Pasak Generasi Milenial Menggapai Negeri Adil, Makmur Dan Adidaya

Foto: Doc. Dr. Ali Mahsun Atmo, M. Biomed

“Mari kita bangun negeri ini di atas keyakinan ketuhanan kita untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari”

Oleh: Dr. Ali Mahsun Atmo, M. Biomed (Presiden Gumregah Nusantara)

Jakarta (Bintangtimur.net) – Pada malam hari ini, Selasa, 2 Juni 2020, izinkan saya, dr. Ali Mahasun Atmo, M. Biomed., Presiden Gumregah Nusantara menyampaikan: “Selamat hari lahir Pancasila 1 Juni 2020. Rakyat terlindungi dan hidup sejahtera berkeadilan. Sebuah hal mendasar amanat pembukaan UUD 1945”.

Alhamdulilah, marilah kita selalu mensyukuri anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT., hanya atas kehendak dan ridho-Nya lah pada malam berbahagia ini, kita semua, segenap rakyat dan bangsa Indonesia masih diberi kesempatan dan kesehatan untuk bersilaturahim dengan maksud dan tujuan yang satu, ingin bersama dan bersatu mewujudkan tegakkan kembali sebuah keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat, nusa dan bangsa, serta segenap mahluk yang ada di bumi nusantara guna menggapai kejayaan nusantara kedua yang adil, makmur dan adidaya.

Selaku Presiden Gumregah Nusantara, saya mohon do’a restu, ijin, ijazah dan dukungan kepada segenap pemangku republik khususnya rakyat dan generasi milenial generasi penerus bangsa, pemuda, mahasiswa, pelajar, siswa dimanapun kalian berada untuk menyampaikan hal mendasar, yaitu Gumregah Nusantara dan Pasak Mileanial Menggapai Negeri Adil, Makmur dan Adidaya.

Gumregah Nusantara merupakan organisasi sosial kemasyarakatan yang independen, tidak terkait dan tidak mengikatkan diri terhadap kepentingan politik praktis, partai politik, dan kekuatan politik berbasis agama, suku, ras dan etnik.

Gumregah Nusantara hanya ingin mendorong rakyat, bangsa dan negeri ini menggapai cita-cita luhur pembukaan UUD 1945. Gumregah itu adalah salah satu kata kuno nusantara. Yang bersaal dari kata sifat Gergah yang artinya Bangkit.

Ditambah UM menjadi kata benda Gumregahg yan artinya Kebangkitan. Namun, arti dan makna amaniah Gumregah Nusantara adala sangat luhur dan mulia.

Yaitu sebuah kesadaran secara utuh dan menyeluruh, sebuah kobaran api semangat yang sangat kuat untuk Kebangkitan dari segala arah penjuru dengan segala dan segenap sumber daya dan upaya bagi rakyat, nusa, bangsa dan segenap mahluk yang ada di bumi nusantara untuk menegakkan kembali sebuah keadilan dan kesejahteraan guna menggapai kejayaan nusantara kedua yang adil, makmur dan adidaya.

Untuk menggapai Visi Agung-nya, yaitu menghantarkan rakyat, bangsa dan negeri menggapai kejayaan nusantara kedua yang adil, makmur dan adidaya, Gumregah Nusantara memiliki Pamca Misi Agung.

Pertama, mendampingi pelaku ekonomi rakyat sehingga usaha, pekerjaan dan ekonominya maju, berkembang dan unggul, hidupnya sejahtera secara berkeadilan.

Kedua, mendampingi generasi penerus bangsa, generasi milenial untuk dapat tercetak sebagai kader pemimpin bangsa yang handal dan unggul, cinta dan bangga kepada tanah air, bangsa, dan negerinya sendiri.

Ketiga, menghadirkan Tuhan dengan kedepankan toleransi, serta mencegah konflik antar/internal umat beragama/Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME.

Keempat, merawat, melestarikan dan mewujudkan tatanan nilai, budaya, dan peradaban bangsa dalam kehiduapan sehari-hari, bermasyarakat dan berbangsa.

Kelima, menghadirkan sebuah keseimbangan keberadaan Tuhan, rakyat, alam semesta, serat tatanan nilai, budaya dan peradaban bangsa dalam tata kelola bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Oleh karena itu, pada malam ini, Selasa 2 Juni 2020, satu hari setelah hari lahir Pancasila, kami ingin menyampaikan kepada seluruh rakyat khususnya kepada generasi milenial diseluruh tanah air, “Pasak Milenial Menggapai Negeri Adil, Makmur dan Adidaya.

Saya mengalami, kita semua juga mengalami, dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Secanggih apapun kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi (IPTEK), hari ini dalam 3 bulan terakhir tatkala negeri ini alami wabah corona telah terbukti secara alam.

Bahwa kemajuan IPTEK itu hanyalah ‘support system’ atau mendukung tata kehidupan manusia, alam beserta isinya. Tidak semuanya bisa terselesaikan dengan teknologi khususnya terkait dengan hal-hal yang mendasar dan substansional.

Dengan teralaminya selama 3 bulan terakhir sejak Maret-Juni 2020 banyak hal yang kita selami dan renungi, serta kita telah melakukan introspeksi diri. Dan pada akhir dan ujunghnya kita semuanya mengalami sebuah kesadaran utuh dan menyeluruh bahwa seluruh rakyat dan bangsa Indonesia, khususnya generasi milenial harus tumbuh dan kembali pada asal dan muasalnya.

Laksana bumi, agar manusia beserta penghuni bumi tidak oleng, maka ada ‘Pasak Bumi’ yaitu gunung-gunung yang menjadi bagian tidak terpisahakan dalam keseimbangan alam semesta.

Manusia dilahirkan memiliki sebuah asal muasal berupa naluri. Dimanapun berada dilahirkan, manusia secara otomatis mencintai tanah airnya sendiri, keluarganya, sukunya, bangsanya, serta mencintai dan bangga kepada negerinya sendiri. Itulah naluriah asal muasal manusia.

Oleh karena itu, dimanapaun kita mendapatkan sebuah pendidikan dan pengalaman, baik di dalam negeri maupun di luar negeri khususnya bagi generasi milenial di negeri ini, pemuda, mahasiswa, dan pelajar secara naluriah seyogyanya terintrospeksi, terselami, dan terfahami harus tetap cinta dan bangga kepada tanah air, bangsa dan negerinya sendiri.

Kita boleh mencari ilmu dan pengalaman, mempelajari IPTEK dimanapaun di dunia ini. Namun kita tidak boleh keluar dari akar rumput budaya dan perdabadan bangsa kita sendiri. Negeri ini memiliki budaya, peradaban dan tatanan nilai yang luhur hasil perjalanan sangat panjang dan mendalam nenek moyang leluhur kita.

Akar budaya dan peradaban itu adalah kekeluargaan dan gotong royong, bukan individual atau liberalisme. Oleha karena itu, kepada seluruh rakyat dan bangsa Indonesia yang telah mengalami sebuah kontemplasi diri selama stay at home atau berada dirumah 3 bulan terakhir khususnya bagi generasi milenial harus menempatkan ‘Pasak Diri’ bahwa akar budaya peradaban bangsa ini adalah kekeluargaan bukan individual. Oleh karena itu segala hal yang akan dijalani dan ditempuh tentunya harus kembali ke akar luhur budaya dan peradaban bangsa kita sendiri.

Mari kita semua menukil kembali apa yang disampaikan oleh para leluhur, serta para the founding father’s dan pahlawan kita. Dimanapun kita berpijak untuk merengkuh sebuah ilmu, baik IPTEK maupun ilmu agama. Kita tidak boleh larut menjadi bagian secara utuh dan menyeluruh dari tempat kita mendapatkan IPTEK dan ilmu agama.

Bung Karno serta Gus Dur pernah mengingatkan kita. “Kita boleh beragama islam tapi kita tetap rakyat dan bangsa Indonesia. Kita boleh beragama Kristen, Budha, Hindu, Konghucu, juga boleh memeluk Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME namun kita tetap sebagai rakyat dan bangsa Indonesia yang memiliki tatanan nilai, budaya dan peradaban yang luhur dan mulia. Kita dalam konteks IPTEK, serta keagamaan harus memetik kemanfaatannya untuk mewujudkan sebuah tatanan kehidupan yang adil, makmur, sejahtera secara utuh dan menyeluruh.

Asal muasal kita sebagai manusia lahir dibumi Ibu Pertiwi Nusantara. Oleh karena ‘Pasak Milenial’, pasak bagi segenap rakyat dan bangsa Indonesia yang harus kita tebalkan dan kokohkan mulai hari ini. Kita harus kembali pada tatanan nilai budaya, dan peradaban bangsa kita sendiri.

Pegangan bangsa ini ada dan luhur yang harus kita pegang dengan teguh. Kita tidak boleh larut, terenyuh dan terlena dengan tatanan nilai, budaya, dan peradaban bangsa lain dari manapun di dunia ini.

Oleh karena itu, semua rakyat dan bangsa ini khususunya generasi milenial harus mempertebal dan memperkokoh keyakinan naluriah atas keberadaan Tuhan YME secara murni dan konsekwen. Dijalani dalam kehidupan sehari hari sesuai dengan agama dan kepercayaan kita masing masing.

Namun harus tetap mengedepankan toleransi, saling menghormati, duduk sama rendah, gotong rorong, membangun sebuah kebersamaan, persatuan dan kesatuan bangsa di atas kesahajaan dan dan kejujuran.

Untuk itu, saya memohon dan mengharapkan khusunya kepada generasi milenial kita yang hari ini sangat cerdas, serta sangat kreatif dan inovatif menghadapi era revolusi industri 4./5.0. bahwa kemajuan dan perkembangan peradaban dunia, dan IPTEK harus tetap berlandaskan pada sebuah keyakinan terhadap Tuhan YME.

Harus tetap berprinsip pada tatanan nilai, budaya dan peradaban bangsa kita sendiri. Harus tetap memegang teguh landasan falsafah berbangsa kita sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu Lima Sila Pancasila.

Kita tidak boleh terlalu mudah untuk terprovokasi. Kita tidak boleh terlalu mudah untuk bisa di adu domba, dipecah belah sebagai warga negara dan warga bangsa. Oleh karena itu, seluruh rakyat khususnya generasi milenial harus terus menerus kembali ke asal muasal, harus memupuk cinta dan bangga kepada tanah air sendiri.

Memupuk persatuan dan kesatuan bangsa sehingga daya tahan untuk dipecah belah sangat kuat yang ujungnya kesatuan bangsa ini, dan Persatuan Indonesia semakin solid dan kokoh sebagai modal dasar untuk membangun negeri ini secara utuh dan menyeluruh.

Negeri ini hadir dan lahir melalui sebuah perjalanan yang sangat Panjang dan mendalam. Bahkan puluhan juta nyawa nenek moyang leluhur kita, pengorbanan tiada terhingga dihibahkan untuk menghantarkan kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Negeri ini hadir dan lahir bukan tatkala ada kemajuan IPTEK yang sangat pesat hari ini, yang terkesan dan terlihat secara nyata seakan-akan apa yang terjadi dimasa lalu yaitu perjalanan bangsa yang sangat panjang dan mendalam terlupakan sama sekali.

“Suatu bangsa sebesar apapun bangsa itu. Juga bangsa kita sebagai bangsa terbesar di dunia akan menjelma menjadi bangsa kerdil bahkan hanya tercatat dalam peradaban manusia tatkala bangsa itu melupakan sejarah, menanggalkan tatanan nilai, budaya dan peradaban bangsa peninggalan nenek moyang dan leluhur bangsanya. Suatu bangsa akan besar bahkan menjadi terbesar di dunia tatkala menghargai, menghormati, dan menjadikan suritauladan untuk diwujudkan ke depan lebih luas dan lebih besar atas jasa jasa para leuhur, pahlawan bangsa, serta merwat, melestarikan dan mewujudkan tatanan nilai, budaya dan peradaban bangsanya sendiri”.

Dalam realitas yang hari ini kita hadapi, adanya sebuah fakta didepan kita. Bahwa teknologi dan informasi sangat dibutuhkan dalam rangka mewujudkan tatanan kehidupan yang sejahtera sejahtera secara berkeadilan. Namun, IPTEK sepesat apapun kemajuannya tidak boleh mengendalikan tata kehidupan. Karena IPTEK itu hanyalah support system atau daya dukung kehidupan.

Nasib dan masa depan negeri ini, baik dan buruknya bangsa dan negeri ini ada dipundak kalian generasi milenal Indonesia. Wahai para pemuda, mahasiswa, pelajar dan siswa diseluruh tanah air, ditangan dan pundakmu-lah nasib dan masa depan negeri ini dipertaruhkan.

Kalian hari ini telah berada pada zaman dan era milenial, di era teknologi informasi dan komunikasi. Kalian harus membekali diri dengan sebuah kercerdikan dan kecerdasaan, super kreatif dan inovatif untuk mampu handal dan unggul menghadapi sebuah tantangan global yang sangat kompleks dan sarat akan sentuhan IPTEK.

Tanpa adanya pasak keyakinan kepada Tuhan YME yang dijalankan secara konsekwen dalam menapaki kaki kehidupan. Tanpa adanya sebuah pasak cinta dan bangga terhadap tanah air, bangsa dan negerinya sendiri. Tanpa adanya pasak menghargai, merawat, melestarikan dan mewujudkan tatanan nilai, budaya dan peradaban bangsa kita sendiri.

Tanpa adanya pasak memegang teguh landasan falsafah bangsa kita Pancasila, maka kreatifitas dan iniovasi, kecerdasan dan kecerdikan sebesar dan secanggih apapun tidak ada manfaatnya dalam tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Tata moral, tata etika, dan tatanan nilai harus menjadi fondasi dasar era milenial hari ini dan ke depan. Di era revolusi indistri 4.0/5.0 Pasak Milenialitas ini harus kuat dan teguh.

Karena secara alamiah akan terjadi proses dehumanisai disetiap relung kehidupan dan memberikan impact atau dampak yang tidak baik, tidak sesuai dengan harapan kita. Resikonya besar atas terjadinya kesenjangan sosial ekonomi yang semakin melebar dan ketidakadilan yang semakin mendalam.

Untuk itu, kepada generasi milenial bangsa, pemuda, mahasiswa, pelajar dan siswa diseluruh tanah air, “Jadilah generasi penerus bangsa yang selalu cinta kepada tanah air sendiri. Yang selalu bangga kepada negeri dan bangsanya sendiri. Yang selalu cinta dan bangga kepada produk rakyat dan bangsa sendiri. Yang selalu mendarma baktikan segenap apa yang dilakukan dalam meniti kehidupan ke pangkuan Ibu Pertiwi Tercinta”.

Oleh karena itu, dengan segala hormat dan rendah hati, sebagai rakyat, bangsa dan warga negara, serta sebagai Presiden Gumregah Nusantara, kami mohon kepada segenap generasi milenial Indonesia diseluruh tanah air untuk menjalani sebuah kebangkitan, memperteguh dan memperkuat optimisme.

Kebangkitan untuk merengkuh sebuah kehidupan yang lebih baik, aman damai, sentosa, dan sejahtera secara berkeadilan. Kebangkitan untuk merengkuh sebuah keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, bangsa, nusa dan segenap mahluk yang ada di bumi nusantara. Kita mampu asal Mau!!! Optimis mampu mewujudkan kejayaan nusantara kedua.

Yaitu sebuah tatanan negeri yang adem, ayem, tentrem, kertorahardjo–aman, damai, sentosa, adil, makmur dan adidaya. Sekali lagi, dengan segala hormat dan rendah hati, selaku Presiden Gumregah Nusantara, mari segenap generasi milenial Indonesia dimanapun berada.

Mari kita bangun negeri ini di atas keyakinan ketuhanan kita untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita bangun negeri di atas landasan falsafah bangsa kita Pancasila. Di atas tatanan nilai, budaya dan peradaban bangsa kita sendiri.

Di atas rasa cinta dan bangsa kepada tanah air, bangsa dan negeri kita sendiri. Di atas rasa cinta dan bangga kepada produk-produk rakyat, bangsa dan negara sendiri.

Salam kebangkitan, sekali optimis tetap optimis kepada seluruh dan segenap rakyat dan bangsa Indonesia khususnya kepad generasi milenial, pemuda mahasiswa pelajar dan siswa untuk merengkuh sebuah tatanan kehidupan yang lebih sejahtera, adil, mamkur dan adidaya.

Edt: Redaksi (AN)