Narasi Reuni Kecil

Foto: (Doc. Norman Arief)

“Tidak apalah sah-sah saja mengklaim sukses. Toh sejatinya ia tidak tahu sukses yang sesungguhnya”

Oleh: Norman Arief

Depok (Bintangtimur.net) – Berjumpa dua kawan yang sekian lamanya waktu tidak pernah jumpa suatu kebahagiaan tersendiri. Namun menyisakan narasi bertanya.

Iya…
Kawan telah mencemooh gaya hidup teman yang dianggapnya tidak ada perubahan. Seakan dirinya telah menjadi orang yang sukses.

Tidak apalah sah-sah saja mengklaim sukses. Toh sejatinya ia tidak tahu sukses yang sesungguhnya. Sedangkan sukses versi kawan hanya diukur dari sisi materi saja.

Teman justru sudah merasa sukses dibanding sang kawan.

Kenapa?

Karena dirinya justru telah berhasil bertahan hidup tanpa ada hutang materi. Meski penuh kesederhanaan, setidaknya keluarga bahagia ujarnya.

Iya…
Dan saya pun membenarkan, karena sukses itu tolak ukurnya apa? Dan pembandingnya ke siapa?

Bertiga larut dalam obrolan nostalgia dan membahas kondisi kehidupan saat ini.

Diri ini hanya senyum saja mengamati antara kawan dan teman saling mengukur sepak terjang karir mereka.

Obrolan tidak terlalu penting rasanya. Tapi terlanjur menjadi tema silaturahmi.

Pada akhirnya tema bergeser bicarakan keterpurukan teman yang tidak ada diforum meski menyerempet ke gosip.

Kawan dan teman larut dalam keprihatinan dan juga mensalahkan keterpurukannya. Sedangkan diri ini kebetulan mengetahui detail siapa yang dibicarakan.

Ahh…dasar gatel bibir ini jika tidak ikut berkomentar. Diri ini coba jelaskan ke mereka bahwa teman yang sedang terpuruk itulah sebenarnya orang yang paling sukses diantara kalian.

Mereka bertanya heran kenapa bisa disimpulkan seperti itu?

Jelas bahwa ia tidak sedang terpuruk, justru sedang mengayomi orang-orang yang sedang terpuruk agar bisa bangkit. Hingga hartanya terpaksa dilepas satu persatu agar orang sekelilingnya bisa bangkit dari keterpurukan. Ia rela memikul derita orang lain dan ikhlas memikul hutang orang lain, jawab diri ini. Bahkan ia berani jadi objek difitnah.

Jadi menurut diri ini ia pantas mendapat predikat orang sukses.
Ia tidak peduli gaya hidup mewahnya berubah menjadi sederhana demi orang lain dan berani menanggung hutang orang lain.

Diri ini memang pernah bercengkrama menanyakan perihal keterpurukannya secara langsung. Dan ia meminta untuk dirahasiakan bahwa dia bersikap seperti itu.

Kalimat yang menjadi perhatian diri ini ia mengatakan setidaknya dengan memberi saya akan dibayar tunai dan berlebih dariNYA. Selain itu meski bukanlah seorang yang sangat religius baginya itu tanda ia bersyukur. Sebab dengan menolong diri ini jadi sehat dan jalan usaha seakan menjadi terbuka dan selalu dimudahkanNYA.

Narasi diatas sepenggal kisah silaturahmi yang mungkin saja tidak penting. Tapi bagi diri ini bahwa sukses itu bukan perkara banyak materi dan tidak punya hutang. Sebab ada kisah diluar silaturahmi yang justru menyadarkan makna sukses.

Iya…
Rela berkorban dan ikhlas menolong orang lain yang sedang dalam kesulitan itu jauh lebih sukses.

Semoga narasi dari silaturahmi reuni kecil ini bisa menjadikan jiwa kita untuk tidak mengukur hebatnya diri dan merasa lebih baik.

Edt: Redaksi (AN)