Ornamen Salib di Latar Logo HUT RI ke-75, Ketum PPTI: Sensitivitas Pemerintah Jokowi Tumpul

Foto: Rahman Sabon Nama bersama Ketua DPD APT2PHI Malang Raya Letjen.TNI purn. Umar Abdul Azis,SH.MH

“Syaraf sensitivitas pemerintah untuk menjaga harmoni kerukunan beragama kok tumpul, apakah kehilangan kepekaan?”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Ornamen grafis berbentuk kayu salib yang menjadi latar pada logo HUT RI ke-75 menyulut ketidaknyamanan umat Islam.

“Syaraf sensitivitas pemerintah untuk menjaga harmoni kerukunan beragama kok tumpul, apakah kehilangan kepekaan?” tanya Ketua Umum Persatuan Pengamal Tarekat Islam (PPTI) yang berada di Kota Malang Jawa Timur, Ahad (16/8) tadi.

Tak kurang dari ulama kondang, Abdullah Gymnistiar pun menyatakan bahwa umat Islam bisa jadi berang hanya gegara ornamen tersebut.

Rahman Sabon Nama yang dimintai tanggapan, justru mempertanyakan kenapa di tengah problema krisis kesehatan, pandemi Covid-19 plus krisis ekonomi, namun pemerintah seakan sengaja mengeksplor dan mengeksploitasi masalah sensitif agama menjelang HUT Kemerdekaan.

Harusnya, kata Rahman, di momen sakral dan hidmat ini (HUT Kemerdekaan) pemerintah membangun kembali kesadaran akan persatuan bangsa yang kasat mata telah terpolarisasi.

“Bangsa besar yang sudah terpolarisasi ini harusnya kembali disatukan, terutama dalam mengatasi pandemi virus yang mengancam kesehatan rakyat pada hari-hari ini yang berkelindan dengan krisis ekonomi dan menjurus pada resesi yang berkepanjangan,” kata Rahman Sabon Nama.

Menurut Alumnus Lemhanas ini, sentivitas agama seharusnya dikelola secara baik dan bijak oleh pemerintah sehingga menjadi kekuatan guna mendorong partisipasi umat beragama dalam pembangunan nasional.

“Khususnya, agar ikut membantu mengatasi multi krisis saat: krisis kesehatan ekonomi, bahkan krisis hukum atau keadilan,” ujar Rahman.

Ia melanjutkan, jangan justru sebaliknya menyulut dan memelihara kontroversi yang menjurus pada adu domba Sara sehingga mengempaskan bangsa ini ke jurang disintegrasi. (APL)

Edt: Redaksi (AN)