Paket Sembako Mungkin Untuk Makan Sahur

Foro: (Ist)

“Masalah sampai hari ini sejak PSBB diberlakukan sudah dua pekan lamanya paket sembako yang hendak dibagikan itu belum juga keterima”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan harus mendengar serta memperhatikan suara rakyat. Jangan seperti pejabat lainnya yang mau pakai pemikiran serta caranya sendiri sehingga aspirasi rakyat terabaikan. Sebab hanya dengan begitu sikap dan jiwa kebangsaan bisa terus terlatih untuk menimpin negeri ini.

Jadi tanggung jawab Gubernur Jakarta tidak cuma sebatas warga Jakarta saja. Sebab warga bangsa yang tidak pulang mudik sehingga harus tetap tinggal di Jakarta pun harus disantuni seperti warga DKI Jakarta lainnya.

Masalah sampai hari ini sejak PSBB diberlakukan sudah dua pekan lamanya paket sembako yang hendak dibagikan itu belum juga keterima. Sementara pertahanan pangan warga sudah kansas terkuras, termasuk uang simpinan untuk keluarga di kampung tak bisa dikirimkan.

Dalam dua hari terakhir petugas di tempat tinggal sementara para pekerja dari luar kota Jakarta pun sudah diminta foto copy KTP. Tapi hari ini kembali disibukkan dengan permintaan foto copy kartu keluarga.

Lha, logikanya dimana ada pekerja musiman di Jakarta yang sempat menenteng lembaran kertas KK itu. Yang lupa bawa KTP saja tak kalah jumlahnya. Lalu haruskah mereka yang telah sudah itu dipersulit juga untuk menerima bantuan?

Itu baru masalah pangan. Lantas bagaiman dengan kaum buruh yang dirumahkan. Apa sungguh mau diberi kompensasi karena tak masuk kerja, upah dipotong separo dari jumlah upah yang bisa diterima dan bagaimana untuk mereka yang di PHK ?

Masalahnya jadi rumit pula bahwa buruh yang bersangkutan bukan penduduk Jakarta, tapi dari perusahaannya atau kantornya saja yang berkedudukan di Jakarta.

Kerunyaman warga masyarakat seperti diatas bisa juga terjadi di kota-kota lain. Namun kesulitan mungkin pula sama, apalagi beberapa hari lagi kita senua mau memasuki bulan Ramadhan. Yang bukan Muslim pun patut dipahami imbas dari suasana puasa pasti ada juga. Seperti biasanya untuk membeli bahan pangan pokok saja semua harga dipasar biasanya saat Ramadhan ikut ugal-ugalan.

Pemahaman pada imbas puasa ini perlu disampaikan agar dapat dimengerti juga bahwa soal kemanusiaan itu, apalagi bencana dan wabah tidak ada pilih kasih atau tebang pilih seperti tata laksana hukum dan peradilan yang korup dan bejad.

Oleh karenanya dapatlah lebih bijak cara menghadapi teror corona ini, persis seperti pesan orang tua kita yang bijak, melakukan senyanya seperti ibadah dan bersedekah. Ikhlas, tulus dan jujur terutama pada diri sendiri.

Paparan pendek ini sejujurnya juga ingin dijadikan sambutan pada acara buka puasa bersama kawan-kawan buruh, sekiranya sergapan corona sudah mereda dan PSBB telah dianggap selesai. Meski paket sembakonya pun belum juga sampai keterima.

Biar terlambat, toh masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Sebab tak seorang pun yang tahu, mungkin saja paket sembako itu Mas Anies maksudkan memang sejak semula disiapkan untuk makan sahur.

Edt: Redaksi (AN)