Okhlokrasi

Foto: Ist

“Okhlokrasi tentang model pemerintahan. Ini fase setelah demokrasi”

Oleh: Irawan Santoso Shiddiq

Jakarta (Bintangtimur.net) – Ini kalimat rada asing. Karena memang bukan kosakata lidah kaum nusantara. Bukan kosakata Melayu, Jawa, Sunda, Batak, apalagi Manado. Ini kata yang ada dari barat sana. Romawi telah mengenalnya. Sama halnya demokrasi. Lidah Melayu susah mengucapnya. Tapi, seolah hal itu jadi bahasan saban hari.

Okhlokrasi tentang model pemerintahan. Ini fase setelah demokrasi. Polybios memperkenalkannya. Dia sejarawan Romawi. Dikenal memiliki teori ‘”siklus Polybios”. Siklus jalannya model pemerintahan. Mulai dari monarkhi, tirani, aristokrasi, oligarkhi, demokrasi, okhlokrasi dan kembali ke monarkhi. Ini siklus yang disusun Polibyos.

Merujuk perjalanan peradaban sepanjang jaman. Ibnu Khaldun, filosof sejarawan Islam juga memberi rumusan peradaban. Dia bilang, “Suatu peradaban bak organisme, mulai lahir, tumbuh berkembang, dewasa, tua dan mati.”

Polybios dan Khaldun tentu berhubungan. Keduanya memiliki toeri tentang model pemerintahan. Dari sanalah kata ‘okhlokrasi’ menyeruak. Selepas demokrasi. Karena ‘demokrasi’ bukan model satu-satunya. Demokrasi, bukan yang harus rela mati diperangi. Karena siklus kekuasaan pasti berubah. Tak mungkin bersifat statis. Machiavelli pun menampiknya.

Khalayak masih disuguhi mimpi demokrasi. Dari siklus Polybios kita bisa menarik bukti. Ini bukan lagi masa demokrasi. Karena fase itu telah lewat jauh. Ini jaman model okhlokrasi. Dr. Ian Dallas, penulis ulung asal Skotlandia, memberi tunjuk ajar dalam The Entire City, kitabnya termahsyur.

Demokrasi jelas telah mati. Lihatlah masa Romawi. Di sanalah demokrasi pernah dilakoni. Longoklah masa Yunani kuno. Jamannya Aristoteles merumuskan. Era sebelum Plato menggambarkan, “republik.’ Athena kemudian berubah dengan ‘demokrasi.’

Romawi masa Cicero memberi gambarannya. Masa Julius Caesar berjaya. Saat itulah suasana demokrasi bisa dinikmati. Tapi selepas itu, bencana tiba. Masuk ke fase okhlokrasi. Sekali lagi, Dallas memberikan gambaran utuh dalam ‘The Entire City.’

Karena kini bukan lagi demokrasi. Tak perlu dibahasa panjang lebar. Karena siklus telah terbukti. Okhlokrasi inilah fasenya. Jamannya. Sistemnya telah berjalan. Karena demokrasi telah lewat. Teori ‘Trias Politica-nya Montesquei telah lenyap. Itu hanya angan-angan belaka.

Karena susunan kekuasaan bukan sekedar ‘eksekutif, legislatif dan yudikatif. Bukan itu. Selepas revolusi Perancis, 1789, teori itu langsung gugur. Karena tak sesuai dengan amalannya.

Fase itulah muncul yang namanya ‘state’. Ini dari bahasa Machiavelli. Il Principe menyebutnya ‘lo stato.’ Alenia pertama kitab ‘Sang Pangeran’ itu. Dari ‘lo stato’, diterjemahkan menjadi ‘state’ dalam english. Perancis diterjemahkan ‘L’etat’. Belanda jadi ‘staat’. Inilah diterjemahkan menjadi ‘negara.’ Entah pas atau tidak padanannya. Tapi fase itulah seolah demokrasi didengungkan.

Selepas kudeta pada ‘Vox Rei Vox Dei” di Eropa klasik. Suara Raja Suara Tuhan dikudeta. Diganti suara rakyat suara Tuhan. Demokrasi seolah menjadi dibela sampai mati. Padahal terjadi penyelewengan. Karena dibalik ‘Vox populi vox Dei’, menyelesup sekelompok orang penentu.

Mereka yang menyusun ‘state’ tadi. Merekalah kaum bankir. Pemilik bank sentral. Dan bank sentral menjadi makhluk ‘ghaib’ diluar ‘Trias Politica.’ Tak dikenali Montesquei. Tak dikenali Machiavelli. Tapi menyelusup dalam teorinya JJ Rosseou. Inilah wujud ‘state’ yang nyata. Bukan lagi ‘Trias Politica.” Melainkan ‘Trias Politica’ dikendalikan ‘sentral bank.’

Karena faktanya sentral bank memiliki kekuasaan. Mereka mengendalikan uang. Mengendalikan harta. Mereka entitas yang tak bertanggungjawab secara hukum pada entitas ‘Trias Politica.’ Mereka berdiri sendiri. Utuh, mandiri tanpa pengawasan. Karena gouverment bukan sebagai ownernya.

Melainkan dimiliki segelintir kaum Yahudi. Sekuel itu bisa dibaca melalui Bank of England, 1668. Kala bank sentral pertama di dunia itu berdiri, mengendalikan Raja William sebagai nasabah terbesar. Raja Inggris berutang pada bank.

Sekuel itu kembali berulang. Kaum bankir mengkooptasi Perancis. Mengkudeta Raja Louis XVI. Dan membentuk ‘republik’ Perancis. Disitulah sekuel okhlokrasi dimulai. Bukan demokrasi. Bankir mengangkat Napoleon. Di kemudian hari menggulingkannya. Seabad kemudian, mereka merambah Daulah Utsmaniyya.

Tanzimat 1840, periode masuknya ‘okhlokrasi’ di Utsmaniyya. Aksi Attaturk 1924, menjadi kelanjutannya. Tapi ‘okhlokrasi’ merambah dimana-mana. Tak ada ‘trias politica.” Tak ada yang disebut demokrasi. Karena raklyat tak memegang kendali. Kendali dibawah kontrol banking sistem. Disitulah rusaknya mekanisme peradaban manusia. Tak lagi fitrah.

Fenomena ‘state’ merambah seantero dunia. Disitulah Dallas memberi kita lagi Harold Laski, lawyer Inggris abad 20. Laski berbicara tegas dalam ‘Vindiciae Contra Tyranoss.’ Dia berkata, “Saatnya re-evaluasi terhadap konsep ‘state’.” Kalimat Laski ini layak dipedomasi. Karena sejak itulah fase okhlokrasi dimulai.
Fakta sejarah dunia, ‘state’ bukan didirikan oleh ‘the founding fathers’.

Melainkan oleh segelintir bankir. State Mesir, Turki, disana berperan Ernst Cassel, pemilik Bank of Egipt dan Bank of Istanbul. Tentu layak disimak, benarkah Amerika Serikat didirikan Abraham Lincoln. Karena di sana peranan bankir merajalela. Merekalah penentu berdirinya ‘state’, seperti fase Inggris dan Perancis pasca revolusi 1789. .

Inilah sekuel historis yang tak dirambah bangku kuliah. Tapi fenomena nyata dalam kisah sekarang. Karena tak satu pun gouverment state bisa mencetak uangnya sendiri. Melainkan di bawah otoritas banking sistem. Dari sini teori ‘soverignity’ Jean Bodin jelas gugur. Apalagi merujuk pada ‘Leviathan’nya Thomas Hobbes.

Seolah ini menjadi kenyataan. Makhluk buas yang menguasai dunia, dalam perspektif yang bukan ditawarkan Hobbes. Melainkan perspektif yang memperbudak manusia modern.

Karena tatanan dunia kini dikendalikan kaum bankir. Bukan oleh rakyat. Kehendak rakyat sama sekali lumpuh. Rakyat hanya dijadikan warga buruh. Pasca revolusi Perancis, tatanan kelas masyarakat hanya terbagi dua. Ian Dallas menggambarkan utuh dalam kitabnya, “The Engine of the Broken world.”

Dulu, sebelum revolusi Perancis, kaum sipil Eropa terbagi tiga kelas. Kaum bangsawan dan agamawan, kaum pengusaha dan kaum rakyat. Selepas ‘demokrasi’ merebak, berubah menjadi dua kelas saja. Kelas penguasaha (majikan), kedua kedua menjadi kosong, dan rakyat tetap di kelas ketiga. Inilah tatanan dunia.
Kaum pengusaha mengkudeta bangsawan dan agamawan. Gereja dan Raja dikudeta. Bankir yang kemudian berkuasa. Inilah fase okhloktrasi itu. Bukan demokrasi.

Ini juga yang disebut era modernisme. Dan kini berubah menjadi post modernisme. Dalam perspektif uang, nampak kasat mata pergeserannya. Dulunya, semua manusia menggunakan emas dan perak. Kemudian diubah menjadi kertas, oleh para bankir dan state-man. Itulah fase modernitas.

Lalu kini uang berubah lagi menjadi byte komputer, atas dasar hukum positvisme. Ini yang disebut post modernisme. Tentu, kendali itu semua bukan pada ‘head of state.’ Bukan pada kepala negara. Melainkan pada banking sistem. Yang dikontrol segelintir Yahudi kaya.

Mereka lintah darat, rentenir yang sejak masa Perang Salib berbisnis tukar menukar uang. Kemudian memiliki nasabah seorang Raja. Dan kemudian mengganti raja menjadi ‘presiden’ atau ‘perdana menteri.’

Dari sinilah okhlokrasi terbaca. Tatanan dunia kini, yang bukan lagi demokrasi. Nietszche, filosof fenomenal mampu memberi jawaban. Bahwa tatanan ini bukan lagi ‘kebenaran’ hakiki. Itu yang dia sebut dengan ‘nihilisme.’ Hilangnya nilai-nilai manusia. Karena kemusyrikan telah melanda manusia.

Itu dimulai sejak era rennaisance, filsafat dilahap Eropa, mengambil dari mu’tazilah tentunya.
Dari situlah tatanan dunia berubah. Filsafat, kemudian melahirkan filsafat kekuasaan. Lahirlah ‘politik. Filsafat kemudian merumuskan tentang hukum, lahirlah ‘positivisme.’

Dan sialnya, kaum muslimin abad modern, ikut terkesima. Ikut-ikutan kuffar dengan merumuskan Islam. Alhasil lahirlah ‘Islamisme.’ Teori tentang Islam. Tentu ini bukan Dinul Islam.

Yang pasti, ini bukan lagi demokrasi. Tentu tak layak bicara ‘demokrasi’ juga sesuai Islam. Melainkan harus mahfum membaca jaman. Karena selepas okhlokrasi, akan kembali pada monarkhi. Kepemimpinan yang melekat pada personal rule. Bukan lagi system rule. Dr. Ian Dallas telah memberikan tuntas.

Islam memberi jawaban. Shaykh Abdalqadir as sufi, nama lain dari Ian Dallas, memberi tunjuk ajar kembalinya monarkhi. Selepas okhlokrasi. Ini ditandai dengan kembalinya rukun Zakat. Karena Zakat kini telah runtuh. Zakat mal (harta), diubah-ubah fiqihnya oleh kaum modernitas, demi kepentingan ‘islamisme.’
Makanya Zakat harus dikembalikan.

Harus dipungut pihak berwenang, “Ulil Amri Minkum” sesuai amanat Al Qur’an Surat At Taubah ayat 103. Itulah pemimpin yang berhak menarik Zakat. Dan alat bayar zakat tak lagi menggunakan instrumen banking sistem, yang jelas riba.

Dari kembalinya zakat, sesuai fiqihnya, maka kembalinya kekuasaan (power) dan kekayayaan (wealth) ke tangan kaum muslimin. Inilah memerlukan jamaah berlandaskan asyyabiyya Tauhid kepada Allah Subhanahuwataala.

Tatkala Zakat kembali diprioritaskan, maka siklus yang merujuk Hadist Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam pun akan kembali. Karena muslimin akan kembali ke fase khilafah minhaj an Nubuwwah. Dan, permulaan masa khulafaur ditandai dengan prioritas penegakan rukun Zakat.

Ingat fase awal Khalifah Abu Bakar as Shiddiq. Zakat kembali, maka Islam akan kembali. Zakat tegak, maka okhlokrasi akan musnah. Insha Allah.

Shaykh Abdalqadir as sufi mengatakan,”Satu-satunya jalan untuk kembali ke Islam bagi umat Muslim adalah dengan mengembalikan zakat yang ditarik dan diawasi oleh seorang Amir pada tingkat Jama’ah lokal. Ingat bahwa puasa menyucikan tubuh kita. Zakat menyucikan kekayaan dan harta. Tanpa Zakat–Tasawwuf tak akan bisa ada.”

Edt: Redaksi (AN)