PBB Sebut 50 Orang Tewas Dalam Sebulan Kudeta Myanmar

Foto: Google

“Hari ini adalah hari paling berdarah sejak kudeta terjadi pada 1 Februari lalu. Kami mencatat hari ini, hanya hari ini saja, 38 orang sudah tewas.”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan lebih dari 50 orang tewas akibat bentrokan antara pedemo anti-junta militer dan aparat sejak kudeta Myanmar berlangsung pada 1 Februari lalu.

Utusan Khusus PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener, mengatakan sedikitnya 38 orang tewas dalam demonstrasi berdarah yang terjadi di beberapa kota di negara Asia Tenggara tersebut pada Rabu (3/3).

“Hari ini adalah hari paling berdarah sejak kudeta terjadi pada 1 Februari lalu. Kami mencatat hari ini, hanya hari ini saja, 38 orang sudah tewas. Sekarang kami mencatat ada lebih dari 50 orang tewas sejak kudeta berlangsung dan banyak sekali yang terluka,” kata Burgener di New York.

Burgener menuturkan Dewan Keamanan PBB dijadwalkan akan menggelar rapat tertutup membahas situasi di Myanmar pada Jumat pekan ini.

Protes anti-junta militer memang terus meluas di Myanmar. Gempuran aparat keamanan juga semakin represif demi membendung pemberontakan sipil tersebut.

Saksi mata menuturkan kepada Reuters bahwa aparat keamanan tak jarang melontarkan tembakan peluru tajam ke arah pedemo.

Padahal, junta militer Myanmar terus mendapat tekanan hingga sanksi dari berbagai negara, termasuk seruan dari negara ASEAN untuk menghentikan kekerasan terhadap para demonstran.

Di Kota Yangon, saksi mata mengatakan sedikitnya delapan orang tewas saat bentrok antara pedemo-aparat terjadi. Tujuh pedemo dikabarkan tewas ketika aparat melepaskan tembakan di utara Yangon pada Rabu sore.

“Saya mendengar begitu banyak tembakan terus menerus. Saya berbaring di tanah, mereka banyak menembak,” kata pengunjuk rasa Kaung Pyae Sone Tun, 23, kepada Reuters.

“Ini mengerikan, ini pembantaian. Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan situasi dan perasaan kami,” kata aktivis Myanmar, Thinzar Shunlei Yi.

Sementara itu, enam orang dilaporkan tewas dalam bentrokan massa pedemo dan aparat di pusat Kota Monywa. Beberapa pedemo juga tewas di Mandalay, utara Hpakant, dan Kota Myingyan.

Sebuah lembaga kemanusiaan di Myanmar menyebutkan bahwa korban tewas termasuk empat anak-anak.

Save the Children mengatakan dalam sebuah pernyataan, empat anak termasuk di antara puluhan orang yang tewas dalam bentrokan. Salah satunya merupakan seorang bocah lelaki berusia 14 tahun yang dilaporkan Radio Free Asia ditembak mati oleh seorang tentara dalam konvoi truk militer yang lewat.

Aparat lalu membawa jasad anak itu ke truk dan meninggalkan tempat kejadian, menurut laporan itu. (GI)

Edt: Redaksi (AN)