O’iya ya…

Foto (Doc. Norman Arief):

“Bangkitlah menjadi manusia yang seutuhnya”

Oleh: Norman Arief

Jakarta (Bintangtimur.net) – Pada akhirnya narasi fiksi rasional harus bekerja.
Banyak orang keluh kesah dalam lintasi lalu lintas kehidupan ini.

Sedikit-sedikit risau.
Sedikit-sedikit cemas.
Sedikit-sedikit emosi .
Dan ragam olah fikir negatif lainnya yang menyerang akal sehat.

Padahal semua yang terlihat belum tentu indah dipandang.

Yang hanya bisa dirasakan justru terkadang datangkan rasa nyaman.

Mengapa kita tidak mau berfikir O’iya ya…

Siburuh kasar menerjang terik panas dan hujan memikul beban demi bertahan hidup.
O’iya ya itu lebih baik daripada bermimpi.

Si pekerja seks komersil sibuk puaskan pelanggan demi bertahan hidup.
O’iya ya itu lebih baik dari pada kita tidak berikan pekerjaan yang halal untuknya namun sibuk mencemooh.

O’iya ya…
Kenapa kita sibuk mengatur Tuhan agar disegerakan datangnya rezeki. Kenapa kita tidak mensyukuri saja nikmat yang telah diberikan.

O’iya ya…
Kita sibuk sebagai penonton mengatur pemain yang sedang bertanding.

O’iya ya…
Berbuat dan bekerja lebih baik daripada kita bermimpi dan berpangku tangan.

O’iya ya…
Kita hidup ini harus mengejar dunia dan akhirat, tapi abaikan panduan hidup dari Tuhan.

O’iya ya…
Rasional itu buah karya irasional dalam kerangka berfikir.

O’iya ya…
Simbiosis mutualisme positif itu rangkaian melestarikan siklus kehidupan. Lantas kenapa harus ada sterilisasi rahim.

O’iya ya…
Ideologi itu tidak lahir dengan sendirinya.
Lantas kenapa larang-larang berfikir. Bukankah berfikir yang membedakan kita dengan mahkluk bernama hewan.

O’iya ya…
Kebodohan itu buah karya setan. Lantas kenapa kita larut bersahabat dengan setan?

Hmmm…
Sudahlah berhenti jadi orang bodoh. Bangkitlah menjadi manusia yang seutuhnya. Bukan manusia setengah hewan.

Berifikr O’iya ya… Merupakan wujud bahwa kita ini manusia.

Semoga kita bisa menjadi manusia.

Edt: Redaksi (AN)