NasDem Minta Kemendikbud Perhatikan Masukan Stakeholder Soal PJP

Foto: Google

“NasDem mendorong Kemendikbud untuk senantiasa membuka ruang sosialisasi dan jaring aspirasi seluas-luasnya kepada berbagai pihak yang berkepentingan dalam proses perumusan peta jalan tersebut,”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Fraksi Partai NasDem menyatakan tiga sikap terhadap perumusan Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035 yang saat ini tengah disusun Kemendikbud. Salah satu sikap NasDem adalah meminta Kemendikbud untuk memperhatikan segala sikap keberatan, masukan, juga koreksi yang masuk dari berbagai pemangku kepentingan dalam penyusunan Peta Jalan Pendidikan tersebut.

Kapoksi Komisi X Fraksi Partai NasDem, Ratih Megasari menyampaikan hal tersebut sebagai salah satu dari tiga pernyataan sikap NasDem terhadap proses perumusan Peta Jalan Pendidikan Nasional yang kini tengah berjalan. Meski begitu, Ratih mengatakan, NasDem memahami, bahwa Peta Jalan Pendidikan Nasional memang masih dalam proses perumusan.

NasDem menghormati Kemendikbud yang masih terus menjalankan proses tersebut dan menghargai sikap Kemendikbud yang terbuka atas segala masukan dari berbagai pemangku kepentingan.

“NasDem mendorong Kemendikbud untuk senantiasa membuka ruang sosialisasi dan jaring aspirasi seluas-luasnya kepada berbagai pihak yang berkepentingan dalam proses perumusan peta jalan tersebut,” kata Ratih, Senin, 8 Maret 2021.

Salah satu sikap NasDem lainnya adalah memaklumi adanya keberatan dari berbagai pihak atas rumusan Peta Jalan Pendidikan Nasional. “Fraksi Partai NasDem berharap, Kemendikbud terus memperhatikan dengan sungguh-sungguh segala keberatan, koreksi, sekaligus masukan yang datang berbagai pemangku kepentingan terkait jalan peta besar pendidikan nasional kita,” terangnya.

Fraksi Partai NasDem juga mengingatkan kepada pihak Kemendikbud dan seluruh pemangku kepentingan agar rumusan Peta Jalan Pendidikan Nasional ini tidak semata didasarkan pada upaya menghadapi arus besar perubahan dunia yang cenderung didominasi oleh paradigma ekonomi dan ukuran-ukuran material semata. Akan tetapi juga pada hasrat untuk membangun jiwa dan mental bangsa yang bekepribadian dan didasari oleh semangat dan modal kebudayaan nasional yang dimiliki bersama.

Menurut Ratih, pendidikan adalah jalan strategis bagi pembangunan nasional. Pembangunan nasional artinya pembangunan kehidupan bangsa yang diarahkan pada tujuan berdirinya republik ini.

“Pembangunan nasional bukanlah semata pembangunan fisik dalam lingkup dan alam pikir ekonomi. Lebih dari itu, pembangunan nasional haruslah selalu mengarusutamakan amanat Kemerdekaan 1945 sebagaimana termaktub dalam syair lagu kebangsaan Indonesia Raya: ‘Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya’,” papar Ratih.

Itu artinya, kata Ratih, dimensi kejiwaan, dimensi spiritualitas, dimensi suprastruktur senantiasa menjadi yang utama, demi membimbing segala yang ragawi, yang materi, dan segala yang berposisi sebagai infrastruktur. “Berdirinya republik ini didahului oleh perumusan dan upaya-upaya yang didasari oleh kesadaran semacam ini,” imbuhnya.

Segala dimensi badani dalam kehidupan bangsa dan negara ini, kata Ratih, dibimbing oleh kesadaran berdimensi rohani. Itulah mengapa berdirinya Indonesia dimulai dari perumusan dasar negara yang rumusannya didapat dari falsafah hidup bangsa yang menghuninya.

Pengembangan kapasitas keilmuan dan skill anak didik adalah penting. Namun lebih penting dari itu ialah pembangunan mental, spiritualitas, dan karakter mereka terlebih dahulu.

“Inilah makna dimensi kejiwaan yang membimbing dimensi kebadanan. Inilah PR mendasar kita menghadapi segala perubahan dunia dan dinamika kehidupan berbangsa kita,” jelasnya. (APL)

Edt: Redaksi (AN)