahwa ‘tuhan telah mati’. Pada akhirnya terjadi kontroversial yang luar biasa pada zamannya karena menyakiti kaum agama.
Semisal lagi di Indonesia seorang ‘ahok’ dengan kata-kata kutipan “Al-maidah” maka dianggap penista agama islam.

Luar biasa dan dahsyat sebuah kata-kata bisa mengangkat derajat seseorang dan bisa menjatuhkan derajat seseorang.
Terlepas apakah serius atau bercanda kata-kata itu terlontar. Sebaiknya cerna dengan baik agar menyejukkan.

Mari kita berbahasa yang santun, sejukkan dunia dengan kata-kata penuh cinta.
Sebagai penutup narasi, penulis ingin berkata-kata dalam tulisan ; Aku mencintaimu…

Dan tidak ada salahnya mendengarkan kata-kata dalam lirik lagu ‘bahagia dengan memberi’ (judika).

Edt. Redaksi (AN)