Nelayan dan Masyarakat Pesisir Yang Resah Tak Boleh Penangkap Benur

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Kebijakan inilah yang telah meresahkan para nelayan yang mengandalkan hidup dari menangkap benur sampai sekarang”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Komitmen untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut dengan memerangi praktik pencurian ikan atau illegal fishing, dari Kementerian KKP Sakti Wahyu Trenggono pada Kontan.co.id, 2 April 2021. Sebab menutur dia ini merupakan persoalan global yang perlu di sikapi bersama.

Setiap negara harus bersuara dan menunjukkan langkah konkret dalam memerangi praktik illegal fishing yang dapat merusak populasi biota laut ini.

Saya juga sepakat dengan aturan sejumlah negara yang memberlakukan ketentuan ketertelusuran produk-produk perikanan yang masuk ke suatu negara. Dengan begitu, dapat ditelusuri dari mana sumber ikan itu berasal dan bagai mana proses produksinya, ujar Sakti Wahyu Trenggono.

Fokus Menteri KKP untuk mengembangkan perikanan budidaya di dalam negeri, sebagai upaya menjaga keberlanjutan di tengah stagnannya produktivitas perikanan tangkap sejak beberapa tahun terakhir patut didukung oleh semua pihak.

Beberapa jurus yang diubar Sakti Wahyu Trenggono untuk meningkatkan kualitas produk hasil perikanan guna menggenjot volume dan nilai ekspor di tahun 2021, adalah satu di antaranya ialah melakukan pembaruan alat uji, pengembangan sumber daya manusia, hingga penguatan pengawasan di lapangan.

Yang pasti, katanya ialah peningkatan kualitas produk perikanan harus dimulai dari hulu yang akan jadi prioritas.

Masalah yang muncul kemudian adalah dampak terusan dari penghentian sementara ekspor benih bening lobster (BBL). Meski kebijajan penghentian sementara ini dilakukan perlu mendapat masukan dari semua pihak, sehingga bisa menghasilkan solusi yang terbaik dan benar-benar tepat.

Kebijakan inilah yang telah meresahkan para nelayan yang mengandalkan hidup dari menangkap benur sampai sekarang. Karena nelayan menjadi terhambat atau bahkan mengalami masalah, karena harus berhadapan dengan petugas yang langsung melakukan tindakan penangkapan dan menyita hasil benur perolehan mereka untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari.

Atas dasar inilah para nelayan dan masyarakat pesisir yang menggantungkan penghasilannya untuk hidupnya kini bersiap-siap mengadakan pertemuam besar untuk konsolidasi dan merapatkan barisan guna mensikapi keputusan Menteri KKP yang telah mematikan usaha dari hasil penangkapan benur di laut.

Apalagi Sakti Wahyu Trenggono sempat mengatakan penghentian ekspor BBL itu bisa dihentikan secara permanen dengan harapan bisa mengalihkan usaha budidaya lobster yang rata-rata tidak mampu dilakukan oleh nelayan yang memiliki modal kecil.

Edt: Redaksi (AN)